Ketika Kita Terlalu Sibuk Mengejar Dunia: Pelajaran Al-Hikam tentang Hati yang Kehilangan Arah
SULUK DALAM II — BAGIAN XX
Bab Suluk: Mengembalikan Hati kepada Tujuan
Ada orang yang hidupnya sangat sibuk.
Pagi mengejar pekerjaan.
Siang mengejar target.
Malam mengejar pengakuan.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun.
Tetapi di tengah kesibukan itu muncul pertanyaan yang jarang kita ajukan:
“Sebenarnya, ke mana arah hidup saya?”
Sebab manusia bisa sangat sibuk berjalan, tetapi belum tentu sedang menuju tempat yang benar.
Dalam perjalanan suluk, persoalan terbesar bukan selalu kurangnya aktivitas.
Kadang persoalannya justru karena terlalu banyak aktivitas yang tidak lagi memiliki arah batin.
Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan:
الْخِذْلَانُ كُلُّ الْخِذْلَانِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ ثُمَّ لَا تَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ، وَتَقِلَّ عَوَائِقُكَ ثُمَّ لَا تَرْحَلَ إِلَيْهِ
Artinya:
“Sebesar-besar keterlantaran adalah ketika engkau telah terbebas dari berbagai kesibukan, tetapi tidak menghadap kepada-Nya; dan ketika berbagai penghalangmu telah berkurang, tetapi engkau tidak berjalan menuju-Nya.”
Hikmah ini sangat relevan dengan kehidupan manusia modern.
Sibuk Tidak Selalu Berarti Bergerak
Kita sering menganggap orang yang sangat sibuk sebagai orang yang sedang maju.
Padahal sibuk dan bertumbuh adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam bekerja, tetapi tidak pernah memiliki waktu untuk menata dirinya.
Seseorang dapat membaca banyak buku, tetapi tidak pernah melakukan muhasabah.
Seseorang dapat aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi hatinya tetap dipenuhi keinginan untuk dipuji.
Seseorang dapat memiliki banyak rencana, tetapi tidak pernah bertanya apakah hidupnya semakin dekat kepada tujuan yang benar.
Karena itu, suluk mengajarkan:
Jangan hanya bertanya, “Apa yang saya lakukan hari ini?”
Tetapi tanyakan:
“Ke mana semua yang saya lakukan itu membawa hati saya?”
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Menjadi Alasan
Hikmah ini berbicara tentang keadaan yang sangat menarik.
Ada saat ketika seseorang memiliki banyak penghalang:
pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, masalah ekonomi, kesehatan, dan berbagai urusan kehidupan.
Kemudian sebagian penghalang itu berkurang.
Waktu menjadi lebih longgar.
Masalah mulai selesai.
Kesempatan mulai terbuka.
Tetapi ternyata hati tetap tidak bergerak.
Inilah yang disebut Ibn ‘Aṭā’illāh sebagai bentuk khidzlān—keterlantaran atau tidak memperoleh pertolongan dalam perjalanan menuju Allah.
Bukan karena jalannya selalu tertutup.
Kadang jalan sudah terbuka, tetapi kita sendiri tidak melangkah.
Perspektif Kun Alfa — Alfa Media Sulukk.my.id
Menurut perspektif penulis, Kun Alfa, persoalan manusia sering kali bukan kekurangan waktu, melainkan cara menempatkan waktu.
Kita sering mengatakan:
“Tidak sempat.”
Tetapi jika diperiksa lebih dalam, mungkin persoalannya bukan benar-benar tidak memiliki waktu.
Kita memiliki waktu untuk membuka media sosial.
Memiliki waktu untuk mengikuti perdebatan yang tidak penting.
Memiliki waktu untuk memikirkan penilaian orang.
Memiliki waktu untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan.
Namun ketika tiba waktunya untuk duduk diam, membaca, berzikir, merenung, atau melakukan muhasabah, tiba-tiba kita merasa tidak memiliki waktu.
Di sinilah suluk menjadi sangat praktis.
Suluk bukan hanya perjalanan spiritual yang jauh dan rumit.
Suluk dapat dimulai dari pertanyaan sederhana:
“Ke mana waktu saya habiskan?”
Sebab ke mana waktu pergi, sering kali ke sanalah perhatian hati mengikuti.
Dunia Tidak Harus Ditinggalkan
Membaca hikmah ini jangan sampai membuat kita salah memahami tasawuf.
Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sedang mengajarkan manusia untuk meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab dunia.
Kita tetap harus bekerja.
Tetap mencari nafkah.
Tetap mengurus keluarga.
Tetap menyelesaikan kewajiban.
Tetapi jangan sampai kesibukan dunia membuat kita kehilangan arah.
Yang perlu ditinggalkan bukan dunianya, tetapi kelalaian di dalamnya.
Seseorang dapat bekerja di pasar tetapi hatinya tetap mengingat Allah.
Seseorang dapat berada di kantor tetapi tetap menjaga amanah.
Seseorang dapat memiliki harta tetapi tidak diperbudak oleh harta.
Seseorang dapat memiliki kesibukan tetapi tetap menyediakan ruang bagi hatinya untuk kembali kepada Allah.
“Berjalan Menuju Allah” Bukan Berarti Berpindah Tempat
Ungkapan تَرْحَلَ إِلَيْهِ — berjalan menuju-Nya jangan dipahami sebagai perjalanan fisik menuju suatu tempat.
Dalam bahasa suluk, ia menunjuk pada perjalanan batin: perubahan kesadaran, ketaatan, penyucian diri, dan penghadapan hati kepada Allah.
Maka seseorang dapat tetap berada di rumahnya, di tempat kerja, di pasar, atau di tengah masyarakat, tetapi secara batin ia sedang menempuh perjalanan.
Begitu pula sebaliknya.
Seseorang bisa berada di tempat yang dianggap “religius”, tetapi hatinya tetap sibuk mengejar dunia.
Karena perjalanan suluk bukan ditentukan oleh di mana tubuh berada, tetapi oleh ke mana hati diarahkan.
Apa yang Sebenarnya Menghalangi Kita?
Kadang kita mengira penghalang terbesar adalah masalah.
Padahal setelah masalah selesai, kita masih belum bergerak.
Berarti mungkin masalah bukan satu-satunya penghalang.
Bisa jadi penghalangnya adalah:
- terlalu nyaman,
- terlalu sibuk,
- terlalu banyak hiburan,
- terlalu takut kehilangan kesenangan,
- terlalu bergantung pada penilaian manusia,
- atau terlalu yakin bahwa masih ada banyak waktu.
Yang terakhir sering kali paling berbahaya.
Kita berkata:
“Nanti saja.”
Nanti setelah pekerjaan selesai.
Nanti setelah punya uang.
Nanti setelah pensiun.
Nanti ketika anak-anak sudah besar.
Nanti ketika masalah sudah selesai.
Padahal tidak seorang pun mendapatkan jaminan bahwa “nanti” pasti datang.
Suluk Dimulai dari Satu Langkah
Tidak perlu menunggu hidup sempurna untuk mulai memperbaiki hati.
Mulailah dari sesuatu yang nyata.
Jaga salat.
Kurangi kesibukan yang tidak perlu.
Luangkan waktu untuk membaca dan berpikir.
Perbanyak istighfar.
Periksa kembali niat.
Minta maaf ketika salah.
Tunaikan hak orang lain.
Kurangi keinginan untuk selalu dipuji.
Dan yang paling penting:
jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai berjalan.
Sebab suluk bukan perjalanan orang yang sudah selesai.
Suluk adalah perjalanan orang yang sadar bahwa dirinya masih perlu diperbaiki.
Muhasabah
Hari ini, coba tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang paling banyak menghabiskan waktuku?
Apakah kesibukanku benar-benar penting, atau hanya membuatku terus merasa sibuk?
Jika sebagian masalah hidupku selesai, apakah aku akan benar-benar mendekat kepada Allah?
Apa alasan yang selama ini selalu kugunakan untuk menunda perubahan?
Dan pertanyaan yang paling penting:
Jika hari ini tidak ada lagi alasan untuk menunda, langkah apa yang sebenarnya bisa saya mulai?
Tidak perlu menjawabnya dengan kata-kata indah.
Jawablah dengan tindakan.
Penutup: Jangan Sampai Jalan Sudah Terbuka, tetapi Kita Tidak Berjalan
Ada orang yang menunggu hidupnya menjadi mudah sebelum mendekat kepada Allah.
Padahal bisa jadi kemudahan itu justru sudah datang.
Waktu sudah tersedia.
Kesempatan sudah terbuka.
Penghalang sudah berkurang.
Tetapi hati masih berkata:
“Nanti.”
Hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan agar kita tidak terjebak di sana.
Karena keterlantaran bukan hanya ketika jalan ditutup.
Keterlantaran juga bisa terjadi ketika jalan terbuka, tetapi kita tidak mau berjalan.
Maka jangan menunggu kehidupan menjadi sempurna.
Mulailah dari tempat kita berdiri.
Mulailah dari waktu yang tersedia.
Mulailah dari kewajiban yang belum selesai.
Mulailah dari hati yang masih berantakan.
Sebab perjalanan menuju Allah tidak selalu dimulai dengan langkah yang besar.
Sering kali ia dimulai dengan satu keputusan sederhana:
“Hari ini aku tidak ingin terus menunda untuk kembali.”
Hashtag
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #muhasabah #perjalananspiritual #kehidupan #ibadah #dzikir #penyucianjiwa #hati #tawakal #islami
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media | Sulukk.my.id
.png)
Tidak ada komentar untuk "Ketika Kita Terlalu Sibuk Mengejar Dunia: Pelajaran Al-Hikam tentang Hati yang Kehilangan Arah"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."