Ketika Kita Merasa Sudah Dekat kepada Allah Pelajaran Al-Hikam tentang Pengakuan Diri, Kedekatan, dan Bahaya Merasa Sudah Sampai - SULUK DALAM II Bagian IX

 

Gambar Somong jumawa


SULUK DALAM II

Bagian IX — Ketika Kita Merasa Sudah Dekat kepada Allah

Pelajaran Al-Hikam tentang Pengakuan Diri, Kedekatan, dan Bahaya Merasa Sudah Sampai

Ada satu penyakit batin yang sangat halus.

Bukan merasa jauh dari Allah.

Tetapi justru merasa sudah dekat kepada Allah.

Seseorang mulai banyak beribadah.

Mulai rajin berzikir.

Mulai membaca kitab.

Mulai memahami istilah-istilah tasawuf.

Mulai merasakan ketenangan dalam ibadah.

Lalu perlahan muncul sebuah kesimpulan di dalam hati:

“Sepertinya aku sudah sampai.”

Di sinilah perjalanan spiritual membutuhkan kewaspadaan.

Sebab semakin seseorang merasa telah mencapai sesuatu, semakin mudah ia berhenti berjalan.

Padahal dalam perjalanan kepada Allah, yang perlu diperhatikan bukanlah seberapa tinggi seseorang menilai dirinya, tetapi seberapa dalam ia menyadari kebutuhannya kepada Allah.


Hikmah Al-Hikam

Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:

وُصُولُكَ إِلَيْهِ وُصُولُكَ إِلَى الْعِلْمِ بِهِ، وَإِلَّا فَجَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ

Artinya:

“Sampaimu kepada-Nya adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Jika tidak demikian, maka Mahatinggi Tuhan kita dari menjadi sesuatu yang tersambung dengan sesuatu.”

Hikmah ini penting karena kata wuṣūl—“sampai”—mudah sekali disalahpahami.

Yang dimaksud bukan Allah berada di suatu tempat lalu manusia berjalan secara fisik untuk mencapai-Nya.

Bukan pula penyatuan antara manusia dan Tuhan.

Ibn ‘Aṭā’illāh justru menegaskan:

جَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ

“Mahatinggi Tuhan kita dari menjadi sesuatu yang tersambung dengan sesuatu.”

Maka pembicaraan tentang “sampai kepada Allah” harus dipahami dalam kerangka ma‘rifat, kesadaran, dan pengetahuan hati tentang Allah, bukan perpindahan tempat atau penyatuan zat.


Bab Suluk: Ketika Merasa Sudah Sampai

Dalam seri ini, kita dapat menyebutnya sebagai Bab Suluk tentang bahaya merasa telah mencapai kedekatan spiritual.

Ada perbedaan besar antara:

merasakan pertumbuhan spiritual

dan

menganggap diri sudah mencapai kedudukan spiritual.

Yang pertama bisa menjadi karunia yang mendorong seseorang semakin bersyukur.

Yang kedua bisa menjadi pintu kesombongan.

Seseorang mungkin menjadi lebih tenang.

Lebih sabar.

Lebih rajin beribadah.

Lebih mudah memaafkan.

Itu semua adalah tanda yang baik.

Tetapi jangan buru-buru berkata:

“Aku sudah sampai.”

Karena penilaian terhadap keadaan batin sendiri sangat mudah bercampur dengan ego.


Semakin Mengenal Allah, Semakin Sadar Akan Keterbatasan Diri

Orang yang belajar mengenal Allah seharusnya tidak semakin sibuk membangun citra:

“Aku seorang yang sudah dekat.”

Sebaliknya, ia semakin sadar:

“Aku masih membutuhkan pertolongan Allah.”

Ia melihat kelemahan dirinya.

Ia menyadari niatnya masih berubah-ubah.

Ia mengetahui bahwa hatinya belum selalu bersih.

Ia masih bisa marah.

Masih bisa kecewa.

Masih bisa mencari pujian.

Masih bisa tergoda oleh hawa nafsu.

Kesadaran seperti itu bukan berarti seseorang harus merendahkan dirinya secara tidak sehat.

Ini adalah kesadaran realistis tentang keterbatasan manusia.


Jangan Mengukur Kedekatan dengan Perasaan

Ini penting.

Dalam perjalanan spiritual, seseorang mungkin mengalami:

  • hati terasa tenang,
  • ibadah terasa nikmat,
  • doa terasa menyentuh,
  • zikir terasa ringan,
  • air mata mudah jatuh,
  • atau hati terasa sangat lembut.

Semua itu bisa menjadi pengalaman yang baik.

Tetapi jangan menjadikan perasaan tersebut sebagai satu-satunya ukuran kedekatan kepada Allah.

Sebab perasaan manusia berubah.

Hari ini khusyuk.

Besok pikiran berantakan.

Hari ini menangis dalam doa.

Besok hati terasa kering.

Hari ini mudah berbuat baik.

Besok harus berjuang melawan kemalasan.

Apakah berarti Allah menjadi dekat hanya ketika kita merasakan sesuatu?

Tidak.

Karena itu, jangan menjadikan perubahan perasaan sebagai ukuran mutlak hubungan kita dengan Allah.


Kedekatan Bukan Lisensi untuk Merasa Lebih Tinggi

Ini salah satu bahaya terbesar.

Seseorang merasa dirinya lebih dekat kepada Allah daripada orang lain.

Kemudian ia mulai menilai:

“Aku lebih spiritual.”

“Aku lebih memahami hakikat.”

“Mereka masih berada di tingkat rendah.”

Di sinilah sesuatu yang tampak sebagai perjalanan menuju Allah justru dapat menghasilkan ego spiritual.

Padahal semakin seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, semakin perlu ia memeriksa kembali perjalanan batinnya.

Karena kedekatan kepada Allah seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan makhluk.


Hikmah tentang Qurbah

Ibn ‘Aṭā’illāh juga berkata:

قُرْبُكَ مِنْهُ أَنْ تَكُونَ مُشَاهِدًا لِقُرْبِهِ، وَإِلَّا فَمِنْ أَيْنَ أَنْتَ وَوُجُودُ قُرْبِهِ

Maknanya:

“Kedekatanmu kepada-Nya adalah ketika engkau menyaksikan kedekatan-Nya; jika tidak, dari mana engkau memiliki keberadaanmu sementara kedekatan-Nya telah ada?”

Bahasa ini sangat halus.

Kedekatan Allah bukan sesuatu yang baru muncul setelah kita melakukan perjalanan spiritual.

Allah tidak menjadi “lebih dekat” karena kita baru mulai beribadah.

Yang berubah adalah kesadaran kita terhadap kedekatan-Nya.

Maka perjalanan suluk bukan membuat Allah hadir.

Melainkan belajar agar hati semakin sadar terhadap kehadiran, pengawasan, rahmat, dan hubungan kita dengan-Nya.


Lahir dan Batin

Secara lahir:

kita memperbaiki ibadah, akhlak, ucapan, dan tindakan.

Secara batin:

kita memperbaiki cara hati memandang Allah dan memandang diri sendiri.

Yang perlu dikurangi bukan hanya dosa yang terlihat.

Tetapi juga:

  • rasa paling benar,
  • rasa paling suci,
  • rasa paling dekat,
  • rasa paling memahami,
  • dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan spiritual.

Karena ego dapat memakai hampir semua hal sebagai bahan kebanggaan.

Bahkan pengalaman spiritual.


Tanda yang Lebih Sehat

Daripada bertanya:

“Seberapa dekat aku dengan Allah?”

Cobalah bertanya:

“Apakah aku semakin jujur?”

“Apakah aku semakin mudah mengakui kesalahan?”

“Apakah aku semakin mampu menahan diri?”

“Apakah aku semakin menjaga hak orang lain?”

“Apakah aku semakin rendah hati ketika mendapat pujian?”

“Apakah aku tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat?”

Pertanyaan-pertanyaan ini lebih membumi.

Sebab perjalanan spiritual tidak seharusnya hanya menghasilkan pengalaman batin.

Ia juga harus mempunyai dampak pada akhlak dan kehidupan nyata.


Ketika Kita Merasa Sudah “Sampai”

Ada paradoks yang menarik.

Orang yang benar-benar bertumbuh sering kali justru semakin sadar bahwa dirinya belum selesai.

Sedangkan orang yang baru memperoleh sedikit pengalaman bisa cepat berkata:

“Aku sudah memahami semuanya.”

Karena itu, salah satu tanda kewaspadaan dalam suluk adalah kemampuan untuk berkata:

“Aku masih belajar.”

Bukan karena kita tidak memiliki ilmu.

Tetapi karena kita sadar bahwa ilmu yang dimiliki tidak identik dengan kesempurnaan diri.


Muhasabah

Hari ini cobalah bertanya:

1. Pernahkah aku merasa lebih dekat kepada Allah daripada orang lain?

2. Apakah aku pernah memandang rendah orang yang ibadahnya berbeda denganku?

3. Apakah pengalaman spiritual tertentu membuatku merasa lebih istimewa?

4. Ketika dipuji sebagai orang saleh atau spiritual, bagaimana keadaan hatiku?

5. Apakah ibadahku benar-benar memperbaiki akhlakku?

Pertanyaan kelima sangat penting.

Sebab seseorang dapat mengetahui banyak tentang tasawuf tetapi belum tentu mampu mengendalikan egonya.


Latihan Suluk Hari Ini

Hari ini, ketika mendapatkan keberhasilan dalam ibadah atau kebaikan, jangan buru-buru berkata:

“Aku sudah berubah.”

Cukup katakan:

“Alhamdulillah. Semoga Allah menjagaku dan tidak membiarkan aku kembali kepada kelemahanku.”

Jika mendapat pujian:

terima dengan baik, tetapi jangan membangun identitas di atas pujian tersebut.

Jika merasa ibadah sedang sangat baik:

syukuri, tetapi jangan merendahkan orang yang sedang berjuang.

Jika mengalami kekeringan batin:

jangan langsung menganggap perjalananmu gagal.

Teruskan kewajiban.

Teruskan kebaikan.

Teruskan doa.

Teruskan muhasabah.

Karena perjalanan kepada Allah tidak harus selalu terasa luar biasa.

Kadang justru bentuk kesetiaan yang paling sederhana adalah:

tetap berjalan ketika hati sedang tidak merasakan apa-apa.


Penutup

Kita sering ingin mengetahui:

“Apakah aku sudah dekat kepada Allah?”

Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih aman adalah:

“Apakah hari ini aku sedang berjalan menuju Allah dengan lebih jujur daripada kemarin?”

Karena merasa sudah sampai dapat membuat kita berhenti.

Sedangkan menyadari bahwa kita masih membutuhkan Allah membuat kita terus belajar.

Maka jangan terlalu sibuk mencari pengakuan bahwa diri kita sudah mencapai maqam tertentu.

Jangan terlalu cepat memberi gelar kepada diri sendiri.

Jangan menjadikan pengalaman batin sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.

Cukup terus memperbaiki:

ibadah,

akhlak,

niat,

kejujuran,

kerendahan hati,

dan kesadaran kepada Allah.

Sebab dalam bahasa Al-Hikam, “wuṣūl” bukan perjalanan menuju suatu tempat di mana Allah berada.

Ia adalah perjalanan menuju ma‘rifat—semakin mengenal Allah—sementara kita semakin menyadari bahwa diri ini tetap seorang hamba.

Dan mungkin justru di situlah letak keindahannya:

semakin mengenal Allah, semakin kita tidak sibuk membesarkan diri sendiri.


SULUK DALAM II — Bagian IX
Ketika Kita Merasa Sudah Dekat kepada Allah

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #AlHikam #IbnAthaillah #Marifat #Qurbah #Wusul #Tasawuf #Suluk #Muhasabah #KerendahanHati #TazkiyatunNafs #suluk #hikmahkehidupan 

Tidak ada komentar untuk " Ketika Kita Merasa Sudah Dekat kepada Allah Pelajaran Al-Hikam tentang Pengakuan Diri, Kedekatan, dan Bahaya Merasa Sudah Sampai - SULUK DALAM II Bagian IX"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: