Mengapa Allah Tidak Bertambah Mulia karena Kita? Pelajaran Al-Hikam tentang Ketulusan dalam Beribadah
SULUK DALAM II — BAGIAN XXI
Bab Suluk: Menyadari Bahwa Kita yang Membutuhkan Allah
Setelah belajar bahwa sesuatu yang terlalu dicintai dapat menguasai hati, kita masuk pada kesadaran yang lebih dalam: Allah tidak membutuhkan pengakuan, pujian, maupun ibadah kita.
Sering kali tanpa sadar manusia membangun hubungan dengan Allah seolah-olah kemuliaan Allah bergantung pada banyaknya orang yang menyembah-Nya.
Padahal tidak demikian.
Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:
لَا يَزِيدُ فِي عِزِّهِ إِقْبَالُ مَنْ أَقْبَلَ عَلَيْهِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ عِزِّهِ إِدْبَارُ مَنْ أَدْبَرَ عَنْهُ
Artinya:
“Tidak bertambah kemuliaan-Nya karena orang yang menghadap kepada-Nya, dan tidak berkurang kemuliaan-Nya karena orang yang berpaling dari-Nya.”
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam.
Allah Tidak Membutuhkan Kita
Ketika manusia taat, Allah tidak menjadi lebih mulia.
Ketika manusia bermaksiat, Allah tidak menjadi lebih rendah.
Ketika jutaan manusia berzikir, kemuliaan Allah tidak bertambah.
Ketika sebagian manusia berpaling, kemuliaan Allah tidak berkurang.
Sebab Allah tidak bergantung kepada makhluk.
Kitalah yang bergantung kepada-Nya.
Kesadaran ini penting agar ibadah tidak berubah menjadi kesombongan.
Kita tidak sedang memberikan kemuliaan kepada Allah.
Kita sedang menerima kesempatan untuk hidup dalam ketaatan.
Lalu untuk Apa Kita Beribadah?
Jawabannya telah kita temukan pada bagian sebelumnya.
Allah memerintahkan ketaatan karena manfaatnya kembali kepada manusia.
Salat membentuk manusia.
Puasa melatih manusia.
Zakat dan sedekah membersihkan hubungan manusia dengan harta.
Zikir mengingatkan manusia agar tidak tenggelam dalam kelalaian.
Akhlak yang baik memperbaiki hubungan manusia dengan sesama.
Maka ketika seseorang beribadah, sebenarnya ia sedang mengerjakan kebutuhan dirinya sendiri sebagai hamba.
Bukan sedang membantu Allah.
Bahaya Merasa Diri Dibutuhkan
Ada penyakit batin yang sangat halus:
merasa bahwa tanpa dirinya, kebaikan tidak akan berjalan.
Seseorang merasa:
“Kalau bukan saya yang mengurusnya, tidak akan selesai.”
Dalam pekerjaan sosial, dakwah, organisasi, bahkan kegiatan keagamaan, perasaan semacam ini bisa muncul.
Padahal Allah tidak bergantung kepada satu manusia.
Jika seseorang berhenti dari suatu kebaikan karena alasan tertentu, Allah mampu membuka jalan melalui orang lain.
Kesadaran ini bukan alasan untuk menjadi malas.
Justru sebaliknya.
Kita tetap bekerja sebaik mungkin, tetapi tidak menganggap diri sebagai pusat dari segala sesuatu.
Perspektif Kun Alfa — Alfa Media Sulukk.my.id
Menurut perspektif penulis, Kun Alfa, salah satu tanda hati mulai matang adalah ketika seseorang mampu berbuat baik tanpa merasa dunia berutang kepadanya.
Ini penting dalam kehidupan sehari-hari.
Kita membantu seseorang.
Tetapi jangan merasa orang itu harus selamanya berterima kasih.
Kita membuat karya.
Tetapi jangan merasa semua orang wajib mengakui karya kita.
Kita beribadah.
Tetapi jangan merasa Allah berutang sesuatu kepada kita.
Kita berdakwah.
Tetapi jangan merasa kebenaran menjadi milik pribadi kita.
Sebab ketika seseorang merasa terlalu penting, ia mudah kecewa ketika tidak dihargai.
Sebaliknya, ketika ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang diberi kesempatan, hatinya menjadi lebih ringan.
Ia tetap bekerja.
Tetap berkarya.
Tetap berbuat baik.
Tetapi tidak menjadikan penghargaan manusia sebagai ukuran utama nilai dirinya.
Berbuat Baik Tanpa Menjadi Pusat Perhatian
Inilah salah satu latihan keikhlasan.
Lakukan kebaikan ketika diketahui orang.
Lakukan pula ketika tidak diketahui.
Terima penghargaan jika datang.
Tetapi jangan mencarinya sebagai tujuan utama.
Sebab jika hati bergantung pada pengakuan, maka kebaikan yang seharusnya menjadi ibadah dapat berubah menjadi kebutuhan ego.
Kita mulai membutuhkan tepuk tangan.
Membutuhkan pujian.
Membutuhkan pengakuan.
Membutuhkan komentar positif.
Dan akhirnya kita tidak lagi sekadar bertanya:
“Apakah ini benar?”
Tetapi:
“Apakah orang lain akan menganggap saya baik?”
Di sinilah hati mulai bergeser.
Jangan Berhenti Beramal karena Takut Tidak Ikhlas
Ada kesalahpahaman yang juga perlu dihindari.
Setelah mengetahui bahaya riya, seseorang kadang menjadi takut melakukan kebaikan.
Takut dianggap pamer.
Takut dianggap alim.
Takut dianggap saleh.
Akhirnya ia memilih tidak berbuat.
Padahal obat riya bukan meninggalkan kebaikan.
Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki niat sambil tetap beramal.
Jika memang ada kebaikan yang harus dilakukan, lakukan.
Jika ada orang yang perlu ditolong, tolong.
Jika ada kewajiban yang harus ditunaikan, tunaikan.
Kemudian terus periksa hati.
Ketika Orang Tidak Menghargai Kita
Ini salah satu latihan paling nyata.
Kita sudah berusaha.
Tetapi tidak dipuji.
Kita membantu.
Tetapi tidak diingat.
Kita memberikan waktu.
Tetapi orang lain menganggapnya biasa.
Di sinilah kita dapat melihat:
Apakah kita melakukan kebaikan karena Allah, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?
Tentu manusia tetap memiliki perasaan.
Tidak dihargai bisa menyakitkan.
Tidak perlu berpura-pura tidak sakit.
Namun jangan biarkan rasa kecewa itu mengubah kita menjadi orang yang berhenti berbuat baik.
Allah Tidak Bertambah karena Kita, tetapi Kita Bertumbuh karena-Nya
Inilah inti hikmah ini.
Kemuliaan Allah tidak membutuhkan tambahan dari kita.
Tetapi kehidupan kita membutuhkan petunjuk-Nya.
Kita yang membutuhkan doa.
Kita yang membutuhkan ibadah.
Kita yang membutuhkan ampunan.
Kita yang membutuhkan pertolongan.
Kita yang membutuhkan cahaya petunjuk.
Maka semakin seseorang mengenal ketidakbergantungannya Allah kepada makhluk, semakin ia memahami ketergantungannya sendiri kepada Allah.
Dan dari sanalah lahir kehambaan yang lebih jujur.
Muhasabah
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya merasa terlalu penting dalam kebaikan yang saya lakukan?
Apakah saya kecewa ketika amal saya tidak dihargai?
Apakah saya lebih senang ketika orang mengetahui kebaikan saya daripada ketika kebaikan itu benar-benar bermanfaat?
Jika tidak ada seorang pun yang memuji, apakah saya tetap mau berbuat baik?
Dan terakhir:
Apakah saya beribadah untuk membesarkan nama saya, atau untuk menyadari kebesaran Allah?
Pertanyaan ini sederhana.
Tetapi jawabannya dapat membuka banyak lapisan dalam hati.
Penutup: Kita Hanya Hamba yang Diberi Kesempatan
Kita sering mengatakan:
“Saya telah melakukan banyak hal untuk Allah.”
Hikmah ini mengajak kita memperbaiki kalimat itu.
Bukan:
“Saya telah memberikan sesuatu kepada Allah.”
Tetapi:
“Allah telah memberikan saya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baik.”
Perbedaan kalimat itu kecil.
Tetapi dampaknya terhadap hati sangat besar.
Yang pertama dapat melahirkan kebanggaan.
Yang kedua melahirkan syukur.
Dan mungkin di situlah salah satu pintu keikhlasan:
tidak lagi melihat diri sebagai orang yang berjasa kepada Allah, tetapi sebagai hamba yang terus-menerus menerima karunia-Nya.
Hashtag
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #ikhlas #ibadah #muhasabah #tawadhu #ujub #riya #ketaatan #spiritualitas #penyucianjiwa #kunalfa #alfamedia #mualif
Penulis : Mualif | Kunalfa | Alfa Media
%20(1)%20(1).png)