Ketika Hati Terbagi: Pelajaran Al-Hikam tentang Ikhlas dan Fokus kepada Allah - Bagian XXVI

 

Foto Hati Yang Kacau


Bagian XXVI — 

Bab Suluk: Menyatukan Arah Hati di Tengah Banyak Tarikan Kehidupan

Ada orang yang rajin beribadah, tetapi pikirannya selalu mencari pengakuan.

Ada yang berbuat baik, tetapi diam-diam menunggu pujian.

Ada yang bekerja keras, tetapi seluruh harga dirinya ditentukan oleh hasil.

Ada pula yang tampak tenang di hadapan manusia, tetapi di dalam hati terus bertanya:

“Bagaimana orang lain melihatku?”

Di sinilah muncul persoalan yang lebih halus daripada sekadar banyak atau sedikitnya amal.

Hati kita sedang menghadap ke mana?

Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan:

Hikmah

كَمَا لَا يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمُشْتَرَكَ، لَا يُحِبُّ الْقَلْبَ الْمُشْتَرَكَ، الْعَمَلُ الْمُشْتَرَكُ لَا يَقْبَلُهُ، وَالْقَلْبُ الْمُشْتَرَكُ لَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ

Terjemah makna:

“Sebagaimana Dia tidak menyukai amal yang dipersekutukan, Dia juga tidak menyukai hati yang dipersekutukan. Amal yang dipersekutukan tidak diterima, dan hati yang dipersekutukan tidak menghadap kepada-Nya.”

Hikmah ini berbicara tentang ketidakutuhan arah hati.

Namun perlu hati-hati dalam memahaminya. “Amal yang musytarak” di sini bukan berarti bekerja bersama orang lain, bermuamalah, atau melakukan kegiatan sosial secara bersama-sama adalah sesuatu yang tercela. Yang menjadi perhatian adalah orientasi hati yang terbagi dalam mencari Allah sekaligus menjadikan selain-Nya sebagai pusat tujuan ibadah.


Hati yang Terbagi

Hati manusia dapat berada di satu tempat secara lahir, tetapi secara batin menghadap ke banyak arah.

Seseorang salat karena Allah, tetapi sekaligus sangat memikirkan bagaimana orang lain menilainya.

Seseorang bersedekah karena Allah, tetapi hatinya juga berharap dikenal sebagai orang dermawan.

Seseorang membuat tulisan tentang agama untuk berbagi manfaat, tetapi kemudian seluruh ketenangannya bergantung pada jumlah komentar dan pujian.

Di sini persoalannya bukan selalu pada amal lahiriah.

Persoalannya adalah:

Siapa yang menjadi pusat perhatian hati?


Ikhlas Bukan Berarti Tidak Boleh Dihargai

Ikhlas sering disalahpahami.

Seolah-olah orang yang ikhlas tidak boleh senang ketika dipuji.

Padahal manusia memiliki perasaan.

Pujian bisa menyenangkan.

Kritik bisa menyakitkan.

Penghargaan bisa membahagiakan.

Itu manusiawi.

Yang perlu diperiksa adalah apakah penghargaan manusia telah menjadi tujuan utama amal kita.

Ada perbedaan antara:

“Aku senang ketika kebaikanku dihargai.”

dan:

“Aku hanya mau berbuat baik jika kebaikanku dihargai.”

Yang pertama adalah perasaan.

Yang kedua mulai menunjukkan ketergantungan.

Di sinilah latihan ikhlas menjadi penting.


Mengapa Hati Sulit Fokus?

Karena kehidupan modern menawarkan terlalu banyak pusat perhatian.

Hari ini kita bisa membuka satu layar dan menemukan:

  • berita,
  • komentar,
  • pujian,
  • celaan,
  • iklan,
  • persaingan,
  • keberhasilan orang lain,
  • kehidupan orang lain,
  • dan berbagai ukuran tentang “kesuksesan”.

Semua itu dapat menarik perhatian hati.

Akibatnya, seseorang tidak hanya bertanya:

“Apa yang benar?”

Tetapi juga:

“Apa yang akan membuatku terlihat baik?”

Tidak hanya:

“Apa yang bermanfaat?”

Tetapi:

“Apa yang akan mendapatkan respons paling banyak?”

Tidak hanya:

“Apakah Allah ridha?”

Tetapi:

“Apakah orang lain menyukaiku?”

Hati pun perlahan menjadi musytarak—terbagi dalam berbagai pusat perhatian.


Amal Bisa Benar, tetapi Motif Perlu Diperiksa

Ini adalah wilayah yang sangat halus.

Jangan terlalu cepat mengatakan bahwa seseorang riya hanya karena amalnya diketahui orang lain.

Sebaliknya, jangan pula terlalu mudah menganggap semua motif kita sudah bersih.

Yang paling penting adalah muhasabah terhadap diri sendiri.

Tanyakan:

“Jika tidak ada yang mengetahui amal ini, apakah aku masih mau melakukannya?”

Jika jawabannya iya, itu menjadi bahan untuk bersyukur.

Jika jawabannya tidak, jangan langsung putus asa.

Jadikan pertanyaan tersebut sebagai awal memperbaiki niat.

Ikhlas bukan selalu keadaan yang selesai sekali jadi.

Ia juga merupakan latihan berulang untuk mengembalikan orientasi hati.


Dalam Kehidupan Sehari-hari

Hikmah ini dapat diterapkan dalam banyak keadaan.

Dalam bekerja

Bekerjalah dengan baik.

Terimalah penghargaan jika datang.

Tetapi jangan sampai seluruh nilai dirimu bergantung pada jabatan atau pujian.

Dalam berdakwah

Sampaikan kebaikan.

Gunakan media yang tersedia.

Manfaatkan teknologi.

Tetapi jangan menjadikan angka sebagai satu-satunya ukuran keberkahan.

Dalam bersedekah

Berikan apa yang mampu diberikan.

Jika memungkinkan, sembunyikan amal yang memang lebih baik disembunyikan.

Jika amal harus diketahui karena kebutuhan administrasi atau kemaslahatan, jangan otomatis menganggapnya riya.

Yang diperiksa adalah arah hati.

Dalam kehidupan keluarga

Berbuat baik kepada keluarga bukan untuk mendapatkan kendali atas mereka.

Cinta tidak seharusnya menjadi transaksi:

“Aku sudah melakukan banyak untukmu, maka kamu harus membalas sesuai keinginanku.”

Kebaikan yang terus menuntut balasan dapat membuat hati kembali terikat kepada hasil.


Menyatukan Hati Bukan Berarti Meninggalkan Dunia

Ini juga penting.

Fokus kepada Allah tidak berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan.

Tidak berarti tidak boleh memiliki keluarga.

Tidak berarti tidak boleh memiliki usaha.

Tidak berarti tidak boleh menggunakan media sosial.

Tidak berarti harus hidup dalam kesendirian.

Seseorang dapat bekerja, berdagang, mengurus keluarga, menulis, berkarya, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Yang dilatih adalah:

jangan menjadikan semua itu sebagai tuan bagi hati.

Dunia berada di tangan.

Jangan sampai ia menjadi pusat pengabdian hati.


Perspektif Mualif | Kun Alfa

Menurut perspektif penulis, Mualif | Kun Alfa, persoalan manusia modern bukan hanya terlalu banyak melakukan sesuatu, tetapi terlalu banyak memberikan perhatian batin kepada sesuatu.

Kita bisa melakukan banyak pekerjaan sekaligus.

Tetapi hati tetap membutuhkan arah.

Karena itu, mungkin yang perlu dikurangi bukan selalu aktivitasnya, melainkan ketergantungan batin terhadap penilaian dari aktivitas tersebut.

Bekerja boleh.

Berkarya boleh.

Berprestasi boleh.

Dikenal boleh.

Tetapi hati perlu terus ditanya:

“Untuk siapa semua ini sebenarnya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pagar agar amal tidak perlahan berubah menjadi pencarian pengakuan.


Hubungan dengan Hikmah Sebelumnya

Pada Bagian XXV kita membahas bagaimana seseorang menghadapi pilihan yang terasa berat bagi nafsu.

Sekarang kita masuk lebih dalam.

Kadang masalahnya bukan lagi:

“Mana yang harus kupilih?”

Tetapi:

“Untuk siapa aku memilih?”

Di sinilah perjalanan suluk bergerak dari pengendalian tindakan menuju pemeriksaan orientasi hati.

Kita mungkin sudah belajar mengendalikan perilaku.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang lebih halus:

Apakah hati kita ikut berubah?


Muhasabah Bagian XXVI

Cobalah duduk sejenak dalam keheningan.

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:

1. Amal apa yang paling sering kulakukan demi mendapatkan pengakuan?

2. Apa yang membuatku paling kecewa ketika tidak dihargai?

3. Apakah aku lebih takut kehilangan ridha Allah atau kehilangan penilaian manusia?

4. Jika tidak ada seorang pun yang melihat, kebaikan apa yang masih ingin kulakukan?

Tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut kepada siapa pun.

Biarkan ia menjadi percakapan antara dirimu dan Allah.


Penutup

Hati yang ikhlas bukan hati yang tidak pernah terganggu oleh pujian.

Bukan pula hati yang tidak pernah senang ketika dihargai.

Hati yang sedang belajar ikhlas adalah hati yang terus kembali kepada pusat tujuannya.

Ketika dipuji, ia kembali.

Ketika dicela, ia kembali.

Ketika berhasil, ia kembali.

Ketika gagal, ia kembali.

Ketika dikenal, ia kembali.

Ketika dilupakan, ia kembali.

Inilah latihan suluk:

Bukan membuat dunia berhenti menarik hati, tetapi belajar agar hati tidak kehilangan arah ketika dunia menariknya ke berbagai penjuru.

Dan semakin hati mampu menyatukan arahnya, semakin seseorang memahami bahwa kebebasan batin bukan berarti tidak memiliki apa-apa.

Kebebasan batin adalah ketika apa pun yang kita miliki tidak mengambil tempat yang semestinya hanya milik Allah.


Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #ikhlas #muhasabah #riya #hati #penyucianhati #spiritualitas #hikmah

Tidak ada komentar untuk "Ketika Hati Terbagi: Pelajaran Al-Hikam tentang Ikhlas dan Fokus kepada Allah - Bagian XXVI"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: