Senang Dipuji, Sakit Dicela? Pelajaran Al-Hikam tentang Ikhlas dan Kebebasan Hati
SULUK DALAM II - Bagian XVI —
Ada sesuatu yang sangat halus dalam diri manusia.
Kita ingin dianggap baik.
Kita ingin dihargai.
Kita ingin dipuji.
Kita ingin orang lain melihat perjuangan kita.
Bahkan dalam urusan agama pun, hati kadang masih diam-diam bertanya:
“Apakah mereka melihat kebaikanku?”
Ketika dipuji, hati berbunga.
Ketika tidak dihargai, hati kecewa.
Ketika dicela, kita gelisah berhari-hari.
Padahal, jika nilai diri kita sepenuhnya bergantung pada penilaian manusia, maka ketenangan kita juga akan berada di tangan manusia.
Di sinilah pelajaran suluk menjadi sangat tajam:
Selama hati masih sibuk mengejar pandangan manusia, kita belum sepenuhnya merdeka.
Jangan Jadikan Pujian sebagai Cermin Diri
Pujian sebenarnya tidak selalu buruk.
Orang boleh menghargai kita.
Orang boleh mengucapkan terima kasih.
Orang boleh memuji sebuah kebaikan.
Yang menjadi masalah adalah ketika pujian mulai menjadi sumber utama harga diri.
Hari ini dipuji, kita merasa berharga.
Besok tidak dipuji, kita merasa tidak berguna.
Hari ini unggahan kita banyak disukai, hati senang.
Besok sepi, hati mulai mempertanyakan diri sendiri.
Hari ini orang mengatakan kita alim.
Besok ada yang mengkritik, kita marah.
Akhirnya kita tidak lagi melakukan sesuatu karena benar.
Kita melakukannya karena ingin dilihat benar.
Ada Perbedaan antara Ikhlas dan Tidak Peduli
Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh senang ketika mendapatkan penghargaan.
Ikhlas juga bukan berarti kita harus membenci pujian.
Dan ikhlas bukan berarti kita tidak boleh menerima apresiasi.
Yang lebih penting adalah:
siapa yang menjadi tujuan utama amal kita?
Jika manusia memuji, kita bersyukur tetapi tidak mabuk pujian.
Jika manusia mencela, kita introspeksi tetapi tidak hancur oleh celaan.
Jika manusia tidak melihat, kita tetap melakukan kebaikan.
Inilah latihan kebebasan batin.
Mengapa Celaan Begitu Menyakitkan?
Kadang yang menyakitkan bukan perkataan orang.
Yang lebih menyakitkan adalah gambaran diri kita yang tiba-tiba rusak.
Kita ingin dianggap sabar.
Lalu seseorang mengatakan kita kasar.
Kita ingin dianggap bijaksana.
Lalu seseorang menunjukkan kesalahan kita.
Kita ingin dianggap baik.
Lalu seseorang mengungkap kekurangan kita.
Hati langsung melawan:
“Saya bukan seperti itu!”
Mengapa?
Karena kita mempunyai citra tentang diri sendiri.
Dan kita ingin orang lain mempercayai citra itu.
Padahal seorang sālik justru belajar melihat:
“Mungkin ada sesuatu dalam kritik itu yang perlu saya periksa.”
Tidak semua kritik benar.
Tetapi tidak semua kritik harus ditolak.
Kritik Bukan Musuh
Ini penting agar pembahasan tentang ikhlas tidak berubah menjadi pembenaran diri.
Ketika seseorang mengkritik kita, jangan langsung berkata:
“Saya tidak peduli omongan manusia.”
Kalimat itu bisa menjadi kesombongan baru.
Seorang sālik tetap perlu mendengar.
Jika kritiknya benar, terima.
Jika salah, tidak perlu membalas dengan kebencian.
Jika ada fitnah, kita boleh menjelaskan.
Jika ada ketidakadilan, kita boleh membela diri.
Tetapi jangan sampai kritik orang lain menguasai seluruh kehidupan batin kita.
Dengarkan manusia, tetapi jangan jadikan manusia sebagai Tuhan atas harga dirimu.
Hubungan dengan Ujub
Bagian sebelumnya membahas ujub.
Sekarang kita menemukan akar yang sangat dekat dengannya.
Ujub berkata:
“Saya hebat karena amal saya.”
Riya berkata:
“Saya ingin amal saya dilihat.”
Takut celaan berkata:
“Saya harus menjaga citra saya di hadapan manusia.”
Ketiganya dapat bertemu pada satu titik:
terlalu memperhatikan diri sendiri.
Karena itu, penyakit hati bukan selalu tentang membenci orang lain.
Kadang penyakit hati justru tentang terlalu sibuk memikirkan bagaimana diri kita terlihat.
Ketika Media Sosial Menjadi Cermin Hati
Ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang.
Kita mengunggah sesuatu.
Kemudian melihat:
berapa yang menyukai,
berapa yang berkomentar,
siapa yang melihat,
siapa yang tidak merespons.
Tidak ada yang salah dengan menggunakan media sosial.
Masalahnya adalah ketika ketenangan batin mulai bergantung pada angka-angka tersebut.
Satu unggahan mendapat banyak respons:
“Berarti saya berharga.”
Satu unggahan sepi:
“Berarti saya tidak dianggap.”
Padahal angka tidak pernah bisa menjadi ukuran nilai seseorang di hadapan Allah.
Karena itu, kita perlu bertanya:
Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui kebaikan yang saya lakukan, apakah saya masih mau melakukannya?
Pertanyaan ini sederhana.
Tetapi jawabannya dapat membuka keadaan hati.
Lahir dan Batin
Makna lahir
Secara lahir, kita tetap harus menjaga hubungan baik dengan manusia.
Kita perlu menghormati orang.
Menerima nasihat.
Menjaga nama baik dengan cara yang wajar.
Meminta maaf ketika salah.
Dan memperbaiki perilaku ketika dikritik.
Ikhlas bukan alasan untuk menjadi orang yang tidak peduli terhadap akibat perbuatannya.
Makna batin
Secara batin, kita belajar memindahkan pusat perhatian:
dari “Bagaimana manusia melihat saya?”
menjadi:
“Bagaimana Allah melihat saya?”
Bukan berarti kita mengabaikan manusia.
Tetapi kita tidak menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran terakhir tentang siapa diri kita.
Latihan Kecil untuk Membebaskan Hati
Cobalah sesekali melakukan kebaikan yang tidak diketahui siapa pun.
Sedekah tanpa perlu menceritakannya.
Membantu seseorang tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Mendoakan seseorang tanpa memberitahunya.
Mengerjakan tugas dengan baik meskipun tidak ada yang memuji.
Menahan perkataan buruk meskipun tidak ada yang mengetahui.
Di situlah hati belajar:
“Saya tidak membutuhkan penonton untuk melakukan kebaikan.”
Ini bukan berarti semua amal harus dirahasiakan.
Ada amal yang memang baik dilakukan secara terbuka agar menjadi teladan.
Tetapi memiliki ruang amal yang hanya diketahui Allah dapat menjadi latihan penting bagi hati.
Ketika Tidak Dipuji, Jangan Berarti Amalmu Tidak Berarti
Ada orang yang berhenti berbuat baik hanya karena tidak dihargai.
Padahal penghargaan manusia bukan ukuran diterima atau tidaknya amal.
Bisa jadi manusia tidak melihat.
Tetapi Allah melihat.
Bisa jadi manusia lupa.
Tetapi Allah tidak lupa.
Bisa jadi kebaikan kita tidak pernah dibicarakan.
Tetapi bukan berarti ia tidak memiliki nilai.
Maka jangan jadikan tepuk tangan manusia sebagai bahan bakar utama kehidupan spiritual.
Sebab tepuk tangan dapat berhenti kapan saja.
Muhasabah
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya lebih bersemangat ketika kebaikan saya diketahui orang?
Apakah saya kecewa ketika usaha saya tidak dihargai?
Apakah kritik kecil bisa merusak ketenangan saya sepanjang hari?
Apakah saya terlalu sibuk membangun citra baik daripada benar-benar menjadi baik?
Dan yang paling penting:
Jika tidak ada satu pun manusia yang mengetahui amal saya, apakah saya masih ingin melakukannya?
Jika jawabannya belum, jangan langsung menyalahkan diri.
Justru itulah tempat latihan dimulai.
Penutup
Manusia boleh mengenal kita.
Manusia boleh menghargai kita.
Manusia boleh memuji kita.
Tetapi jangan serahkan kunci hati kepada mereka.
Sebab ketika manusia menjadi penentu harga diri kita, kita akan hidup dalam ketakutan:
takut tidak disukai,
takut tidak dihargai,
takut dicela,
takut dilupakan.
Padahal manusia berubah.
Hari ini memuji.
Besok mencela.
Hari ini mendekat.
Besok menjauh.
Hari ini mengingat.
Besok melupakan.
Jika hati bergantung kepada mereka, kita akan terus terombang-ambing.
Maka belajar ikhlas berarti belajar membebaskan hati dari kebutuhan untuk selalu terlihat baik.
Bukan berarti kita berhenti menjadi baik.
Justru sebaliknya.
Kita berusaha menjadi baik meskipun tidak dilihat.
Kita berbuat benar meskipun tidak dipuji.
Kita memperbaiki diri meskipun tidak ada yang mengetahui.
Dan ketika celaan datang, kita tidak langsung hancur.
Kita bertanya:
“Apa yang harus saya perbaiki?”
Lalu setelah mengambil pelajarannya, kita kembali berjalan.
Karena tujuan seorang sālik bukan menjadi manusia yang selalu dipuji.
Tetapi menjadi hamba yang tetap berada di jalan kebenaran, baik ketika dipuji maupun ketika tidak dipuji.
Hashtag:
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam
#alhikam #ibnathaillah #tasawuf #suluk #hikmah #ikhlas #ujub #riya #muhasabah #hati #penilaianorang #renungandiri #kehidupanseharihari
Tidak ada komentar untuk "Senang Dipuji, Sakit Dicela? Pelajaran Al-Hikam tentang Ikhlas dan Kebebasan Hati"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."