Ketika Cinta Berubah Menjadi Keterikatan - Pelajaran Al-Hikam tentang Mencintai Tanpa Menjadi Hamba Selain Allah - SULUK DALAM II Bagian XII
SULUK DALAM II-Bagian XII —
Manusia tidak mungkin hidup tanpa cinta.
Kita mencintai keluarga, pasangan, anak, pekerjaan, ilmu, rumah, harta, bahkan cita-cita.
Cinta bukanlah masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika sesuatu yang kita cintai mulai menguasai hati, sehingga kita rela kehilangan prinsip, mengabaikan kewajiban, bahkan menggantungkan harga diri dan kebahagiaan sepenuhnya kepadanya.
Pada titik itu, cinta dapat berubah menjadi keterikatan.
Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan:
Hikmah
مَا أَحْبَبْتَ شَيْئًا إِلَّا كُنْتَ لَهُ عَبْدًا، وَهُوَ لَا يُحِبُّ أَنْ تَكُونَ لِغَيْرِهِ عَبْدًا
Artinya:
“Tidaklah engkau mencintai sesuatu kecuali engkau menjadi hambanya; sedangkan Dia tidak menyukai engkau menjadi hamba bagi selain-Nya.”
Kalimat ini sangat singkat, tetapi sangat dalam.
Ia tidak sedang mengajarkan kita untuk berhenti mencintai dunia.
Ia sedang mengajarkan:
Jangan sampai sesuatu yang kita cintai mengambil tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Allah.
Cinta Tidak Selalu Membebaskan
Kita sering mengira bahwa cinta adalah sesuatu yang membahagiakan.
Tetapi cinta yang tidak dijaga dapat berubah menjadi keterikatan.
Ketika seseorang terlalu mencintai harta, ia mulai takut kehilangan harta lebih daripada takut kehilangan kejujuran.
Ketika seseorang terlalu mencintai kedudukan, ia mulai mengorbankan kebenaran demi mempertahankan jabatan.
Ketika seseorang terlalu mencintai penilaian manusia, ia mulai hidup berdasarkan tepuk tangan orang lain.
Ketika seseorang terlalu mencintai seseorang, ia bisa kehilangan kemampuan untuk mengatakan “tidak”, bahkan ketika sesuatu yang dilakukan sudah tidak benar.
Di sinilah makna “menjadi hamba” perlu direnungkan.
Sesuatu yang terus-menerus mengendalikan keputusan kita, perhatian kita, rasa takut kita, dan arah hidup kita—secara batin telah memperoleh posisi yang sangat besar dalam diri kita.
Apakah Mencintai Keluarga Itu Salah?
Tentu tidak.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi dingin terhadap keluarga.
Mencintai orang tua, pasangan, anak, sahabat, dan sesama adalah bagian dari kehidupan manusia.
Begitu pula mencintai pekerjaan, mencari nafkah, memiliki rumah, menggunakan harta, dan membangun masa depan.
Yang perlu diperiksa bukan:
“Apa yang saya cintai?”
Tetapi:
“Bagaimana posisi sesuatu yang saya cintai di dalam hati saya?”
Apakah ia menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah?
Ataukah ia membuat kita lupa kepada Allah?
Apakah cinta itu membuat kita menjadi lebih bertanggung jawab?
Ataukah justru membuat kita rela melakukan apa saja demi mempertahankannya?
Inilah wilayah muhasabah.
Ketika Sesuatu Menjadi “Tuhan Kecil” dalam Kehidupan
Istilah ini bukan berarti benda atau manusia benar-benar menjadi Tuhan.
Maksudnya adalah posisi ketergantungan batin.
Seseorang mungkin secara lisan mengakui bahwa hanya Allah yang disembah.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, seluruh ketenangan jiwanya ditentukan oleh uang.
Jika uang bertambah, ia tenang.
Jika uang berkurang, ia hancur.
Atau seluruh harga dirinya ditentukan oleh kedudukan.
Ketika dipuji, ia merasa berharga.
Ketika dicela, ia merasa tidak berarti.
Atau seluruh kebahagiaannya bergantung kepada seseorang.
Ketika orang itu hadir, ia merasa hidup.
Ketika orang itu pergi, seluruh kehidupannya terasa runtuh.
Hikmah ini mengajak kita melihat:
Apakah hati kita sudah terlalu bergantung kepada sesuatu yang sebenarnya juga makhluk?
Makna Lahir
Secara lahir, hikmah ini mengajarkan keseimbangan.
Kita tetap boleh:
- mencintai keluarga,
- mencari rezeki,
- memiliki harta,
- membangun usaha,
- mengejar cita-cita,
- menjaga kesehatan,
- menikmati kehidupan,
- dan mencintai manusia.
Tetapi semua itu tidak boleh membuat kita mengorbankan kewajiban dan prinsip yang benar.
Cinta harus ditempatkan pada tempatnya.
Allah menjadi tujuan.
Makhluk menjadi amanah dan sarana.
Makna Batin
Secara batin, hikmah ini lebih tajam.
Ia bertanya:
“Apa yang paling engkau takut kehilangan?”
Jawaban atas pertanyaan itu terkadang membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Kita mungkin mengatakan:
“Saya takut kehilangan pekerjaan.”
Tetapi mungkin yang lebih dalam adalah:
“Saya takut kehilangan rasa aman.”
Kita mengatakan:
“Saya takut kehilangan seseorang.”
Tetapi mungkin yang lebih dalam adalah:
“Saya takut hidup tanpa bergantung kepadanya.”
Kita mengatakan:
“Saya takut kehilangan harta.”
Tetapi mungkin yang lebih dalam adalah:
“Saya takut merasa tidak berharga tanpa harta.”
Maka suluk tidak berhenti pada objek cinta.
Suluk masuk lebih dalam:
apa yang sebenarnya sedang dicari oleh hati melalui objek tersebut?
Cinta yang Sehat Tidak Menjauhkan Kita dari Allah
Cinta yang benar justru dapat menjadi jalan kebaikan.
Mencintai keluarga dapat membuat seseorang bekerja dengan amanah.
Mencintai anak dapat membuat seseorang belajar menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
Mencintai pasangan dapat mengajarkan kesetiaan dan pengorbanan.
Mencintai ilmu dapat membuat seseorang semakin rendah hati.
Mencintai pekerjaan dapat menjadi jalan memberi manfaat kepada orang lain.
Mencintai harta, apabila ditempatkan dengan benar, dapat menjadi sarana sedekah dan membantu sesama.
Jadi persoalannya bukan menghilangkan cinta.
Persoalannya adalah membebaskan cinta dari penghambaan kepada selain Allah.
Hubungannya dengan Hikmah Sebelumnya
Hikmah ini sangat indah jika disambungkan dengan pembahasan sebelumnya tentang tawakal.
Pada Bagian X kita membahas:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
Jangan membebani diri dengan keinginan mengendalikan segala sesuatu.
Sekarang Ibn ‘Aṭā’illāh membawa kita lebih dalam:
Mengapa kita begitu sulit melepaskan kendali?
Salah satu jawabannya adalah karena kita terlalu mencintai sesuatu.
Kita ingin mengendalikan karena takut kehilangan.
Kita takut kehilangan karena terlalu bergantung.
Kita terlalu bergantung karena sesuatu telah mengambil ruang yang terlalu besar dalam hati.
Maka pembebasan batin bukan sekadar belajar berkata:
“Saya pasrah.”
Tetapi belajar berkata:
“Saya mencintai apa yang Allah titipkan kepada saya, tetapi saya tidak menjadikannya sebagai pusat hidup saya.”
Jika Sesuatu Pergi, Apakah Kita Kehilangan Allah?
Inilah latihan batin yang penting.
Seseorang pergi.
Harta berkurang.
Pekerjaan berubah.
Kedudukan hilang.
Rencana gagal.
Apa yang terjadi dalam diri kita?
Sedih adalah manusiawi.
Menangis bukan tanda lemahnya iman.
Kehilangan memang menyakitkan.
Tetapi ada perbedaan antara:
“Saya kehilangan sesuatu yang saya cintai.”
dan
“Karena sesuatu itu hilang, maka hidup saya tidak lagi memiliki makna.”
Kalimat kedua menunjukkan bahwa sesuatu tersebut mungkin telah memperoleh tempat yang terlalu besar dalam hati.
Seorang sālik belajar menerima kesedihan tanpa kehilangan arah.
Ia boleh menangis.
Ia boleh berduka.
Tetapi perlahan ia kembali menyadari:
Yang pergi adalah titipan.
Yang tetap adalah Allah.
Muhasabah: Apa yang Sedang Menguasai Hatiku?
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
1. Apa yang paling banyak memenuhi pikiran saya?
2. Apa yang paling saya takut kehilangan?
3. Apakah saya pernah mengorbankan prinsip hanya untuk mempertahankan sesuatu yang saya cintai?
4. Apakah cinta saya kepada seseorang membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?
5. Jika sesuatu yang saya cintai diambil dari saya, apakah saya masih mampu menemukan alasan untuk bersyukur dan melanjutkan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi diri.
Tetapi untuk mengetahui:
siapa sebenarnya yang sedang menjadi pusat kehidupan kita.
Penutup
Allah tidak meminta kita menjadi manusia tanpa cinta.
Yang diminta adalah agar cinta tidak berubah menjadi penghambaan.
Cintailah keluarga.
Cintailah pekerjaan.
Cintailah ilmu.
Cintailah kehidupan.
Rawat apa yang Allah titipkan.
Tetapi jangan serahkan seluruh hati kepada sesuatu yang bisa berubah, pergi, berkurang, atau hilang.
Sebab segala sesuatu selain Allah adalah fana.
Hari ini ada.
Besok mungkin berubah.
Hari ini kita memiliki.
Besok mungkin kehilangan.
Hari ini seseorang berada di samping kita.
Suatu hari ia mungkin harus pergi.
Maka letakkan cinta pada tempatnya.
Cintai makhluk tanpa menyembahnya.
Gunakan harta tanpa diperbudak olehnya.
Kejar cita-cita tanpa menjadikannya Tuhan.
Sayangi manusia tanpa menggantungkan seluruh jiwa kepadanya.
Karena hati yang benar-benar merdeka bukan hati yang tidak mencintai apa pun.
Tetapi hati yang mencintai segala sesuatu karena Allah, tanpa menjadi hamba bagi selain Allah.
Hashtag:
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam
#alhikâm #ibnathaillah #tasawuf #suluk #hikmah #muhasabah #cinta #hati #tawakall #keterikatan #kehidupanseharihari
Tidak ada komentar untuk "Ketika Cinta Berubah Menjadi Keterikatan - Pelajaran Al-Hikam tentang Mencintai Tanpa Menjadi Hamba Selain Allah - SULUK DALAM II Bagian XII"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."