SULUK DALAM Bagian XIX
SULUK DALAM
Bagian XIX —
Catatan penting: setelah saya cocokkan kembali urutan teks al-Ḥikam , ada satu hal yang perlu diluruskan dari bagian sebelumnya. Dalam sumber yang memuat urutan 264 Hikmah, teks “جَعَلَكَ فِي الْعَالَمِ الْمُتَوَسِّطِ...” adalah Hikmah 245 , sedangkan “إِنَّمَا وَسِعَكَ الْكَوْنُ…” adalah Hikmah 246 . Jadi bagian ini dimulai tepat dari Hikmah 247 . Urutan 247–261 berikut mengikuti teks tersebut.
Hikmah 247
الْكَائِنُ فِي الْكَوْنِ وَلَمْ تُفْتَحْ لَهُ مَيَادِينُ الْغُيُوبِ، Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan
“Orang yang berada di dalam alam, namun belum dibukakan baginya medan-medan gaib, adalah orang yang terpenjara oleh lingkungannya dan terkurung dalam kerangka dirinya.”
Tentang Hikmah Ini
Ibnu 'Aṭā'illāh tidak sedang mengatakan bahwa manusia harus meninggalkan dunia secara fisik.
Yang dimaksud adalah keterkungkungan cara pandang.
Seseorang bisa hidup di tengah dunia, namun seluruh pikirannya hanya berputar pada:
harta, kedudukan, kenyamanan, penilaian manusia, dan kepentingan dirinya.
Ia melihat yang tampak, namun tidak mampu menangkap makna yang lebih dalam di baliknya.
Bab Suluk: Membuka Kesadaran Medan
Suluk mengajak manusia keluar dari penjara dengan pemandangan yang sempit.
Bukan meninggalkan dunia, melainkan melihat dunia dengan hati yang lebih sadar kepada Allah .
Dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir.
Dunia menjadi ayat, tanda, dan tempat mengambil pelajaran.
Hikmah 248
أَنْتَ مَعَ الْأَكْوَانِ مَا لَمْ تَشْهَدِ الْمُكَوِّنَ، فَإِذَا شَهِدْتَهُ كَانَتِ الْأَكْوَانُ مَعَكَ
“Engkau bersama segala sesuatu selama kamu belum menyaksikan Sang Pencipta. Ketika kamu menyaksikan-Nya, segala sesuatu menjadi bersamamu.”
Tentang Hikmah Ini
Selama hati hanya melihat benda, manusia akan terikat pada benda.
Ia melihat rezeki, tapi lupa untuk Pemberi rezeki.
Melihat manusia yang membantu, namun lupa kepada Allah yang menjadikan bantuan itu terjadi.
Melihat sebab, tetapi lupa kepada Musabbib al-Asbāb—Pencipta segala sebab.
Ketika kesadaran kepada Allah tumbuh, pandangan berubah.
Bukan berarti alam hilang.
Justru alam dilihat dengan kesadaran akan Allah .
Bab Suluk: Dari Melihat Ciptaan kepada Sang Pencipta
Inilah salah satu perubahan penting dalam suluk:
bukan berhenti melihat alam, tapi berhenti menjadikan alam sebagai tujuan terakhir melihat hati.
Hikmah 249
لَا يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوتِ الْخُصُوصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ، تَارَةً Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan يَقْبِضُ ذَلِكَ عَنْكَ فَيَرُدُّكَ إِلَى حُدُودِكَ، فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، وَلَكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ
"Adanya kekhususan pada diri seseorang tidak berarti hilangnya sifat kemanusiaannya. Kekhususan itu seperti terbitnya matahari siang: ia tampak di ufuk, tetapi bukan berasal dari ufuk itu. Kadang-kadang matahari sifat-sifat-Nya bersinar di atas malam keberadaanmu, dan kadang-kadang hal itu ditarik darimu sehingga kau dikembalikan kepada batas-batas kemanusiaanmu. Siang itu bukan berasal darimu dan bukan pula milikmu; ia hanyalah sesuatu yang datang padamu."
Tentang Hikmah Ini
Ini adalah peringatan agar seseorang tidak tertipu oleh pengalaman spiritual .
Seseorang mungkin mengalami saat-saat hati yang sangat terang:
ibadah terasa ringan,
zikir terasa nikmat,
hati mudah menangis,
dan kesadaran kepada Allah terasa kuat.
Tetapi keadaan itu dapat berubah.
Ada saat terang.
Ada saat gelap.
Ada saat terbuka.
Ada saat kembali ke kelemahan manusia.
Bab Suluk: Jangan Mengaku Memiliki Cahaya
Cahaya itu datang .
Karena itu jangan dianggap:
“Aku sudah mencapai derajat tertentu.”
Ketika cahaya ditarik, manusia kembali melihat kelemahan dirinya.
Justru di situlah adab seorang salik diuji.
Hikmah 250
دَلَّ بِوُجُودِ آثَارِهِ عَلَى وُجُودِ أَسْمَائِهِ، وَبِوُجُودِ Pengoperasian Perangkat Keras yang Dapat Diandalkan عَلَى وُجُودِ ذَاتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَقُومَ الْوَصْفُ بِنَفْسِهِ، فَأَهْلُ الْجَذْبِ يَكْشِفُ لَهُمْ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ، ثُمَّ يَرُدُّهُمْ إِلَى شُهُودِ صِفَاتِهِ، ثُمَّ يَرُدُّهُمْ إِلَى التَّعَلُّقِ بِأَسْمَائِهِ، ثُمَّ يَرُدُّهُمْ إِلَى شُهُودِ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan تَدَلِّيهِ
“Dia menunjukkan keberadaan nama-nama-Nya melalui keberadaan آثار-Nya, menunjukkan ketetapan sifat-sifat-Nya melalui nama-nama-Nya, dan menunjukkan keberadaan Zat-Nya melalui sifat-sifat-Nya; karena tidak mungkin suatu sifat berdiri sendiri. Orang-orang yang jadzb dibukakan kepada mereka kesempurnaan Zat-Nya, kemudian dikembalikan ke penyaksian sifat-sifat-Nya, lalu kepada mereka berlanjut dengan nama-nama-Nya, kemudian kepada penyaksian آثار-Nya. sālik menempuh kebalikannya. Akhir perjalanan para sālik menjadi awal perjalanan para majdzūb, meskipun tidak dalam makna yang sama. Keduanya terkadang bertemu di jalan: yang satu dalam pendakiannya dan yang lain dalam turunnya.”
Tentang Hikmah Ini
Hikmah ini termasuk pembahasan yang lebih dalam mengenai jadzb dan suluk .
Secara sederhana:
sālik adalah orang yang menempuh jalan dengan latihan, ibadah, mujahadah, adab, dan perjalanan bertahap.
Sedangkan majdzūb menggambarkan orang yang mengalami tarikan atau pembukaan spiritual yang kuat dari Allah.
Ibnu 'Aṭā'illāh menunjukkan bahwa jalan keduanya dapat berbeda, tetapi tujuan akhirnya dapat bertemu.
Bab Suluk: Jalan yang Berbeda
Tidak semua perjalanan spiritual berlangsung dengan pola yang sama.
Ada yang bertahap:
amal → disiplin → penyucian → kesadaran → ma'rifat.
Ada pula yang mengalami pembukaan batin yang sangat kuat terlebih dahulu, kemudian harus belajar menata dan menjalani kehidupan berdasarkan pembukaan tersebut.
Namun keduanya tetap memerlukan adab dan istiqamah .
Hikmah 251
لَا يُعْلَمُ قَدْرُ أَنْوَارِ الْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ إِلَّا فِي غَيْبِ الْمَلَكُوتِ، كَمَا لَا تَظْهَرُ أَنْوَارُ السَّمَاءِ إِلَّا فِي شَهَادَةِ الْمُلْكِ
“Nilai cahaya hati dan rahasia-rahasia batin tidak diketahui kecuali di alam malakut, sebagaimana cahaya langit tidak tampak kecuali di alam kesaksian.”
Tentang Hikmah Ini
Ada kualitas batin yang tidak dapat diukur oleh penampilan lahir.
Seseorang mungkin tampak biasa saja.
Tidak terkenal.
Tidak banyak bicara.
Tidak memiliki kedudukan.
Tetapi hatinya bisa hidup sangat di hadapan Allah.
Sebaliknya, seseorang bisa terlihat sangat saleh di hadapan manusia tetapi keadaan batinnya belum tentu demikian.
Bab Suluk: Jangan Mengukur Hati dengan Penampilan
Karena itu seorang salik tidak sibuk mengukur dirinya dengan penampilan orang lain.
Ia lebih sibuk bertanya:
“Bagaimana keadaan dihadapan Allah?”
Hikmah 252
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Panduan Pengguna
“Merasakan buah-buah ketaatan di dunia merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beramal bahwa kelak akan ada balasan atas ketaatan itu.”
Tentang Hikmah Ini
Ketaatan memiliki buah.
Shalat dapat menghadirkan ketenangan.
Zikir dapat melembutkan hati.
Sedekah dapat membersihkan sifat kikir.
Puasa dapat melatih pengendalian diri.
Buah tersebut merupakan tanda yang menggembirakan.
Tetapi jangan menyimpulkan bahwa setiap ibadah harus selalu menghasilkan rasa nikmat .
Kadang-kadang buah ketaatan berupa kesabaran.
Kadang berupa kemampuan meninggalkan dosa.
Kadang-kadang berupa keteguhan ketika menghadapi ujian.
Bab Suluk: Buah Amal
Ukuran keberhasilan amal tidak selalu terasa nyaman.
buahnya justru:
menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih mampu menahan diri.
Hikmah 253
كَيْفَ تَطْلُبُ الْعِوَضَ عَلَى عَمَلٍ هُوَ مُتَصَدَّقٌ بِهِ عَلَيْكَ؟ أَمْ كَيْفَ تَطْلُبُ الْجَزَاءَ عَلَى صِدْقٍ هُوَ مُهْدِيهِ إِلَيْكَ؟
"Bagaimana kamu meminta ketidakseimbangan atas amal yang sebenarnya merupakan pemberian sedekah Allah kepadamu? Atau bagaimana kamu meminta balasan atas ketulusan yang sebenarnya Dia sendiri yang menghadiahkannya padamu?"
Tentang Hikmah Ini
Ini merupakan pembongkaran terhadap rasa berjasa dalam beribadah .
Kita shalat karena Allah memberi kemampuan untuk shalat.
Kita berzikir karena Allah memberi kemampuan untuk mengingat-Nya.
Kita bersedekah karena Allah memberi rezeki yang dapat disedekahkan.
Bahkan keikhlasan itu sendiri merupakan karunia.
Maka bagaimana seorang hamba merasa:
“Aku telah memberikan sesuatu kepada Allah”?
Padahal kemampuan untuk memberi itu sendiri datang dari-Nya.
Bab Suluk: Melihat Amal sebagai Karunia
Semakin dalam seseorang memahami hal ini, semakin berkurang rasa bangga terhadap amal.
Ia tetap beramal.
Namun hatinya berkata:
“Ya Allah, terimalah. Karena tanpa pertolongan-Mu, aku tidak mampu.”
Hikmah 254
تَسْبِقُ أَنْوَارُهُمْ أَذْكَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَسْبِقُ Layanan Pelanggan yang Dapat Diatur وَأَنْوَارُهُمْ، وَقَوْمٌ لَا أَنْوَارَ وَلَا أَذْكَارَ، نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ
“Ada orang-orang yang cahayanya mendahului zikir mereka. Ada yang zikirnya mendahului cahayanya. Ada yang zikir dan cahayanya seimbang. Dan ada yang tidak memiliki cahaya maupun zikir. Kami berlindung kepada Allah dari keadaan demikian.”
Tentang Hikmah Ini
Ibnu 'Aṭā'illāh menggambarkan tingkatan hubungan antara zikir dan cahaya hati .
Ada orang yang hatinya telah hidup sehingga zikir keluar dari hati yang penuh kesadaran.
Ada yang terus berzikir terlebih dahulu hingga zikir tersebut menjadi sebab terbukanya hati.
Ada yang keduanya berjalan bersama.
Dan ada keadaan yang sangat memprihatinkan: hati tidak memiliki cahaya dan lidah tidak memiliki zikir.
Bab Suluk: Jangan Menunggu Hati Sempurna untuk Berzikir
Ini penting.
Jangan berkata:
“Nanti kalau hati sudah khusyuk baru aku berzikir.”
Justru zikir dapat menjadi jalan untuk mendidik hati agar menjadi khusyuk .
Hikmah 255
ذَاكِرٌ ذَكَرَ لِيَسْتَنِيرَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَذَاكِرٌ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Layanan Pelanggan يُهْتَدَى وَبِنُورِهِ يُقْتَدَى
"Ada orang yang berzikir agar hatinya menjadi bercahaya, maka ia menjadi seorang yang berzikir. Ada orang yang hatinya telah bersinar lalu ia berzikir, maka ia pun seorang yang berzikir. Dan orang yang zikir serta cahayanya seimbang, melalui zikirnya orang mendapat petunjuk dan melalui cahayanya orang mendapat teladan."
Tentang Hikmah Ini
Di sini terlihat bahwa zikir memiliki doa arah.
Pertama:
zikir untuk melindungi hati.
Kedua:
hati yang telah memperoleh cahaya kemudian semakin banyak berzikir.
keduanya sama-sama baik.
Yang penting adalah zikir yang tidak berhenti sebagai gerakan lisan.
Bab Suluk: Dari Lisan ke Hati
Zikir yang matang bergerak:
lisan → hati → kesadaran → perilaku.
Jika lidah menyebut Allah tetapi perilaku terus menerus bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini, maka prosesnya masih perlu diperbaiki.
Hikmah 256
مَا كَانَ ظَاهِرُ ذِكْرٍ إِلَّا عَنْ بَاطِنِ شُهُودٍ وَفِكْرٍ
“Tidaklah tampak zikir secara lahir kecuali berasal dari penyaksian dan pemikiran batin.”
Tentang Hikmah Ini
Zikir yang benar tidak muncul dari ruang kosong.
Ia lahir dari kesadaran.
Seseorang berzikir karena menyadari bahwa dirinya membutuhkan Allah.
Ia berzikir karena memutar-mutar nikmat-Nya.
Ia berzikir karena menyadari kelemahan dirinya.
Ia berzikir karena memikirkan kebesaran Allah.
Bab Suluk: Zikir dan Fikir
Zikir menjaga hubungan hati dengan Allah.
Fikir menghidupkan kesadaran terhadap tanda-tanda-Nya.
keduanya menguatkan.
Hikmah 257
أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَكَ، فَنَطَقَتْ Layanan Pelanggan الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ
“Dia telah hadir menyaksikan-Nya sebelum meminta kesaksian darimu. Maka anggota-anggota lahiriah berbicara tentang keilahian-Nya, dan hati serta rahasia batin menjadi nyata dalam pengakuan akan keesaan-Nya.”
Tentang Hikmah Ini
Sebelum manusia menyebut nama Allah, manusia telah hidup dalam tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Sebelum lidah berkata:
“La ilaha illa Allah,”
Keberadaannya telah menunjukkan bahwa tidak ada yang berdiri sendiri tanpa kehendak-Nya.
Maka zikir bukan menciptakan Allah dalam kesadaran kita.
Zikir adalah menyadarkan kita kepada apa yang sejak awal telah menjadi kenyataan .
Hikmah 258
أَكْرَمَكَ بِكَرَامَاتٍ ثَلَاثٍ: جَعَلَكَ ذَاكِرًا لَهُ، وَلَوْلَا فَضْلُهُ لَمْ تَكُنْ أَهْلًا لِجَرَيَانِ ذِكْرِهِ عَلَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا بِهِ إِذْ حَقَّقَ نِسْبَتَهُ لَدَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُورًا عِنْدَهُ فَتَمَّمَ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ
“Dia memuliakanmu dengan tiga kemuliaan: menjadikanmu orang yang berzikir kepada-Nya—dan jika bukan karena karunia-Nya, engkau tidak akan layak bagi mengalirnya zikir-Nya atasmu; menjadikanmu disebut melalui-Nya setelah Dia membangun hubungan zikir itu kamu; dan menjadikanmu disebut di sisi-Nya, sehingga Dia menikmati kenikmatan-Nya atasmu.”
Tentang Hikmah Ini
Perhatikan tiga lapisan kemuliaan:
Engkau mengingat Allah.
Allah menjadikanmu layak untuk mengingat-Nya.
Allah menjadikanmu termasuk orang yang disebut di sisi-Nya.
Maka jangan meremehkan satu kali zikir yang dilakukan dengan tulus.
Bisa jadi kita menganggap:
“Aku yang sedang mengingat Allah.”
Padahal sebelum itu, Allah telah memberi kemampuan, kesempatan, kesehatan, dan kesadaran untuk mengingat-Nya.
Hikmah 259
رُبَّ عُمْرٍ اتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَقَلَّتْ أَمْدَادُهُ، وَرُبَّ عُمْرٍ قَلِيلَةٌ آمَادُهُ أَمْدَادُهُ
“Betapa banyak umur yang panjang waktunya tetapi sedikit keberkahannya. Dan betapa banyak umur yang singkat waktunya tetapi banyak keberkahannya.”
Tentang Hikmah Ini
Panjang umur tidak otomatis berarti banyak kehidupan.
Seseorang bisa hidup puluhan tahun tetapi sedikit sekali menghasilkan kebaikan.
Sebaliknya, ada orang yang hidup relatif singkat tetapi meninggalkan ilmu, amal, keteladanan, dan manfaat yang terus mengalir.
Maka yang penting bukan hanya:
Berapa lama hidup?
Tetapi:
apa yang terjadi dalam hidup itu?
Bab Suluk: Barakah Waktu
Barakah membuat waktu yang sedikit menghasilkan sesuatu yang besar.
Satu jam yang digunakan dengan kesadaran dapat bernilai lebih dari berjam-jam yang dilalui dalam kelalaian.
Hikmah 260
مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمْرِهِ أَدْرَكَ فِي يَسِيرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ، وَلَا تَلْحَقُهُ الْإِشَارَةُ
“Barang siapa yang diberi umurnya, ia dapat memperoleh dalam waktu yang singkat berbagai karunia Allah yang tidak dapat dijangkau oleh lingkaran kata-kata dan tidak dapat dilukiskan oleh isyarat.”
Tentang Hikmah Ini
Barakah umur bukan berarti seseorang memiliki waktu lebih panjang dari orang lain.
Barakah berarti hasil batinnya jauh melampaui ukuran waktunya .
Ada orang yang dalam waktu singkat mempelajari sesuatu yang mengubah seluruh hidupnya.
Ada yang melalui satu peristiwa kemudian dikonversi.
Ada yang membaca satu ayat lalu cara pandangnya berubah.
Ada yang mengalami satu kehilangan lalu menemukan kembali arah hidupnya.
Itulah kemungkinan keberkahan.
Hikmah 261
الْخِذْلَانُ كُلُّ الْخِذْلَانِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ ثُمَّ لَا تَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ، وَتَقِلَّ عَوَائِقُكَ ثُمَّ لَا تَرْحَلَ إِلَيْهِ
“Sebesar-besar kegagalan adalah ketika kamu telah terbebas dari berbagai kesibukan, namun tidak menghadap-Nya; dan ketika berbagai penghalangmu telah berkurang, tetapi kamu tidak berangkat menuju-Nya.”
Tentang Hikmah Ini
Ini adalah penutup yang sangat kuat.
Kadang manusia berkata:
“Nanti kalau sudah tidak sibuk, aku akan lebih dekat kepada Allah.”
Tetapi ketika kesibukan berkurang, ia tetap tidak menghadapinya.
Kemudian berkata:
“Jika masalahku selesai, aku akan memperbaiki ibadah.”
Masalah selesai.
Tetapi hati tetap tidak berubah.
Maka masalah sebenarnya bukan selalu kekurangan kesempatan .
Terkadang masalahnya adalah tidak adanya keinginan untuk menggunakan kesempatan tersebut .
Bab Suluk: Jangan Menunggu Kondisi Sempurna
Jangan menunggu hidup benar-benar tenang untuk mulai mendekat kepada Allah.
Karena hidup tidak pernah sepenuhnya bebas dari kesibukan.
Yang diperlukan adalah belajar menghadirkan Allah di tengah kehidupan yang sedang dijalani .
Benang Merah Hikmah 247–261
Bagian ini mempunyai alur yang sangat kuat.
247–248 mengajarkan manusia keluar dari keterkungkungan pandangan terhadap alam dan mulai melihat Sang Pencipta .
249–250 menjelaskan pengalaman spiritual, kekhususan, serta perbedaan jalan sālik dan majdzūb .
251–253 membawa kesadaran manusia kepada bahwa cahaya hati, buah ketaatan, dan kemampuan beramal semuanya merupakan karunia Allah.
254–258 kemudian masuk ke wilayah zikir : hubungan antara cahaya hati, zikir, fikir, dan kemuliaan orang yang mengingat Allah.
259–261 menutup rangkaian dengan tema umur, waktu barakah, dan bahaya menunda perjalanan kepada Allah .
Maka alurnya:
keluar dari penjara ego → Melihat Sang Pencipta → memahami cahaya hati → menyadari karunia → menghidupkan zikir → menjaga umur → jangan menunda perjalanan kepada Allah.
Muhasabah Bagian XVIII
Ada beberapa pertanyaan yang layak untuk diajukan:
Apakah aku memandang dunia hanya sebagai tempat memenuhi kebutuhan, atau juga sebagai tanda-tanda kebesaran Allah?
Apakah saya terlalu bangga ketika mendapatkan pengalaman spiritual tertentu?
Apakah aku menganggap amal sebagai jasaku, atau sebagai karunia Allah?
Ketika berzikir, apakah hanya lidahku yang bergerak, atau kesadaranku juga ikut hadir?
Berapa umur yang sudah berlalu tanpa benar-benar kuisi?
Dan yang paling penting:
Jika hari ini kesibukanku berkurang dan penghalangku disingkirkan, apakah aku benar-benar akan menghadap Allah?
penutup
Hikmah 247–261 mengajarkan bahwa perjalanan seorang salik semakin lama semakin halus.
Pada awalnya kita belajar meninggalkan dosa.
Kemudian belajar meninggalkan kemandirian kepadamakhluk.
Kemudian belajar tidak bergantung pada pengalaman spiritual.
Kemudian belajar tidak menyenangkan.
Kemudian belajar bahwa bahkan zikir kita sendiri adalah karunia Allah .
Dan akhirnya kita dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi:
umur.
Umur terus berjalan.
Waktu tidak menunggu kesiapan kita.
Kesempatan yang hilang tidak selalu kembali.
Karena itu Hikmah 261 menjadi seperti ketukan terakhir di pintu hati:
Jangan menunggu semua kesibukan hilang untuk menghadap Allah.
Sebab boleh jadi kesibukan memang berkurang, tapi hati tetap memilih diubah.
Dan boleh jadi penghalang sudah disingkirkan, tapi kita tetap tidak berangkat.
Umur barokah bukan pada panjangnya waktu, namun pada seberapa jauh waktu itu membawa hati kepada Allah.
Tanda pagar
#SulukDalam #SulukDalam264Hikmah #IbnuAthaillah #AlHikam #Hikmah247261 #Tasawuf #Suluk #TazkiyatunNafs #Zikir #Dzikir #Fikir #IlmuNafi #MaRifatullah #CahayaHati #Tawaduk #Jadzb #Salik #BarakahUmur #MenjagaWaktu #Muhasabah #PembersihanHati #KajianTasawuf #HikmahSufistik #JalanSpiritual #kunalfa #alfamedia #sulukk #sulukk.my.id
Tidak ada komentar untuk "SULUK DALAM Bagian XIX"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."