Ketika Amal Membuat Kita Ujub: Pelajaran Al-Hikam tentang Bahaya Kesombongan dalam Ibadah

 

suluk dan ujub

SULUK DALAM II

Bagian III — Ketika Amal Membuat Kita Ujub

Ada penyakit hati yang sangat halus.

Ia tidak datang ketika kita meninggalkan ibadah.

Justru ia bisa datang ketika kita sedang rajin beribadah.

Kita mulai merasa lebih dekat kepada Allah.

Merasa lebih baik daripada orang lain.

Merasa lebih bersih.

Merasa lebih memahami agama.

Merasa amal kita sudah cukup banyak.

Dan tanpa sadar, sesuatu yang semula menjadi jalan mendekat kepada Allah berubah menjadi alasan untuk mengagumi diri sendiri.

Inilah salah satu jebakan paling halus dalam perjalanan suluk:

amal bertambah, tetapi rasa sebagai hamba justru berkurang.


 Hikmah Al-Hikam

Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:

مِنْ عَلَامَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ، وَالتَّكَاسُلُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ

Artinya:

“Di antara tanda mengikuti hawa nafsu adalah bersegera melakukan berbagai amal kebaikan yang sunnah, tetapi malas menunaikan kewajiban.”

Hikmah ini mengandung teguran yang sangat tajam.

Sebab tidak semua kesibukan dalam ibadah otomatis menunjukkan bahwa seseorang sedang mengikuti jalan yang benar.

Kadang nafsu pun dapat memakai pakaian ibadah.


 Amal yang Disukai Nafsu

Biasanya kita mengira hawa nafsu hanya mendorong manusia kepada maksiat.

Padahal ada bentuk yang lebih halus.

Nafsu dapat membuat seseorang:

  • senang melakukan amal yang dipuji,
  • senang terlihat rajin beribadah,
  • senang berbicara tentang spiritualitas,
  • senang melakukan amalan tambahan,
  • tetapi mengabaikan kewajiban yang tidak menarik baginya.

Mengapa?

Karena ada amal yang memberi rasa bangga kepada ego, sementara ada kewajiban yang justru menuntut kita merendahkan ego.

Contohnya sederhana.

Seseorang senang melakukan ibadah sunnah, tetapi masih mudah menyakiti orang lain.

Senang berbicara tentang zuhud, tetapi sulit melepaskan keserakahan.

Senang membaca kitab tasawuf, tetapi tidak mau menerima nasihat.

Senang berbicara tentang ikhlas, tetapi sangat terluka ketika tidak dihargai.

Di sinilah kita harus berhenti dan bertanya:

“Apakah aku sedang beribadah kepada Allah, atau sedang membangun citra diriku sebagai orang yang beribadah?”


 BAB SULUK: MEMBEDAKAN IBADAH DAN EGO

Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sedang meremehkan amal-amal sunnah.

Amal sunnah tetap merupakan kebaikan.

Yang dikritik adalah ketidakseimbangan hati:

mengejar sesuatu yang tidak wajib sambil meninggalkan sesuatu yang wajib.

Karena itu suluk bukan perlombaan:

“Siapa yang amalnya paling banyak?”

Tetapi lebih dahulu:

“Apakah aku sudah menunaikan apa yang menjadi kewajibanku?”

Ini berlaku dalam banyak wilayah kehidupan.

Kewajiban kepada Allah.

Kewajiban kepada keluarga.

Kewajiban kepada sesama.

Amanah pekerjaan.

Menjaga lisan.

Menjaga hak orang lain.

Menunaikan janji.

Menghindari kezaliman.

Jangan sampai seseorang sibuk mencari pengalaman spiritual yang tinggi tetapi masih meremehkan kewajiban yang sederhana.


 Ketika Amal Menjadi Identitas

Ada titik ketika seseorang tidak lagi sekadar melakukan amal.

Ia mulai membangun identitas:

“Aku orang yang rajin ibadah.”

“Aku orang yang ahli zikir.”

“Aku orang yang memahami tasawuf.”

“Aku lebih sadar daripada mereka.”

Di sinilah bahaya mulai muncul.

Sebab ketika identitas itu disentuh, ego merasa terancam.

Kemudian muncul:

tersinggung ketika dikritik,

marah ketika tidak dihormati,

kecewa ketika amal tidak diperhatikan,

atau bahkan

memandang rendah orang yang amalnya berbeda.

Padahal tujuan ibadah adalah membawa manusia kepada kehambaan.

Bukan membangun kedudukan ego.


 Ujub Itu Tidak Selalu Berbunyi

Ujub tidak selalu berupa perkataan:

“Aku hebat.”

Kadang ia sangat diam.

Ia hanya muncul sebagai perasaan:

“Untung aku tidak seperti mereka.”

Kalimat itu terlihat sederhana.

Tetapi hati-hati.

Karena mungkin saat itu kita sedang memandang orang lain dari posisi yang lebih tinggi.

Padahal kita tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan orang tersebut.

Seseorang yang hari ini tampak jauh dari Allah bisa saja esok menjadi jauh lebih dekat.

Dan seseorang yang hari ini merasa sangat dekat bisa saja tergelincir.

Karena itu seorang salik tidak terlalu sibuk menghitung kedudukan dirinya di hadapan manusia.

Ia sibuk memperbaiki kejujuran hatinya di hadapan Allah.


 Amal dan Rasa Berjasa

Ada satu penyakit lain yang berdekatan dengan ujub:

merasa telah berjasa kepada Allah karena amalnya.

Seolah-olah:

“Aku sudah banyak melakukan ini dan itu untuk Allah.”

Padahal kemampuan untuk beramal sendiri adalah nikmat.

Kesehatan adalah nikmat.

Waktu adalah nikmat.

Kesempatan adalah nikmat.

Kemampuan memahami adalah nikmat.

Bahkan keinginan untuk beribadah pun merupakan sesuatu yang patut disyukuri.

Maka seorang salik perlahan mengubah cara pandangnya:

Bukan:

“Aku telah melakukan banyak hal untuk Allah.”

Tetapi:

“Allah telah memberiku kesempatan untuk melakukan amal.”

Perubahan kalimat ini sederhana.

Tetapi ia menggeser pusat perhatian:

dari diri → kepada Allah.


 Hubungannya dengan Hikmah tentang Ikhlas

Salah satu benang merah Al-Hikam adalah bahwa manusia harus berhati-hati terhadap ketergantungan kepada amalnya sendiri.

Amal memang harus dilakukan.

Tetapi jangan menjadikan amal sebagai alasan untuk merasa aman.

Jangan pula menjadikan banyaknya amal sebagai ukuran mutlak bahwa kita lebih dekat kepada Allah daripada orang lain.

Karena yang kita lihat adalah lahiriah amal.

Allah mengetahui batin di balik amal tersebut.

Dua orang sama-sama bersedekah.

Yang satu mungkin sedang mencari ridha Allah.

Yang lain mungkin sedang mencari pujian.

Dua orang sama-sama berzikir.

Yang satu sedang merendahkan diri.

Yang lain mungkin sedang menikmati citra dirinya sebagai orang saleh.

Lahirnya sama.

Batinya berbeda.

Karena itu suluk selalu membawa kita kembali kepada:

niat, kejujuran, dan keadaan hati.


🔎 Muhasabah

Mari bertanya kepada diri sendiri:

1. Apakah aku lebih senang melakukan ibadah yang terlihat daripada kewajiban yang tidak terlihat?

2. Apakah aku kecewa ketika amal baikku tidak diketahui orang?

3. Apakah aku pernah merasa lebih baik daripada seseorang karena ibadahku?

4. Apakah ilmu agama membuatku semakin rendah hati atau semakin mudah menghakimi?

5. Apakah setelah beribadah aku merasa semakin membutuhkan Allah, atau justru merasa sudah menjadi orang baik?

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Karena salah satu tanda sehatnya amal bukan hanya:

berapa banyak yang kita lakukan,

tetapi:

seberapa besar amal itu mengikis kesombongan kita.


 Latihan Batin

Mulailah dari hal sederhana.

Pertama — Tunaikan kewajiban sebelum mengejar tambahan.

Jangan membangun rumah spiritual di atas fondasi kewajiban yang diabaikan.

Kedua — Sembunyikan sebagian amal.

Tidak semua kebaikan perlu diketahui orang.

Ada amal yang lebih aman ketika hanya Allah yang mengetahuinya.

Ketiga — Perhatikan reaksi ketika tidak dipuji.

Ketika amal tidak mendapatkan penghargaan, perhatikan hati.

Di situlah kita dapat melihat apakah kita beramal untuk Allah atau untuk pandangan manusia.

Keempat — Jangan jadikan amal sebagai alasan menilai orang lain.

Amal seharusnya membuat kita semakin takut terhadap kekurangan diri sendiri.

Kelima — Setelah beramal, kembalikan karunia itu kepada Allah.

Katakan dalam hati:

“Ya Allah, Engkau yang memberi kemampuan untuk beramal. Jangan biarkan amal ini menjadi sebab aku melihat diriku lebih tinggi daripada hamba-Mu yang lain.”


 Penutup

Ada orang yang jatuh karena maksiat.

Tetapi ada pula yang hampir jatuh karena merasa sudah banyak beribadah.

Yang pertama perlu bertobat dari dosanya.

Yang kedua perlu bertobat dari kebanggaan terhadap amalnya.

Karena tujuan ibadah bukan membuat kita merasa lebih tinggi.

Tujuannya adalah membuat kita semakin sadar:

“Aku tetap seorang hamba.”

Semakin banyak ilmu, semakin membutuhkan kerendahan hati.

Semakin banyak amal, semakin takut terhadap ujub.

Semakin banyak pengalaman spiritual, semakin hati-hati terhadap perasaan “sudah sampai”.

Dan semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin ia memahami betapa kecil dirinya.

Maka jangan hanya bertanya:

“Berapa banyak amal yang sudah aku lakukan?”

Tanyakan juga:

“Apa yang telah amal itu lakukan terhadap hatiku?”

Apakah ia membuatku lebih lembut?

Lebih jujur?

Lebih sabar?

Lebih mudah memaafkan?

Lebih takut menzalimi?

Lebih rendah hati?

Jika iya, maka amal sedang bekerja di dalam diri.

Tetapi jika amal justru membuat kita mudah merendahkan orang lain, mudah tersinggung, merasa paling benar, dan merasa lebih dekat kepada Allah daripada orang lain—

maka mungkin yang bertambah bukan hanya amal.

Ego juga sedang tumbuh.

Dan itulah sebabnya seorang salik harus terus belajar:

beramal tanpa mengagumi amal,
berbuat baik tanpa merasa berjasa,
dan mendekat kepada Allah tanpa merasa telah sampai.

Hashtag

#SulukDalamII #AlHikam #IbnAthaillah #Suluk #Tasawuf #TasawufJawa #KejawenIslam #Ujub #Riya #Ikhlas #HawaNafsu #Amal #Ibadah #Muhasabah #TazkiyatunNafs #PenyakitHati #Hati #MaRifatullah #PerjalananBatin #HikmahTasawuf #RenunganIslam #sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: