Ketika Amal Membuat Kita Ujub: Pelajaran Al-Hikam tentang Bahaya Kesombongan dalam Ibadah
SULUK DALAM II
Bagian XV — Ketika Amal Membuat Kita Merasa Paling Berharga
Pelajaran Al-Hikam tentang Ujub, Karunia Allah, dan Bahaya Merasa Berjasa kepada-Nya
Ada jebakan dalam perjalanan ibadah yang jauh lebih halus daripada kemaksiatan.
Seseorang mulai rajin beribadah.
Shalatnya lebih teratur.
Sedekahnya bertambah.
Dzikirnya semakin banyak.
Ia mulai meninggalkan beberapa kebiasaan buruk.
Lalu perlahan muncul sebuah perasaan:
“Saya sudah jauh lebih baik sekarang.”
Kalimat itu tampaknya tidak salah.
Tetapi jika tidak dijaga, ia bisa berubah menjadi:
“Saya lebih baik daripada mereka.”
Dan akhirnya menjadi:
“Saya sudah pantas mendapatkan kedudukan tertentu di hadapan Allah.”
Di sinilah amal yang seharusnya menjadi jalan mendekat kepada Allah justru dapat menjadi jalan masuknya ujub.
Ibn ‘Aṭā’illāh Mengingatkan
Dalam salah satu hikmahnya, Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:
كَيْفَ تَطْلُبُ الْعِوَضَ عَلَى عَمَلٍ هُوَ مُتَصَدِّقٌ بِهِ عَلَيْكَ؟ أَمْ كَيْفَ تَطْلُبُ الْجَزَاءَ عَلَى صِدْقٍ هُوَ مُهْدِيهِ إِلَيْكَ؟
Artinya secara makna:
“Bagaimana engkau menuntut imbalan atas suatu amal yang sebenarnya Dia sendiri telah menganugerahkannya kepadamu? Bagaimana engkau menuntut balasan atas suatu ketulusan yang sebenarnya Dia pula yang menghadiahkannya kepadamu?”
Ini adalah tamparan lembut bagi ego manusia.
Kita sering merasa:
“Saya sudah berbuat banyak untuk Allah.”
Padahal kemampuan untuk berbuat itu sendiri adalah karunia.
Kita Sering Lupa Siapa yang Memberi Kemampuan
Coba perhatikan.
Ketika kita mampu bersedekah, dari mana rezekinya?
Ketika kita mampu shalat, dari mana kesehatan dan kesempatan itu?
Ketika kita mampu belajar agama, siapa yang membuka kesempatan?
Ketika hati kita terdorong untuk bertaubat, dari mana datangnya kesadaran itu?
Ketika kita mampu meninggalkan maksiat, apakah kita benar-benar bisa mengatakan:
“Semua itu semata-mata karena kehebatan saya”?
Di sinilah Al-Hikam mengubah cara pandang.
Amal kita nyata.
Tetapi kemampuan untuk melakukan amal juga merupakan pemberian.
Maka seorang sālik tidak melihat amal sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Ia melihatnya sebagai karunia yang harus disyukuri.
Amal Tidak Membuat Kita Menjadi “Pemilik” Allah
Ini kesalahan batin yang sangat halus.
Seseorang rajin beribadah.
Kemudian ia merasa Allah seharusnya memberikan apa yang ia minta.
“Saya sudah banyak beribadah, mengapa hidup saya masih begini?”
“Saya sudah bersedekah, mengapa rezeki saya belum bertambah?”
“Saya sudah membaca banyak wirid, mengapa masalah saya belum selesai?”
Tanpa sadar, hubungan dengan Allah berubah menjadi seperti transaksi.
Saya memberi amal → Allah harus memberi balasan sesuai keinginan saya.
Padahal Allah bukan objek transaksi.
Ibadah bukan alat untuk memaksa Allah mengikuti kehendak kita.
Amal adalah Bentuk Penghambaan, Bukan Jasa
Seorang hamba tidak sedang berjasa kepada Allah ketika ia beribadah.
Allah tidak membutuhkan shalat kita.
Allah tidak membutuhkan sedekah kita.
Allah tidak membutuhkan dzikir kita.
Yang membutuhkan semua itu adalah kita sendiri.
Shalat memperbaiki kita.
Dzikir menghidupkan kesadaran kita.
Sedekah membersihkan keterikatan kita kepada harta.
Taubat membersihkan hubungan kita dengan dosa.
Ilmu memperbaiki cara kita memahami kehidupan.
Maka ketika kita beramal, jangan merasa sedang memberi sesuatu yang membuat Allah berutang kepada kita.
Justru kita sedang menerima kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Inilah Bedanya Syukur dan Ujub
Syukur berkata:
“Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan untuk berbuat baik.”
Sedangkan ujub berkata:
“Lihat betapa baiknya saya.”
Syukur melihat karunia.
Ujub melihat diri.
Syukur membuat hati rendah.
Ujub membuat hati merasa tinggi.
Syukur membuat seseorang semakin takut amalnya tidak diterima.
Ujub membuat seseorang merasa amalnya sudah cukup.
Karena itu, semakin banyak amal seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa:
“Saya masih membutuhkan pertolongan Allah.”
Bahaya Ujub Tidak Selalu Terlihat
Ujub tidak selalu berbentuk kesombongan terang-terangan.
Kadang ia sangat halus.
Misalnya:
Kita tidak mengatakan bahwa kita lebih baik.
Tetapi hati merasa orang lain terlalu jauh dari agama.
Kita tidak memamerkan ibadah.
Tetapi diam-diam kecewa karena tidak ada yang menghargai amal kita.
Kita tidak meminta pujian.
Tetapi ketika tidak dipuji, hati merasa tidak dianggap.
Kita tidak menyebut diri saleh.
Tetapi mulai menikmati perasaan bahwa diri kita berbeda dari orang lain.
Inilah sebabnya penyakit hati sering lebih sulit daripada penyakit lahir.
Karena ia dapat bersembunyi di balik kebaikan.
Apakah Berarti Kita Harus Berhenti Beramal?
Tidak.
Ini juga jebakan yang perlu dihindari.
Ketika mengetahui bahaya riya dan ujub, jangan kemudian berkata:
“Kalau begitu saya tidak usah beramal supaya tidak sombong.”
Bukan begitu.
Tetaplah beramal.
Tetaplah shalat.
Tetaplah bersedekah.
Tetaplah belajar.
Tetaplah berdzikir.
Tetaplah membantu orang.
Tetapi sambil terus memperbaiki niat dan kesadaran batin.
Jika muncul rasa bangga terhadap amal, jangan langsung meninggalkan amal.
Justru tanyakan:
“Ya Allah, mengapa saya merasa amal ini membuat saya hebat, padahal kemampuan untuk melakukannya pun berasal dari-Mu?”
Hubungan dengan Bagian-Bagian Sebelumnya
Pembahasan ini memiliki hubungan erat dengan perjalanan SULUK DALAM II.
Kita sudah membahas tentang:
tawakal — agar tidak memaksa hasil.
cinta dan keterikatan — agar hati tidak menjadi hamba selain Allah.
nikmat dan kehilangan — agar kita mengenali bahwa semua yang dimiliki adalah titipan.
Sekarang kita masuk ke wilayah yang lebih halus:
bahkan amal kita sendiri tidak boleh menjadi alasan untuk merasa memiliki kedudukan istimewa.
Sebab jika harta bisa menjadi hijab,
orang yang kita cintai bisa menjadi hijab,
keinginan bisa menjadi hijab,
maka amal pun dapat menjadi hijab ketika ego mengambil alih.
Lahir dan Batin
Makna lahir
Secara lahir, kita tetap harus berusaha memperbanyak amal saleh.
Tidak ada alasan untuk mengurangi kebaikan.
Tetapi amal harus dilakukan dengan:
- ikhlas,
- mengikuti tuntunan agama,
- tidak merendahkan orang lain,
- tidak mencari pengakuan,
- dan tidak menjadikan ibadah sebagai alasan merasa lebih suci.
Makna batin
Secara batin, seorang sālik belajar melihat:
“Amal saya adalah karunia sebelum menjadi kebanggaan.”
Ketika mampu melakukan kebaikan, ia bersyukur.
Ketika gagal, ia memohon pertolongan.
Ketika dipuji, ia berhati-hati.
Ketika dicela, ia melakukan introspeksi.
Dan ketika melihat orang lain yang belum berada pada jalan yang sama, ia tidak merasa berhak menghakimi hati mereka.
Ada Orang yang Amal Sedikit tetapi Hatinya Rendah
Kita tidak pernah mengetahui seluruh perjalanan batin seseorang.
Orang yang hari ini tampak jauh dari agama mungkin suatu hari berubah.
Orang yang tampak sederhana mungkin memiliki ketulusan yang tidak kita ketahui.
Orang yang banyak bicara tentang agama belum tentu hatinya paling bersih.
Karena itu, seorang sālik lebih sibuk bertanya:
“Bagaimana keadaan hatiku?”
daripada:
“Seberapa buruk keadaan orang lain?”
Inilah salah satu tanda kedewasaan spiritual.
Semakin dalam seseorang mengenal kelemahan dirinya, semakin kecil keinginannya merendahkan orang lain.
Muhasabah
Cobalah tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya pernah merasa lebih baik karena ibadah saya?
Apakah saya kecewa ketika amal saya tidak diketahui orang?
Apakah saya merasa Allah “berutang” kepada saya karena banyaknya amal?
Apakah saya lebih mudah melihat dosa orang lain daripada melihat penyakit hati sendiri?
Ketika mendapat kesempatan berbuat baik, apakah saya berkata “saya hebat”, atau “Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan”?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Sebab dua orang dapat melakukan amal yang sama.
Yang satu semakin rendah hati.
Yang lain semakin tinggi hati.
Perbedaannya bukan hanya pada amal yang terlihat, tetapi pada apa yang terjadi di dalam hati setelah amal itu dilakukan.
Penutup
Jangan biarkan ibadah yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru membuat kita merasa lebih tinggi daripada manusia.
Jangan merasa berjasa kepada Allah karena telah beramal.
Sebab sebelum kita mampu mengangkat tangan untuk berdoa,
Allah telah memberi tangan.
Sebelum kita mampu berjalan menuju masjid,
Allah telah memberi kaki.
Sebelum kita mampu memahami ilmu,
Allah telah memberi akal dan kesempatan.
Sebelum hati kita mampu merindukan kebaikan,
Allah telah membuka jalan kesadaran.
Maka ketika suatu hari kita merasa bangga terhadap amal kita, berhentilah sejenak.
Lihat kembali dari mana kemampuan itu datang.
Kemudian katakan:
“Ya Allah, jika bukan karena pertolongan-Mu, saya tidak akan mampu.”
Itulah obat sederhana bagi ujub.
Bukan meremehkan amal.
Tetapi mengembalikan segala pujian kepada Sang Pemberi kemampuan untuk beramal.
Karena pada akhirnya,
yang menyelamatkan kita bukan rasa bangga karena telah banyak beramal, melainkan rahmat Allah yang membuat kita mampu terus beramal dengan hati yang rendah.
Hashtag:
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam
#alhikam #ibnathaillah #tasawuf #suluk #hikmah #ujub #ikhlas #ibadah #muhasabah #tazkiyatunnafs #renunganhati #kehidupanseharihari

Tidak ada komentar untuk "Ketika Amal Membuat Kita Ujub: Pelajaran Al-Hikam tentang Bahaya Kesombongan dalam Ibadah "
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."