Ketika Hidup Tidak Sesuai Keinginan: Pelajaran Al-Hikam tentang Tawakal dan Ridha
SULUK DALAM II- Bagian XIV —
Ada satu sumber kelelahan yang sering tidak kita sadari:
kita terlalu sibuk memaksa kehidupan agar sesuai dengan keinginan kita.
Kita ingin orang lain memahami kita.
Kita ingin rencana berjalan sesuai jadwal.
Kita ingin usaha segera berhasil.
Kita ingin doa segera dikabulkan.
Kita ingin orang yang kita cintai tetap berada di sisi kita.
Kita ingin masa depan sesuai dengan bayangan kita.
Ketika semua berjalan sesuai keinginan, kita merasa tenang.
Tetapi ketika kenyataan berbeda, hati mulai bertanya:
“Mengapa Allah tidak memberikan yang saya inginkan?”
Di sinilah suluk mulai menyentuh wilayah yang sangat dalam:
apakah kita benar-benar sedang berserah kepada Allah, atau sebenarnya hanya ingin Allah menyetujui seluruh keinginan kita?
Ketika Keinginan Menjadi Sumber Kelelahan
Manusia memiliki ikhtiar.
Kita harus merencanakan.
Kita harus bekerja.
Kita harus berusaha.
Tetapi ada perbedaan besar antara berusaha dan memaksa hasil.
Berusaha berarti:
“Saya akan melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab saya.”
Memaksa hasil berarti:
“Semuanya harus terjadi seperti yang saya inginkan.”
Yang pertama melahirkan ikhtiar.
Yang kedua sering melahirkan kegelisahan.
Sebab kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada di bawah kendali kita.
Al-Hikam Mengajarkan Kita Melepaskan Beban Mengendalikan
Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
Artinya:
“Istirahatkan dirimu dari terlalu sibuk mengatur segala sesuatu, karena apa yang telah dilakukan oleh selainmu untukmu, jangan engkau mengambil alihnya untuk dirimu sendiri.”
Hikmah ini bukan ajakan untuk malas.
Bukan pula ajakan meninggalkan ikhtiar.
Justru ia mengajarkan batas:
kerjakan apa yang menjadi bagianmu, tetapi jangan mengambil alih wilayah yang bukan milikmu.
Kita bertanggung jawab atas usaha.
Tetapi kita tidak memiliki kuasa mutlak atas hasil.
Mengapa Kita Sulit Menerima Takdir?
Karena sering kali kita mencampuradukkan tiga hal:
keinginan, usaha, dan hasil.
Kita menginginkan sesuatu.
Kemudian kita berusaha mendapatkannya.
Lalu tanpa sadar kita merasa bahwa karena sudah berusaha, hasilnya harus sesuai dengan keinginan.
Padahal tidak demikian.
Petani menanam.
Tetapi tidak menentukan seluruh cuaca.
Pedagang berusaha.
Tetapi tidak menentukan seluruh keadaan pasar.
Orang tua mendidik anak.
Tetapi tidak menguasai seluruh perjalanan hidup anak.
Kita berdoa.
Tetapi tidak menentukan bentuk jawaban Allah.
Di sinilah seorang sālik belajar:
Ikhtiar adalah tugas.
Hasil adalah wilayah Allah.
Bukan Berarti Kita Tidak Boleh Memiliki Keinginan
Ini penting.
Ridha bukan berarti kehilangan cita-cita.
Tawakal bukan berarti tidak punya target.
Pasrah kepada Allah bukan berarti berhenti bekerja.
Seorang manusia tetap boleh berkata:
“Saya ingin usaha saya berkembang.”
“Saya ingin keluarga saya bahagia.”
“Saya ingin sembuh.”
“Saya ingin mendapatkan pekerjaan.”
“Saya ingin menyelesaikan pendidikan.”
“Saya ingin kehidupan saya lebih baik.”
Tidak ada yang salah dengan keinginan itu.
Yang perlu dijaga adalah ketika keinginan berubah menjadi tuntutan kepada Allah.
Dari:
“Ya Allah, saya menginginkan ini. Jika ini baik, mudahkanlah.”
berubah menjadi:
“Ya Allah, Engkau harus memberikan ini karena saya sudah meminta.”
Di situlah doa dapat kehilangan ruh penghambaan.
Kecewa Itu Manusiawi
Jangan salah memahami suluk.
Ketika sesuatu tidak sesuai harapan, kita boleh kecewa.
Boleh sedih.
Boleh menangis.
Boleh merasa berat.
Suluk tidak menuntut manusia menjadi batu.
Yang dilatih adalah:
jangan biarkan kecewa membuat kita menuduh Allah tidak adil.
Ada perbedaan antara:
“Ya Allah, ini sangat berat bagiku.”
dan:
“Allah tidak adil kepadaku.”
Yang pertama adalah keluhan seorang hamba.
Yang kedua dapat berubah menjadi keberatan terhadap ketetapan Allah.
Maka kita boleh menangis.
Tetapi setelah menangis, kita belajar kembali berdiri.
Terkadang yang Kita Sebut “Kegagalan” Hanya Berbeda dari Rencana Kita
Ada hal yang kita anggap gagal karena tidak sesuai dengan skenario yang kita buat.
Padahal kehidupan memiliki jalan yang jauh lebih luas daripada rencana kita.
Kita gagal mendapatkan pekerjaan tertentu.
Kita mengira masa depan hancur.
Ternyata dari sana muncul jalan lain.
Sebuah hubungan berakhir.
Kita mengira hidup selesai.
Ternyata kita belajar mengenal diri sendiri.
Sebuah usaha tidak berjalan.
Kita mengira semuanya sia-sia.
Ternyata kita menemukan kesalahan yang selama ini tidak terlihat.
Namun kita juga harus berhati-hati:
jangan mengklaim setiap kegagalan pasti merupakan “rencana rahasia Allah” yang kita ketahui.
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik peristiwa.
Yang bisa kita lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah sambil tetap belajar dari kenyataan.
Lahir Bergerak, Batin Tidak Memaksa
Inilah keseimbangan yang penting dalam suluk.
Secara lahir:
bergerak.
Secara batin:
berserah.
Secara lahir:
berusaha.
Secara batin:
tidak menyembah hasil.
Secara lahir:
merencanakan.
Secara batin:
siap menerima perubahan.
Secara lahir:
memperjuangkan yang benar.
Secara batin:
tidak merasa menjadi penguasa atas takdir.
Dengan demikian, tawakal bukan berarti tangan diam.
Tawakal adalah ketika tangan bekerja tetapi hati tidak menjadi budak hasil.
Hubungan dengan Bagian XIII
Pada bagian sebelumnya kita berbicara tentang kehilangan.
Sekarang kita masuk lebih dalam.
Mengapa kehilangan begitu sulit diterima?
Karena sering kali sebelum kehilangan terjadi, kita sudah membuat sebuah gambaran:
“Ini harus tetap menjadi milikku.”
Ketika kenyataan mengambilnya, hati memberontak.
Maka setelah belajar tentang nikmat dan kehilangan, kita sekarang belajar sesuatu yang lebih dalam:
belajar menerima bahwa bahkan sesuatu yang kita cintai tidak pernah benar-benar menjadi milik mutlak kita.
Kita menerima titipan.
Kita merawat titipan.
Kita mensyukuri titipan.
Tetapi kita tidak memiliki kekuasaan mutlak atas titipan.
Makna Lahir
Secara lahir, hikmah ini mengajarkan:
- buat rencana,
- bekerja dengan sungguh-sungguh,
- gunakan akal,
- ambil sebab,
- konsultasikan keputusan,
- perbaiki kesalahan,
- dan terus berusaha.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, jangan menyiksa diri karena hasil tidak sepenuhnya sesuai harapan.
Ada bagian kehidupan yang memang berada di luar kemampuan manusia.
Makna Batin
Secara batin, latihan yang lebih berat adalah:
melepaskan keharusan bahwa segala sesuatu harus berjalan menurut keinginan ego.
Kita tetap memiliki kehendak.
Tetapi kehendak kita ditempatkan di bawah kehendak Allah.
Bukan berarti manusia kehilangan pilihan.
Melainkan menyadari bahwa pilihan manusia terbatas, sedangkan pengetahuan manusia juga terbatas.
Karena itu, seorang sālik belajar mengatakan:
“Saya akan melakukan yang terbaik yang saya mampu. Tetapi saya tidak akan memaksa Allah untuk mengikuti skenario saya.”
Tanda Hati Mulai Belajar Tawakal
Bukan berarti seseorang tidak pernah cemas.
Bukan berarti hidupnya selalu tenang.
Tetapi perlahan ada perubahan.
Dulu ketika rencana gagal:
“Semuanya hancur.”
Sekarang:
“Saya perlu melihat apa yang bisa saya lakukan.”
Dulu ketika doa belum terkabul:
“Allah tidak mendengar saya.”
Sekarang:
“Saya belum memahami jawabannya.”
Dulu ketika seseorang pergi:
“Hidup saya selesai.”
Sekarang:
“Saya kehilangan seseorang yang sangat berarti, tetapi saya masih memiliki Allah dan masih harus menjalani amanah kehidupan.”
Itulah perubahan batin.
Bukan tidak merasa sakit.
Tetapi tidak membiarkan rasa sakit menjadi penguasa hati.
Muhasabah
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang akhir-akhir ini paling ingin saya kendalikan?
Apakah saya sedang berikhtiar, atau sedang memaksa hasil?
Apa yang membuat saya paling kecewa ketika tidak sesuai keinginan?
Apakah saya mampu mengatakan “Ya Allah, saya menginginkan ini, tetapi saya menerima jika Engkau memilih yang lain”?
Dan pertanyaan paling dalam:
Apakah saya mencintai Allah, atau saya hanya mencintai ketika Allah memberikan apa yang saya inginkan?
Pertanyaan ini tidak mudah.
Tetapi justru karena tidak mudah, ia layak direnungkan.
Penutup
Barangkali kedewasaan spiritual bukan ketika kita mendapatkan semua yang kita inginkan.
Tetapi ketika kita mulai mampu berkata:
“Saya tetap akan berusaha, meskipun hasilnya belum saya ketahui.”
“Saya tetap akan berdoa, meskipun jawabannya belum datang.”
“Saya tetap akan berjalan, meskipun jalan yang terbuka tidak seperti yang saya bayangkan.”
Dan akhirnya:
“Ya Allah, saya punya keinginan. Tetapi saya tidak ingin keinginan saya menjadi lebih besar daripada kepercayaan saya kepada-Mu.”
Sebab terkadang yang perlu diubah bukan keadaan.
Tetapi cara hati kita memandang keadaan.
Dan mungkin di situlah salah satu pintu terbesar suluk:
bukan memaksa kehidupan mengikuti keinginan kita,
melainkan belajar berjalan dengan sungguh-sungguh sambil menerima bahwa Allah mengetahui jalan yang tidak kita ketahui.
Hashtag:
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam
#alhikam #ibnathaillah #tasawuf #suluk #hikmah #tawakal #ridha #ikhtiar #muhasabah #kehidupanseharihari #renunganhati

Tidak ada komentar untuk " Ketika Hidup Tidak Sesuai Keinginan: Pelajaran Al-Hikam tentang Tawakal dan Ridha"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."