Ketika Kehilangan Menjadi Jalan Pulang Pelajaran Al-Hikam tentang Kehilangan, Kesadaran, dan Kembali kepada Allah - SULUK DALAM II Bagian VII
SULUK DALAM II-Bagian VII —
Ada kehilangan yang membuat kita marah.
Ada kehilangan yang membuat kita bertanya:
“Mengapa harus aku?”
Kita kehilangan seseorang.
Kehilangan pekerjaan.
Kehilangan harta.
Kehilangan kesempatan.
Kehilangan kesehatan.
Bahkan terkadang kita kehilangan sesuatu yang tidak pernah kita sangka akan hilang.
Dan ketika kehilangan datang, hati sering merasa seolah-olah kehidupan telah mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita.
Namun Al-Hikam mengajak kita melihat kehilangan dari sudut yang berbeda.
Bukan untuk meniadakan kesedihan.
Bukan untuk mengatakan bahwa menangis itu salah.
Tetapi untuk bertanya:
Apa yang sedang diajarkan oleh kehilangan kepada hati kita?
Hikmah Al-Hikam
Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:
مَنْ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَ النِّعَمِ بِوُجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فَقْدَانِهَا
Artinya:
“Barang siapa tidak mengetahui nilai nikmat ketika memilikinya, ia akan mengetahuinya ketika nikmat itu hilang.”
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam.
Kita sering tidak menyadari nilai sesuatu ketika masih memilikinya.
Kita menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa.
Kita menganggap waktu masih panjang.
Kita menganggap orang yang kita cintai akan selalu ada.
Kita menganggap pekerjaan akan terus berjalan.
Kita menganggap keadaan yang nyaman akan berlangsung selamanya.
Sampai suatu hari sesuatu itu berubah.
Barulah kita berkata:
“Ternyata selama ini itu adalah nikmat.”
Bab Suluk: Belajar Membaca Kehilangan
Dalam rangkaian ini, kita dapat menyebutnya sebagai Bab Suluk tentang kehilangan dan kesadaran hati.
Kehilangan tidak selalu harus ditafsirkan sebagai hukuman.
Dan kita juga tidak boleh gegabah mengatakan:
“Allah mengambil ini karena Allah sedang menghukumku.”
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik sebuah kejadian.
Tetapi kita dapat memilih bagaimana hati meresponsnya.
Kehilangan dapat membuat seseorang semakin pahit.
Tetapi kehilangan juga dapat membuat seseorang semakin sadar.
Sadar bahwa dunia tidak kekal.
Sadar bahwa apa yang kita miliki adalah amanah.
Sadar bahwa manusia tidak mempunyai kuasa mutlak atas keadaan.
Dan sadar bahwa hati perlu belajar kembali kepada Allah.
Kehilangan Membuka Apa yang Selama Ini Tersembunyi
Ketika sesuatu masih berada di tangan kita, kita mudah berkata:
“Aku bersyukur.”
Tetapi kehilangan sering menunjukkan apakah syukur itu benar-benar hidup di dalam hati.
Misalnya seseorang kehilangan pekerjaan.
Yang hilang bukan hanya penghasilan.
Bisa ikut hilang rasa aman.
Harga diri.
Rutinitas.
Rencana masa depan.
Lingkungan pertemanan.
Maka wajar apabila seseorang merasa terpukul.
Tasawuf tidak mengharuskan seseorang berpura-pura tidak sedih.
Yang dilatih adalah:
jangan biarkan kesedihan menghapus kesadaran kepada Allah.
Kita boleh menangis.
Tetapi tetap berdoa.
Boleh kecewa.
Tetapi tetap berusaha.
Boleh merasa kehilangan.
Tetapi jangan menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan kita.
Ada Kehilangan yang Baru Kita Sadari Setelah Terlambat
Berapa banyak orang yang baru menghargai waktu setelah waktunya habis?
Berapa banyak yang baru menghargai orang tua setelah mereka tiada?
Berapa banyak yang baru menghargai kesehatan setelah sakit?
Berapa banyak yang baru memahami ketenangan setelah hidup dipenuhi masalah?
Karena itu, hikmah ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghadapi kehilangan.
Ia juga mengajarkan:
belajarlah menghargai sebelum kehilangan datang.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Jangan menunggu perpisahan untuk menghargai seseorang.
Jangan menunggu kesempatan hilang untuk serius menggunakannya.
Jangan menunggu usia tua untuk menyadari nilai waktu.
Kehilangan dan Ketergantungan
Pada Bagian V kita membahas tentang terlalu bergantung kepada manusia.
Pada Bagian VI kita membahas tentang nikmat yang dapat menjadi hijab.
Sekarang keduanya bertemu.
Sebab salah satu alasan kehilangan terasa sangat menyakitkan adalah karena hati telah menganggap sesuatu sebagai sandaran utama.
Ketika sandaran itu hilang, hati ikut runtuh.
Misalnya:
“Saya tidak bisa hidup tanpa dia.”
Atau:
“Saya tidak akan bahagia kalau pekerjaan ini hilang.”
Atau:
“Kalau usaha ini gagal, hidup saya selesai.”
Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang semestinya menjadi bagian dari kehidupan telah berubah menjadi pusat kehidupan.
Padahal tidak ada sesuatu di dunia yang dijamin kekal.
Lahir dan Batin
Secara lahiriah, kehilangan berarti:
sesuatu yang sebelumnya ada kemudian tidak lagi kita miliki.
Secara batin, kehilangan dapat menjadi kesempatan untuk belajar:
bahwa semua yang kita miliki bersifat sementara.
Ini bukan berarti kita harus hidup tanpa mencintai apa pun.
Justru kita boleh mencintai.
Boleh menyayangi keluarga.
Boleh mencintai pekerjaan.
Boleh menikmati rezeki.
Boleh menghargai sahabat.
Tetapi cinta kepada sesuatu tidak harus berubah menjadi ketergantungan mutlak kepadanya.
Kita mencintai sesuatu sambil menyadari:
“Ia adalah titipan.”
Dan sesuatu yang dititipkan pada waktunya dapat dikembalikan.
Jangan Jadikan Kehilangan sebagai Alasan untuk Berhenti
Ada dua jebakan setelah kehilangan.
Jebakan pertama: menyalahkan diri sendiri
“Seandainya aku melakukan ini…”
“Seandainya aku memilih itu…”
“Seandainya waktu bisa kembali…”
Muhasabah memang perlu.
Tetapi penyesalan yang tidak menghasilkan perbaikan hanya menguras hati.
Jebakan kedua: menyalahkan Allah
“Mengapa Allah melakukan ini kepadaku?”
Pertanyaan semacam itu bisa muncul secara spontan ketika kita sedang terluka.
Namun perlahan kita perlu mengubahnya menjadi:
“Ya Allah, aku belum memahami semua ini. Tetapi tuntunlah aku agar dapat melewatinya dengan benar.”
Ini bukan berarti kita langsung memahami hikmahnya.
Kita hanya memilih untuk tetap berjalan.
Kehilangan Tidak Selalu Berarti Akhir
Sesuatu yang berakhir tidak selalu berarti kehidupan ikut berakhir.
Pekerjaan hilang?
Cari jalan berikutnya.
Usaha gagal?
Pelajari kegagalannya.
Hubungan berakhir?
Ambil pelajaran tanpa harus memelihara kebencian.
Kesempatan terlewat?
Belajar agar lebih siap ketika kesempatan berikutnya datang.
Seseorang meninggal?
Kita tidak dapat mengembalikannya, tetapi kita masih dapat mendoakannya dan meneruskan kebaikan yang pernah diajarkannya.
Dengan demikian, kehilangan tidak harus berhenti sebagai luka.
Ia dapat berubah menjadi kesadaran.
Muhasabah
Hari ini tanyakan kepada diri sendiri:
Apa sesuatu yang paling saya takut kehilangan?
Kemudian tanyakan:
“Mengapa saya begitu takut kehilangannya?”
Apakah karena memang merupakan amanah yang harus saya jaga?
Atau karena hati saya telah menjadikannya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan?
Lalu tanyakan:
“Jika nikmat itu masih ada hari ini, sudahkah aku mensyukurinya?”
Pertanyaan ini penting.
Karena mungkin kita sedang sibuk takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum kita syukuri dengan baik.
Latihan Suluk Hari Ini
Pilih satu nikmat yang selama ini terasa biasa.
Kemudian berhenti sejenak.
Lihat dengan sadar.
Jika itu keluarga:
syukuri kehadiran mereka.
Jika itu kesehatan:
gunakan tubuh untuk kebaikan.
Jika itu pekerjaan:
kerjakan dengan amanah.
Jika itu waktu:
jangan habiskan seluruhnya untuk hal yang sia-sia.
Jika itu ilmu:
amalkan dan bagikan.
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilainya.
Karena salah satu bentuk kebijaksanaan adalah:
mampu bersyukur sebelum kehilangan mengajari kita dengan cara yang menyakitkan.
Ketika Kehilangan Sudah Terjadi
Jika kehilangan memang sudah datang, jangan paksa diri untuk segera “baik-baik saja”.
Berduka membutuhkan proses.
Namun selama proses itu, jagalah beberapa hal:
Pertama, jangan tinggalkan doa.
Kedua, jangan berhenti melakukan kewajiban.
Ketiga, jangan mengambil keputusan besar hanya karena emosi sesaat.
Keempat, carilah dukungan manusia yang sehat ketika diperlukan.
Kelima, izinkan diri belajar menerima kenyataan secara bertahap.
Dan yang paling penting:
jangan mengira bahwa kehilangan sesuatu berarti kehilangan Allah.
Yang berubah adalah keadaan kita.
Bukan berarti Allah menjadi jauh.
Penutup
Ada hal-hal yang baru kita pahami setelah kehilangannya.
Kita baru memahami arti kesehatan ketika tubuh tidak lagi sehat.
Kita baru memahami arti waktu ketika kesempatan telah lewat.
Kita baru memahami arti kehadiran seseorang ketika kursinya kosong.
Kita baru memahami arti ketenangan ketika kehidupan mulai berguncang.
Tetapi Al-Hikam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi:
jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai nikmat.
Ketika nikmat masih ada, syukurilah.
Ketika nikmat pergi, hadapilah dengan sabar dan kesadaran.
Ketika sesuatu hilang, jangan hanya bertanya:
“Mengapa ini diambil?”
Cobalah juga bertanya:
“Apa yang harus dipelajari hatiku dari semua ini?”
Karena kita mungkin tidak selalu dapat memilih apa yang datang kepada kita.
Kita juga tidak selalu dapat mencegah apa yang pergi.
Tetapi kita masih dapat belajar memilih bagaimana hati berjalan setelah semuanya terjadi.
Dan mungkin di situlah salah satu makna suluk:
bukan hidup tanpa kehilangan, tetapi belajar tetap menemukan arah kepada Allah di tengah segala sesuatu yang datang dan pergi.
SULUK DALAM II — Bagian VII
Ketika Kehilangan Menjadi Jalan Pulang
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #AlHikam #IbnAthaillah #Kehilangan #Sabar #Syukur #Tasawuf #Suluk #Muhasabah #KetenanganHati #BelajarIkhlas
.png)