Al-Hikam tentang Melawan Hawa Nafsu dalam Mengambil Keputusan
Bagian XXV — Ketika Sulit Memilih: Pelajaran
Bab Suluk: Melatih Diri agar Mampu Memilih yang Benar, Bukan Sekadar yang Disukai
Dalam kehidupan, ada saat ketika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama terlihat baik. Tidak ada yang benar-benar jelas salah, tetapi hati terasa berat menentukan mana yang harus dipilih.
Kadang kita bertanya:
“Mana yang sebaiknya saya pilih?”
“Mengapa pilihan yang benar justru terasa berat?”
“Apakah sesuatu yang terasa sulit selalu berarti lebih baik?”
Ibn ‘Aṭā’illāh memberikan sebuah kaidah yang menarik untuk direnungkan:
Hikmah
إِذَا الْتَبَسَ عَلَيْكَ أَمْرَانِ، فَانْظُرْ إِلَى أَثْقَلِهِمَا عَلَى النَّفْسِ فَاتَّبِعْهُ، فَإِنَّهُ لَا يَثْقُلُ عَلَيْهَا إِلَّا مَا كَانَ حَقًّا
Terjemah makna:
“Apabila dua perkara menjadi samar bagimu, maka perhatikanlah mana di antara keduanya yang lebih berat bagi nafsu, lalu ikutilah yang itu. Sebab, tidaklah sesuatu terasa berat bagi nafsu kecuali karena di dalamnya terdapat kebenaran.”
Namun hikmah ini perlu dibaca dengan hati-hati.
Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sedang memberikan rumus bahwa “apa pun yang paling sulit pasti paling benar.” Dalam persoalan hukum, kewajiban, kesehatan, pekerjaan, keluarga, atau keputusan penting, seseorang tetap membutuhkan ilmu, pertimbangan yang matang, musyawarah, dan pengetahuan tentang akibatnya.
Hikmah ini terutama menjadi alat muhasabah terhadap hawa nafsu.
Pertanyaannya bukan sekadar:
“Mana yang lebih sulit?”
Tetapi:
“Mengapa pilihan ini terasa berat bagi diriku?”
Ketika yang Berat Justru Menyingkap Kejujuran Diri
Nafsu sering memilih sesuatu berdasarkan kenyamanan.
Ia menyukai pujian daripada kritik.
Menyukai keuntungan daripada pengorbanan.
Menyukai kebebasan daripada tanggung jawab.
Menyukai membalas daripada memaafkan.
Menyukai berbicara daripada mendengarkan.
Menyukai mendapatkan hak daripada menunaikan kewajiban.
Karena itu, ada kalanya sesuatu terasa berat bukan karena sesuatu itu buruk, tetapi karena ia bertentangan dengan kecenderungan ego kita.
Misalnya seseorang melakukan kesalahan kepada kita.
Ada dua pilihan:
Membalas dengan kata-kata yang menyakitkan atau menahan diri dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang lebih baik.
Pilihan kedua mungkin terasa jauh lebih berat.
Tetapi rasa berat itu sendiri perlu diperiksa.
Apakah karena pilihan itu memang tidak benar?
Ataukah karena ego kita tidak mendapatkan kepuasan?
Di sinilah muhasabah dimulai.
Lahir dan Batin: Berat Bukan Berarti Selalu Benar
Dalam kehidupan lahiriah, sesuatu yang sulit tidak otomatis lebih baik.
Belajar sesuatu yang sulit belum tentu lebih penting daripada sesuatu yang sederhana.
Pekerjaan yang berat belum tentu lebih mulia daripada pekerjaan yang ringan.
Bahkan dalam agama, seseorang tidak diperintahkan mencari kesulitan demi kesulitan.
Karena itu, hikmah ini jangan dijadikan alasan untuk sengaja menyusahkan diri.
Batin dari hikmah ini adalah kemampuan membedakan antara “berat karena kebenaran” dan “berat karena ketidaktahuan, ketakutan, atau keadaan yang memang tidak sehat.”
Ada sesuatu yang berat karena melawan kesombongan.
Tetapi ada pula sesuatu yang berat karena kita belum memahami caranya.
Ada yang berat karena menuntut disiplin.
Ada yang berat karena memang berada di luar kemampuan.
Ada yang berat karena membutuhkan keberanian.
Ada pula yang berat karena keputusan tersebut sebenarnya keliru.
Maka ukuran “berat bagi nafsu” harus ditempatkan bersama ilmu, akal sehat, tanggung jawab, dan pertimbangan yang benar.
Hawa Nafsu Tidak Selalu Berupa Dosa Besar
Ini bagian yang sering terlewat.
Hawa nafsu tidak selalu muncul dalam bentuk keinginan melakukan maksiat.
Kadang ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus:
“Aku ingin dipahami.”
“Aku ingin dianggap benar.”
“Aku tidak mau mengalah.”
“Aku ingin dihargai.”
“Aku ingin orang lain meminta maaf dulu.”
“Aku ingin hasilnya sesuai keinginanku.”
“Aku ingin terlihat paling tahu.”
“Aku tidak mau memulai lagi dari bawah.”
Semua itu belum tentu dosa.
Tetapi semuanya bisa menjadi bahan untuk mengenali bagaimana ego bekerja di dalam diri.
Karena itu, suluk bukan hanya meninggalkan sesuatu yang haram.
Suluk juga merupakan latihan untuk mengenali apa yang diam-diam mengendalikan hati kita.
Dalam Dunia Modern, Nafsu Memiliki Banyak Bentuk
Pada zaman sekarang, godaan hawa nafsu tidak selalu hadir dalam bentuk makanan, harta, atau kesenangan fisik.
Ia dapat hadir melalui:
- jumlah pengikut,
- jumlah tayangan,
- komentar,
- pujian,
- popularitas,
- jabatan,
- citra diri,
- keinginan selalu benar,
- keinginan diakui,
- dan kebutuhan untuk terus mendapatkan perhatian.
Seseorang bisa saja meninggalkan banyak kesenangan dunia, tetapi masih sangat terikat dengan penilaian manusia terhadap dirinya.
Karena itu, perjuangan batin pada zaman sekarang juga merupakan perjuangan untuk bertanya:
“Apakah aku melakukan ini karena memang baik, atau karena aku ingin terlihat baik?”
Pertanyaan sederhana ini bisa sangat dalam.
Ketika Pilihan yang Benar Tidak Mendapat Tepuk Tangan
Ada keputusan yang benar tetapi tidak populer.
Meminta maaf ketika orang lain tidak meminta maaf mungkin terasa merendahkan ego.
Mengakui kesalahan ketika kita sebenarnya bisa mencari alasan mungkin terasa berat.
Berhenti membalas keburukan mungkin terasa tidak memuaskan.
Mengerjakan kewajiban ketika orang lain sedang bersenang-senang mungkin terasa tidak menyenangkan.
Menolak keuntungan yang tidak semestinya mungkin terasa merugikan.
Dalam situasi seperti itu, seseorang dapat bertanya:
“Apa yang sebenarnya sedang kulawan?”
Kadang yang kita lawan bukan keadaan.
Yang kita lawan adalah keinginan diri untuk selalu mendapatkan apa yang disukainya.
Tetapi Jangan Menjadikan “Rasa Berat” sebagai Fatwa
Ini penting.
Hikmah ini adalah pedoman introspeksi, bukan satu-satunya metode menentukan hukum atau mengambil keputusan.
Jika seseorang bingung antara dua pilihan, maka ia tetap perlu melihat:
- Apakah keduanya halal atau tidak?
- Mana yang lebih sesuai dengan kewajiban?
- Apa akibatnya bagi diri sendiri dan orang lain?
- Apakah ada hak orang lain yang harus dijaga?
- Apa yang dikatakan ilmu dan pengalaman?
- Apakah perlu bermusyawarah?
- Apakah rasa berat itu berasal dari ego atau justru dari tanda bahaya yang nyata?
Barulah setelah itu seseorang dapat menggunakan hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh sebagai cermin untuk memeriksa nafsunya.
Jangan sampai seseorang berkata:
“Karena ini paling berat, berarti pasti paling benar.”
Itu justru dapat menjadi bentuk lain dari ego spiritual.
Hubungan Hikmah Ini dengan Suluk
Suluk bukan sekadar perjalanan menuju keadaan batin yang indah.
Suluk juga merupakan latihan untuk tidak selalu menuruti diri sendiri.
Seseorang mulai belajar:
Aku tidak harus mengikuti semua yang kuinginkan.
Aku tidak harus membalas setiap perkataan.
Aku tidak harus memenangkan setiap perdebatan.
Aku tidak harus mendapatkan semua yang kuinginkan.
Aku tidak harus selalu dipuji.
Dari sini muncul kebebasan batin.
Bukan karena semua keinginan telah terpenuhi, tetapi karena seseorang mulai mampu mengatakan:
“Aku memiliki keinginan, tetapi aku tidak harus menjadi budaknya.”
Perspektif Mualif | Kun Alfa
Menurut perspektif penulis, Mualif | Kun Alfa, salah satu tanda kedewasaan spiritual bukanlah ketika seseorang sudah tidak memiliki keinginan, melainkan ketika ia mulai mampu mengamati keinginannya sebelum menaatinya.
Keinginan muncul.
Emosi muncul.
Rasa tersinggung muncul.
Ambisi muncul.
Keinginan untuk membalas muncul.
Tetapi ada jarak antara munculnya dorongan dan mengikuti dorongan tersebut.
Jarak kecil itulah tempat muhasabah bekerja.
Di sana seseorang dapat berhenti sejenak dan bertanya:
“Ini kehendakku, atau sekadar dorongan nafsku?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jika dilakukan dengan jujur, ia dapat mengubah banyak keputusan dalam kehidupan.
Muhasabah Bagian XXV
Sebelum mengambil keputusan hari ini, cobalah bertanya:
1. Apa yang sebenarnya paling kuinginkan?
2. Mengapa pilihan tertentu terasa sangat berat bagiku?
3. Apakah berat karena memang tidak baik, atau karena ego tidak menyukainya?
4. Apakah aku sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari pembenaran?
5. Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui pilihanku, apakah aku tetap akan memilih yang sama?
Pertanyaan terakhir sering kali sangat kuat.
Sebab ketika tidak ada penonton, tidak ada pujian, dan tidak ada citra yang harus dipertahankan, kita mulai melihat arah hati yang sebenarnya.
Penutup
Hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh ini mengajarkan bahwa tidak semua keputusan harus diukur dari seberapa nyaman rasanya.
Ada kalanya kenyamanan justru berasal dari kebiasaan lama.
Ada kalanya rasa berat muncul karena ego sedang kehilangan kendali.
Namun rasa berat juga bukan ukuran mutlak kebenaran.
Maka suluk mengajarkan keseimbangan:
ilmu menerangi pilihan, akal mempertimbangkan akibat, syariat memberi batas, dan muhasabah memeriksa nafsu.
Pada akhirnya, persoalannya bukan:
“Mana yang paling mudah bagiku?”
Melainkan:
“Dalam pilihan ini, apakah aku sedang mengikuti kebenaran atau sedang mengikuti diriku sendiri?”
Di situlah perjalanan batin menjadi nyata.
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #muhasabah #hawan nafsu #ikhlas #spiritualitas #kehidupan #hikmah
Tidak ada komentar untuk "Al-Hikam tentang Melawan Hawa Nafsu dalam Mengambil Keputusan"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."