Jangan Menunggu Kehilangan untuk Bersyukur: Pelajaran Al-Hikam tentang Nikmat dan Kehidupan

 

Bocor

SULUK DALAM II-Bagian XIII — 

Ada orang yang terlihat tenang ketika memiliki banyak hal.

Tetapi ketenangan itu ternyata bergantung pada apa yang dimilikinya.

Selama uang ada, ia tenang.
Selama jabatan ada, ia percaya diri.
Selama usaha berjalan, ia merasa aman.
Selama orang yang dicintainya berada di sampingnya, ia merasa lengkap.

Lalu datang kehilangan.

Usaha menurun.
Harta berkurang.
Jabatan berubah.
Orang yang dicintai pergi.

Tiba-tiba seluruh ketenangan ikut runtuh.

Di sinilah kita menemukan pertanyaan penting dalam perjalanan suluk:

Apakah kita menikmati nikmat, atau justru diperbudak oleh nikmat?

Ibn ‘Aṭā’illāh memberikan peringatan yang sangat dalam:

Hikmah

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَ النِّعَمِ بِوُجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فَقْدَانِهَا

Artinya:

“Barang siapa tidak mengetahui nilai nikmat ketika memilikinya, ia akan mengetahuinya ketika nikmat itu hilang.”


Kita Sering Baru Menghargai Setelah Kehilangan

Kita baru sadar sehat itu nikmat ketika sakit.

Baru menghargai waktu ketika kesibukan membuat kita tidak punya waktu.

Baru menyadari pentingnya keluarga ketika jarak memisahkan.

Baru menghargai pekerjaan ketika kehilangan penghasilan.

Baru merasakan nikmat ketenangan ketika kehidupan dipenuhi persoalan.

Padahal nikmat sebenarnya sudah hadir jauh sebelum kehilangan.

Masalahnya bukan nikmat itu tidak ada.

Masalahnya adalah hati kita terbiasa dengannya.

Karena terlalu sering menerima, kita berhenti menyadari.


Nikmat yang Terlalu Biasa

Ada nikmat yang begitu dekat sehingga tidak lagi terlihat sebagai nikmat.

Kita bangun pagi.

Bisa melihat.

Bisa berjalan.

Bisa berbicara.

Masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Masih bisa meminta maaf.

Masih bisa beribadah.

Masih bisa belajar.

Masih bisa memeluk orang yang kita sayangi.

Semua itu tampak biasa.

Tetapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar biasa.

Yang kita sebut “biasa” sering kali adalah nikmat yang sudah terlalu lama kita nikmati.


Kehilangan Tidak Selalu Berarti Hukuman

Ini bagian yang sangat penting.

Hikmah ini tidak mengajarkan bahwa setiap kehilangan adalah hukuman Allah.

Kehilangan bisa terjadi karena banyak sebab.

Ada hukum kehidupan.

Ada konsekuensi keputusan manusia.

Ada perubahan keadaan.

Ada proses alamiah kehidupan.

Ada pula hal-hal yang memang tidak kita mengerti hikmahnya.

Karena itu, seorang sālik tidak tergesa-gesa mengatakan:

“Saya kehilangan sesuatu berarti Allah sedang menghukum saya.”

Tidak selalu demikian.

Yang diajarkan hikmah ini adalah:

Ketika kehilangan terjadi, jangan biarkan kehilangan itu berlalu tanpa membuat kita belajar tentang nilai nikmat.

Dengan demikian, kehilangan dapat menjadi ruang muhasabah.

Bukan alasan untuk menghakimi diri.


Hubungannya dengan Bagian XII

Pada bagian sebelumnya kita membahas cinta dan keterikatan.

Sekarang pembahasannya menjadi lebih dalam.

Mengapa kehilangan begitu menyakitkan?

Salah satu jawabannya:

karena kita bukan hanya kehilangan sesuatu, tetapi terkadang kehilangan sesuatu yang telah kita jadikan tempat bergantung.

Di sinilah dua hikmah tersebut saling berhubungan.

Cinta yang berlebihan dapat membuat hati terikat.

Dan ketika yang mengikat itu hilang, hati merasa runtuh.

Maka suluk mengajarkan bukan agar kita tidak mencintai.

Tetapi agar kita belajar:

mencintai tanpa menggantungkan seluruh keberadaan kita kepada yang kita cintai.


Nikmat Seharusnya Mengantarkan kepada Syukur

Nikmat bukan sekadar sesuatu yang membuat kita senang.

Nikmat seharusnya melahirkan kesadaran.

Jika diberi kesehatan, gunakan untuk kebaikan.

Jika diberi ilmu, gunakan untuk memberi manfaat.

Jika diberi rezeki, jangan hanya dinikmati sendiri.

Jika diberi keluarga, rawat dengan kasih sayang.

Jika diberi waktu, jangan seluruhnya dihabiskan dalam kelalaian.

Jika diberi kesempatan memperbaiki diri, jangan ditunda.

Dengan demikian, syukur bukan hanya ucapan:

“Alhamdulillah.”

Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan kebaikannya.


Ketika Nikmat Menjadi Hijab

Ada keadaan yang lebih berbahaya daripada kehilangan.

Yaitu memiliki tetapi tidak menyadari.

Seseorang memiliki banyak rezeki tetapi semakin jauh dari rasa syukur.

Memiliki ilmu tetapi semakin sombong.

Memiliki kedudukan tetapi semakin merendahkan orang lain.

Memiliki waktu tetapi tidak pernah menggunakannya untuk memperbaiki diri.

Memiliki keluarga tetapi tidak pernah menghargainya.

Di sini nikmat berubah menjadi hijab.

Bukan karena nikmat itu buruk.

Tetapi karena cara hati memperlakukannya yang keliru.


Lahir dan Batin

Makna lahir

Secara lahir, hikmah ini mengajarkan kita untuk menghargai apa yang sedang dimiliki.

Jangan menunggu kehilangan untuk mulai bersyukur.

Rawat kesehatan sebelum sakit.

Rawat hubungan sebelum renggang.

Jaga amanah sebelum hilang.

Gunakan waktu sebelum habis.

Dan lakukan kebaikan ketika kesempatan masih terbuka.

Makna batin

Secara batin, kita belajar bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah titipan.

Kita boleh menikmati.

Kita boleh mencintai.

Kita boleh menjaga.

Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa semua itu berada dalam keadaan berubah.

Hari ini ada.

Besok mungkin berkurang.

Hari ini dekat.

Besok mungkin jauh.

Hari ini sehat.

Besok mungkin sakit.

Kesadaran terhadap kefanaan bukan untuk membuat kita takut hidup.

Justru agar kita lebih sadar ketika hidup.


Cara Melatih Syukur Sebelum Kehilangan

Tidak perlu menunggu musibah.

Setiap hari kita bisa melakukan latihan sederhana.

1. Sebutkan nikmat yang sering dianggap biasa

Bukan hanya nikmat besar.

Justru perhatikan yang kecil.

Udara yang dihirup.

Tubuh yang masih bergerak.

Orang yang masih bisa ditemui.

Waktu yang masih tersisa.

Kesempatan untuk memperbaiki diri.

2. Jangan membandingkan terus-menerus

Perbandingan yang tidak sehat membuat nikmat yang kita miliki terlihat kecil.

Kita melihat milik orang lain.

Lalu lupa melihat apa yang telah Allah berikan kepada kita.

3. Gunakan nikmat untuk kebaikan

Ini bentuk syukur yang lebih nyata.

Harta → berbagi.

Ilmu → mengajar.

Tenaga → membantu.

Waktu → berbuat baik.

Kedudukan → melindungi yang lemah.

4. Sadari bahwa nikmat tidak harus selamanya

Kesadaran ini bukan pesimisme.

Ini adalah adab.

Karena ketika kita tahu sesuatu tidak selamanya berada di tangan kita, kita akan lebih menghargainya.


Muhasabah

Cobalah tanyakan kepada diri sendiri:

Apa yang sedang saya miliki tetapi jarang saya syukuri?

Siapa yang masih ada di dekat saya tetapi belum cukup saya hargai?

Nikmat apa yang selama ini saya gunakan tanpa pernah memikirkan tanggung jawabnya?

Jika nikmat itu berkurang besok, apakah saya akan menyesal karena hari ini tidak menjaganya dengan baik?

Dan pertanyaan yang paling dalam:

Apakah saya mencintai nikmatnya, atau mengenal Sang Pemberi nikmat melalui nikmat tersebut?


Penutup

Kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Tidak perlu menunggu sakit untuk menghargai sehat.

Tidak perlu menunggu seseorang pergi untuk mengatakan bahwa ia berharga.

Tidak perlu menunggu rezeki berkurang untuk belajar bersyukur.

Tidak perlu menunggu usia tua untuk menyadari betapa mahalnya waktu.

Sebab orang yang belajar melihat nikmat ketika nikmat itu masih berada di tangannya, tidak harus menunggu kehilangan untuk belajar menghargainya.

Maka setiap pagi, sebelum meminta sesuatu yang belum kita miliki, barangkali ada baiknya kita melihat kembali apa yang sudah ada.

Karena bisa jadi,

yang selama ini kita cari ternyata sudah lama Allah titipkan kepada kita.

Hanya saja hati kita terlalu sibuk mengejar yang belum ada,

hingga lupa mensyukuri yang sudah ada.

Dan suluk mengajarkan:

Nikmat bukan sekadar sesuatu yang diterima tangan.
Nikmat adalah sesuatu yang harus dikenali hati.

Hashtag:

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam
#alhikam #ibnathaillah #tasawuf #suluk #hikmah #muhasabah #syukur #nikmat #kehilangan #renungandiri #kehidupanseharihari

Tidak ada komentar untuk "Jangan Menunggu Kehilangan untuk Bersyukur: Pelajaran Al-Hikam tentang Nikmat dan Kehidupan"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: