Menyusuri Jejak Spiritual Komplek Makam Gunung Pring dan Karomah Mbah Dalhar Watucongol Magelang
Kecamatan Muntilan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyimpan salah satu pusat ziarah dan sejarah Islam paling penting di Pulau Jawa, yaitu kawasan Gunung Pring. Dinamakan Gunung Pring karena bukit setinggi kurang lebih 400 meter di atas permukaan laut ini dahulu dipenuhi oleh pepohonan bambu (pring dalam bahasa Jawa). Di atas bukit inilah terletak sebuah komplek pemakaman para wali, bangsawan penyebar Islam, serta ulama besar yang menjadi rujukan umat Islam Nusantara.
Sejarah Komplek Makam Gunung Pring dan Kyai Raden Santri
Pusat dari komplek makam keramat di Gunung Pring adalah makam Kyai Raden Santri atau yang memiliki nama asli Pangeran Singosari.
Meskipun lahir dari darah biru keluarga istana, Pangeran Singosari memilih menanggalkan atribut kemewahan duniawi demi mengabdikan diri menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kedu dan sekitarnya. Dakwah yang beliau usung dikenal sangat santun, damai, dan merangkul masyarakat. Setelah wafat, bukit tempat beliau dimakamkan menjadi titik suci yang kemudian diikuti oleh dimakamkannya banyak keturunan, laskar, dan para ulama besar di sekitarnya, menjadikannya komplek makam para kekasih Allah yang tak pernah sepi dari peziarah.
Mbah Dalhar Watucongol: Permata Ulama Nusantara
Nama besar lain yang membuat Gunung Pring (khususnya wilayah Watucongol yang berada di kaki/kawasan bukit tersebut) sangat mashur di dunia Islam adalah K.H. Nahrowi Dalhar, atau yang lebih dikenal luas sebagai Mbah Dalhar Watucongol.
Beliau lahir di komplek Pesantren Darussalam, Watucongol, pada 12 Januari 1870 M (10 Syawal 1286 H).
Perjalanan Intelektual dan Kepemimpinan Tarekat
Mbah Dalhar menghabiskan waktu yang sangat panjang untuk menimba ilmu di tanah suci Makkah dan Madinah—tercatat kurang lebih selama 25 tahun. Di sana, beliau berguru kepada banyak ulama besar dunia. Salah seorang gurunya, Syaikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani, adalah yang memberikan nama "Dalhar" kepada beliau (nama aslinya adalah Nahrowi).
Selain menguasai berbagai cabang ilmu syariat, fikih, dan tafsir, Mbah Dalhar juga dikenal sebagai seorang mursyid agung Tarekat Syadziliyah.
Teladan dan Warisan Spiritual
Selain menjadi pusat pendidikan melalui Pondok Pesantren Darussalam Watucongol yang didirikannya, Mbah Dalhar juga mewarisi semangat nasionalisme. Di masa penjajahan, kediaman dan pesantren beliau sering menjadi tempat konsolidasi moral bagi para pejuang kemerdekaan, mengingat akar keluarga beliau yang erat dengan laskar Pangeran Diponegoro.
Ketika Mbah Dalhar wafat, beliau dimakamkan tidak jauh dari leluhurnya di komplek pemakaman Gunung Pring.
Tags
Mbah Dalhar, Watucongol, Gunung Pring, Kyai Raden Santri, Tarekat Syadziliyah, Pesantren Darussalam, Magelang, Wisata Religi, Sejarah Islam Jawa
Tidak ada komentar untuk "Menyusuri Jejak Spiritual Komplek Makam Gunung Pring dan Karomah Mbah Dalhar Watucongol Magelang"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."