Huruf Jawa (Aksara Jawa) atau yang dikenal juga sebagai Aksara Hanacaraka
Huruf Jawa (Aksara Jawa) atau yang dikenal juga sebagai Aksara Hanacaraka memiliki dua sudut pandang asal-usul, yaitu melalui legenda masyarakat (mitologi) dan sejarah ilmu bahasa (linguistik).
1. Asal-Usul Secara Legenda (Mitos Aji Saka)
Legenda paling populer menyebutkan bahwa Aksara Jawa diciptakan oleh Aji Saka, seorang raja pendatang dari tanah Hindia yang bijaksana.
Kisah ini berawal dari dua pengawal setia Aji Saka bernama Dora dan Sembada:
Saat pergi mengembara, Aji Saka menitipkan keris pusakanya kepada Sembada di Pulau Majeti dengan pesan: pusaka tersebut tidak boleh diberikan kepada siapa pun selain Aji Saka sendiri.
Di tempat tujuan (Kerajaan Medang Kamulan), Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil keris tersebut dari Sembada.
Karena sama-sama memegang teguh amanat sang tuan, Dora dan Sembada terlibat pertarungan sengit hingga keduanya tewas bersamaan.
Untuk mengenang kesetiaan dan kepatuhan kedua pengawalnya, Aji Saka menciptakan 20 bait huruf yang disusun menjadi kalimat bertuah (Aksara Swarabyanjana):
Ha-Na-Ca-Ra-Ka (Ono caraka): Ada utusan / caraka.
Da-Ta-Sa-Wa-La (Data sawala): Mereka saling berselisih / bertengkar.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya (Padha jayanya): Sama-sama kuat / sakti.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga (Maga bathanga): Sama-sama menjadi mayat.
2. Asal-Usul Secara Sejarah dan Linguistik
Secara ilmiah dan bukti sejarah, Aksara Jawa merupakan hasil evolusi tulisan yang berlangsung selama ratusan tahun melalui proses akulturasi budaya:
Induk Aksara (Aksara Brahmi & Pallawa): Aksara Jawa tergolong dalam keluarga aksara Abugida yang akar paling tuanya berasal dari Aksara Brahmi di India. Aksara ini kemudian berkembang menjadi Aksara Pallawa (India Selatan) yang masuk ke Nusantara seiring berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha sekitar abad ke-4 hingga ke-8 Masehi.
Aksara Kawi (Jawa Kuno): Di Nusantara, Aksara Pallawa bertransformasi menjadi Aksara Kawi (Jawa Kuno). Aksara Kawi ini digunakan dalam prasasti-prasasti kuno, seperti Prasasti Sukabumi (804 M) dan relief-relief candi.
Perkembangan Aksara Jawa Baru: Memasuki era Kesultanan Mataram Islam (abad ke-16 hingga ke-17), Aksara Kawi mengalami penyederhanaan bentuk serta penyesuaian tata bahasa menjadi Aksara Jawa Baru (Aksara Hanacaraka) seperti yang kita kenal sekarang.
Gaya penulisan Aksara Jawa Baru ini dibakukan secara resmi oleh para pujangga keraton (seperti R.Ng.
Ranggawarsita) dan terus digunakan dalam penulisan manuskrip, serat, serta babad hingga era modern.#tasawufjawa #kejawenislam #hurufjawa #kunalfa #kangpangudar

Tidak ada komentar untuk " Huruf Jawa (Aksara Jawa) atau yang dikenal juga sebagai Aksara Hanacaraka"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."