Bagian X — Tawakal atau Pasrah? - Pelajaran Al-Hikam tentang Ikhtiar, Berserah Diri, dan Mempercayakan Hasil kepada Allah
SULUK DALAM II
Bagian X — Tawakal atau Pasrah? -
Ada kalimat yang sering kita dengar:
“Saya tawakal saja.”
Kalimat itu bisa sangat indah.
Tetapi kadang-kadang kata tawakal digunakan untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya berbeda:
malas berusaha,
takut mengambil keputusan,
menyerah sebelum mencoba,
atau tidak mau bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri.
Padahal tawakal bukan berarti berhenti bergerak.
Tawakal juga bukan berarti duduk diam sambil menunggu pertolongan datang.
Sebaliknya, seseorang dapat bekerja keras, merencanakan dengan matang, mencari ilmu, meminta nasihat, dan menggunakan seluruh sebab yang tersedia—namun tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Inilah keseimbangan yang perlu dipahami.
Hikmah Al-Hikam
Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
Artinya:
“Istirahatkan dirimu dari terlalu mengatur segala sesuatu, karena sesuatu yang telah dilakukan oleh selainmu untukmu, jangan engkau mengambil alih untuk dirimu sendiri.”
Hikmah ini bukan ajakan untuk menjadi pasif.
Yang disentuh oleh Ibn ‘Aṭā’illāh adalah kelelahan batin karena merasa harus mengendalikan segala sesuatu.
Kita sering mengira bahwa ketenangan akan datang setelah semua keadaan sesuai dengan rencana kita.
Padahal kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Kita bisa merencanakan.
Tetapi tidak bisa menjamin hasil.
Kita bisa berusaha.
Tetapi tidak bisa menentukan seluruh akibat.
Kita bisa menjaga.
Tetapi tidak bisa menguasai semua perubahan.
Maka suluk mengajarkan:
kerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabmu, lalu serahkan apa yang berada di luar kuasamu kepada Allah.
Bab Suluk: Melepaskan Keinginan Mengendalikan Segalanya
Dalam seri ini, kita dapat menyebutnya sebagai Bab Suluk tentang tawakal dan pelepasan kendali batin.
Ada perbedaan antara:
ikhtiar dan obsesi mengendalikan hasil.
Ikhtiar berkata:
“Aku akan melakukan yang terbaik.”
Obsesi berkata:
“Semuanya harus terjadi persis seperti yang kuinginkan.”
Ikhtiar masih bisa menerima kenyataan.
Obsesi akan terus berperang dengan kenyataan.
Ikhtiar menggunakan akal.
Obsesi membuat pikiran tidak pernah berhenti.
Ikhtiar bergerak.
Obsesi terus mencemaskan hasil bahkan ketika usaha telah selesai.
Tawakal Bukan Berarti Tidak Membuat Rencana
Ini perlu ditegaskan.
Ada anggapan:
“Kalau benar-benar tawakal, tidak perlu membuat rencana.”
Tidak demikian.
Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menggunakan sebab.
Dalam kehidupan sehari-hari kita juga diperintahkan untuk bertanggung jawab.
Jika ingin membangun usaha, kita perlu menghitung.
Jika ingin menempuh perjalanan, kita perlu mempersiapkan bekal.
Jika ingin belajar, kita perlu membaca dan berlatih.
Jika sakit, kita perlu mencari pengobatan.
Jika mempunyai tanggung jawab keluarga, kita perlu bekerja dan mengelolanya.
Semua itu adalah bentuk ikhtiar.
Tawakal hadir bukan untuk menggantikan ikhtiar.
Tawakal hadir untuk menata hati setelah ikhtiar dilakukan.
Masalah Kita Sering Bukan Kurang Berusaha
Kadang kita sudah melakukan semua yang mampu kita lakukan.
Tetapi hati masih terus bekerja.
Kita sudah mengirim lamaran.
Tetapi setiap lima menit memeriksa pesan.
Sudah menyelesaikan pekerjaan.
Tetapi terus takut terhadap kemungkinan buruk.
Sudah berbicara dengan seseorang.
Tetapi terus mengulang percakapan di kepala:
“Seharusnya tadi aku berkata begini.”
“Bagaimana kalau dia salah paham?”
“Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan?”
Di sinilah kita perlu belajar membedakan:
tanggung jawab dengan kecemasan.
Tanggung jawab membutuhkan tindakan.
Kecemasan sering kali hanya mengulang sesuatu yang sudah tidak dapat kita kendalikan.
Setelah Ikhtiar, Ada Wilayah yang Bukan Milik Kita
Misalnya kita sedang mengikuti sebuah seleksi pekerjaan.
Yang menjadi bagian kita:
- mempersiapkan diri,
- memperbaiki kemampuan,
- membuat dokumen yang baik,
- datang tepat waktu,
- menjawab dengan jujur,
- dan melakukan yang terbaik.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, keputusan akhir bukan lagi berada sepenuhnya di tangan kita.
Kalau diterima:
bersyukur.
Kalau belum diterima:
evaluasi, belajar, lalu mencoba kembali.
Inilah salah satu bentuk tawakal.
Bukan:
“Aku tidak perlu berusaha.”
Tetapi:
“Aku akan berusaha tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya sumber ketenangan.”
Tawakal Mengubah Cara Kita Memandang Kegagalan
Orang yang tidak mengenal tawakal sering berpikir:
“Kalau rencanaku gagal, berarti semuanya sia-sia.”
Orang yang belajar tawakal dapat berkata:
“Aku telah melakukan bagianku. Sekarang aku perlu melihat apa yang dapat kupelajari dari hasil ini.”
Perbedaannya sangat besar.
Kegagalan tidak otomatis menjadi tanda bahwa usaha kita tidak bernilai.
Kadang hasil tidak sesuai keinginan, tetapi proses tetap membentuk kemampuan.
Kadang sebuah pintu tertutup dan memaksa kita mencari jalan lain.
Kadang sebuah rencana berubah karena keadaan yang memang berada di luar kendali kita.
Kita tidak selalu mengetahui hikmah sebuah kejadian saat itu juga.
Karena itu, tawakal tidak selalu menghasilkan jawaban.
Sering kali tawakal menghasilkan ketenangan untuk tetap berjalan meskipun jawaban belum terlihat.
Hubungannya dengan Bagian Sebelumnya
Bagian V membahas:
jangan menggantungkan hati kepada manusia.
Bagian VI:
jangan sampai nikmat menjadi hijab.
Bagian VII:
jangan sampai kehilangan membuat kita kehilangan arah.
Bagian VIII:
kenali hawa nafsu yang mengendalikan diri.
Bagian IX:
jangan merasa sudah sampai.
Sekarang Bagian X menyatukan semuanya.
Tawakal adalah latihan untuk berkata:
“Aku menggunakan sebab, tetapi aku tidak menyembah sebab.”
Aku bekerja, tetapi rezeki tidak semata-mata berada di tanganku.
Aku berobat, tetapi kesembuhan tidak sepenuhnya berada dalam kuasaku.
Aku mendidik anak, tetapi aku tidak dapat mengendalikan seluruh masa depannya.
Aku merencanakan kehidupan, tetapi aku tidak menguasai seluruh kejadian yang akan datang.
Maka manusia tetap berusaha.
Tetapi hati belajar berserah.
Lahir dan Batin
Secara lahir:
Kita bekerja.
Belajar.
Merencanakan.
Menghitung risiko.
Meminta nasihat.
Mencari bantuan.
Mengambil keputusan.
Secara batin:
Kita tidak menganggap diri sebagai penguasa mutlak atas hasil.
Kita menerima bahwa ada wilayah kehidupan yang berada di luar kemampuan kita.
Di situlah tawakal bekerja.
Lahir bergerak.
Batin berserah.
Pasrah dan Tawakal Tidak Sama
Ini perbedaan yang sangat penting.
Pasrah yang keliru:
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, jadi biarkan saja.”
Ini bisa menjadi alasan untuk berhenti bertanggung jawab.
Tawakal:
“Saya akan melakukan apa yang memang menjadi kewajiban saya, tetapi saya tidak akan menganggap hasil berada sepenuhnya dalam kendali saya.”
Pasrah membuat kita berhenti.
Tawakal membuat kita bergerak tanpa diperbudak hasil.
Kapan Kita Terlalu Banyak Mengatur?
Coba perhatikan diri sendiri.
Apakah kita sering merasa harus mengetahui semua yang akan terjadi?
Apakah kita sulit menerima perubahan rencana?
Apakah kita sangat gelisah ketika orang lain tidak mengikuti keinginan kita?
Apakah kita terus memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak dapat kita ubah?
Apakah kita sulit tidur karena memikirkan kemungkinan masa depan?
Jika iya, mungkin bukan usaha yang perlu ditambah.
Mungkin yang perlu dipelajari adalah:
melepaskan sebagian kendali yang memang bukan milik kita.
Muhasabah
Hari ini tanyakan:
1. Apa yang sedang berusaha saya kendalikan padahal sebenarnya berada di luar kemampuan saya?
2. Apa yang menjadi kewajiban saya dan benar-benar harus saya kerjakan?
3. Setelah melakukan usaha, apakah saya mampu menyerahkan hasil kepada Allah?
4. Ketika hasil tidak sesuai keinginan, apakah saya langsung menganggap semuanya gagal?
5. Apakah saya menggunakan kata “tawakal” untuk membenarkan kemalasan?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Sebab tawakal yang benar tidak menghilangkan tanggung jawab.
Latihan Suluk Hari Ini
Ambil satu persoalan yang sedang memenuhi pikiran.
Kemudian buat dua kolom dalam hati.
Kolom pertama:
“Ini bagian saya.”
Masukkan:
- tindakan yang harus dilakukan,
- keputusan yang perlu dibuat,
- kewajiban yang harus ditunaikan,
- informasi yang perlu dicari,
- usaha yang masih mungkin dilakukan.
Kerjakan.
Kolom kedua:
“Ini bukan bagian saya.”
Masukkan:
- keputusan orang lain,
- pendapat orang lain,
- masa depan yang belum terjadi,
- hasil akhir yang belum diketahui,
- hal-hal yang memang berada di luar kemampuan kita.
Setelah itu katakan:
“Ya Allah, aku akan mengerjakan apa yang menjadi bagianku. Untuk apa yang berada di luar kemampuanku, aku serahkan kepada-Mu.”
Bukan berarti kita berhenti peduli.
Kita hanya berhenti berpura-pura menjadi penguasa atas sesuatu yang memang bukan kuasa kita.
Penutup
Tawakal bukan duduk diam.
Tawakal bukan meninggalkan sebab.
Tawakal bukan menolak perencanaan.
Tawakal bukan alasan untuk malas.
Tawakal adalah menempatkan ikhtiar dan hasil pada tempatnya.
Kita bekerja sebaik mungkin.
Kita berdoa.
Kita meminta nasihat.
Kita memperbaiki kesalahan.
Kita menempuh jalan yang halal dan benar.
Kemudian kita belajar mengatakan:
“Ya Allah, aku telah berusaha sejauh yang aku mampu. Apa pun hasilnya, jangan biarkan hasil itu menjauhkan hatiku dari-Mu.”
Sebab salah satu bentuk kelelahan manusia adalah keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak pernah diberikan kepadanya untuk dikendalikan.
Kita hanya diminta untuk berusaha dengan benar.
Sedangkan hasil akhirnya bukan milik kita.
Maka:
Ikhtiar membuat kita bergerak.
Tawakal membuat kita tidak hancur ketika hasilnya berbeda dari harapan.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk kebebasan batin:
bekerja sungguh-sungguh tanpa merasa harus menguasai seluruh hasil kehidupan.
SULUK DALAM II — Bagian X
Tawakal atau Pasrah?
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #AlHikam #IbnAthaillah #Tawakal #Ikhtiar #Pasrah #Tasawuf #Suluk #Muhasabah #KetenanganHati #TazkiyatunNafs

Tidak ada komentar untuk "Bagian X — Tawakal atau Pasrah? - Pelajaran Al-Hikam tentang Ikhtiar, Berserah Diri, dan Mempercayakan Hasil kepada Allah "
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."