Ketika Hati Terlalu Sibuk Mengejar Hasil : Pelajaran Al-Hikam tentang Kesabaran dalam Menunggu
Bagian XXVIII —
Bab Suluk: Belajar Menghargai Proses Tanpa Memaksa Waktu
Ada masa ketika seseorang sudah berusaha, sudah berdoa, sudah memperbaiki diri, tetapi hasil yang diharapkan belum juga datang.
Ia mulai bertanya:
“Mengapa belum?”
“Sampai kapan?”
“Apakah doaku didengar?”
“Apakah usahaku sia-sia?”
Di titik seperti ini, persoalannya bukan lagi sekadar tentang mendapatkan sesuatu.
Persoalannya adalah bagaimana hati bersikap ketika pemberian belum tiba.
Ibn ‘Aṭā’illāh memberikan sebuah hikmah yang sangat dalam:
Hikmah
لَا تَسْتَبْطِئِ النَّوَالَ، وَلَكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُودَ الْإِقْبَالِ
Terjemah makna:
“Jangan menganggap lambat datangnya pemberian; tetapi anggaplah lambat keadaan dirimu dalam menghadap kepada-Nya.”
Hikmah ini tidak sedang mengatakan bahwa manusia tidak boleh berharap.
Ia juga tidak mengajarkan kita untuk berhenti berdoa atau berhenti berusaha.
Yang disentuh oleh Ibn ‘Aṭā’illāh adalah cara hati memandang penantian.
Kita Sering Mengukur Doa dari Hasil
Manusia secara alami menginginkan hasil.
Ketika berdoa meminta kelapangan, kita berharap kehidupan menjadi lapang.
Ketika meminta pekerjaan, kita berharap mendapatkan pekerjaan.
Ketika meminta kesembuhan, kita berharap kondisi membaik.
Ketika meminta pertolongan, kita berharap persoalan segera selesai.
Semua itu manusiawi.
Tetapi ada bahaya ketika seluruh hubungan kita dengan Allah hanya diukur melalui:
“Apakah aku mendapatkan apa yang kuminta?”
Jika mendapatkan, kita merasa Allah dekat.
Jika belum mendapatkan, kita merasa Allah jauh.
Padahal kedekatan spiritual tidak semestinya diukur hanya dari cepat atau lambatnya hasil yang kita inginkan.
“Jangan Lambat dalam Menerima Pemberian”
Ungkapan لَا تَسْتَبْطِئِ النَّوَالَ dapat direnungkan sebagai peringatan agar hati tidak tergesa-gesa menilai bahwa pemberian Allah terlambat.
Sebab manusia melihat dari satu sisi:
“Aku meminta sesuatu, tetapi belum mendapatkannya.”
Sementara perjalanan batin memiliki sisi yang lebih luas.
Bisa jadi selama masa menunggu itu seseorang justru belajar:
- bersabar,
- lebih jujur kepada dirinya,
- mengurangi ketergantungan kepada makhluk,
- memperbaiki ibadah,
- memahami batas kemampuannya,
- atau menyadari bahwa tidak semua keinginan harus menjadi kenyataan.
Namun kita juga tidak boleh sembarangan mengatakan:
“Allah pasti menunda ini karena alasan tertentu yang saya ketahui.”
Tidak.
Kita tidak selalu mengetahui alasan di balik suatu kejadian.
Yang dapat kita lakukan adalah mengelola sikap hati kita terhadap penantian.
Yang Perlu Diperiksa Justru Diri Kita
Bagian kedua hikmah berbunyi:
وَلَكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُودَ الْإِقْبَالِ
“Namun anggaplah lambat keadaan dirimu dalam menghadap.”
Di sinilah arah perhatian dibalik.
Biasanya kita bertanya:
“Mengapa Allah belum memberikan?”
Ibn ‘Aṭā’illāh mengajak kita bertanya:
“Selama menunggu, apakah aku semakin menghadap kepada Allah atau justru semakin jauh?”
Ini bukan berarti keterlambatan pemberian disebabkan oleh kurangnya ibadah kita.
Bukan pula berarti orang yang doanya belum terkabul pasti kurang dekat kepada Allah.
Pesannya lebih halus:
jangan biarkan penantian membuat hati kehilangan arah.
Penantian Bisa Menjadi Latihan Batin
Ada perbedaan antara:
menunggu dengan gelisah, dan
menunggu sambil tetap menjalani tanggung jawab.
Yang pertama membuat seluruh perhatian tersedot kepada hasil.
Yang kedua membuat seseorang tetap berusaha, tetapi tidak membiarkan hasil menguasai seluruh batinnya.
Misalnya seseorang sedang mencari pekerjaan.
Ia tetap membuat lamaran.
Tetap belajar.
Tetap memperbaiki keterampilan.
Tetap bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.
Tetapi ia tidak menjadikan satu kegagalan sebagai bukti bahwa hidupnya tidak memiliki harapan.
Itulah bentuk penantian yang lebih sehat.
Doa Bukan Transaksi
Hikmah ini juga mengingatkan kita tentang bahaya menjadikan doa seperti transaksi:
“Aku sudah beribadah, maka aku harus mendapatkan ini.”
“Aku sudah berdoa sekian lama, maka seharusnya hasilnya sudah datang.”
“Aku sudah berbuat baik, mengapa hidupku masih sulit?”
Cara berpikir seperti itu diam-diam menempatkan ibadah sebagai alat untuk mengendalikan hasil.
Padahal doa adalah bentuk penghambaan.
Kita meminta.
Kita berharap.
Kita berusaha.
Tetapi kita tidak mengambil alih keputusan tentang bagaimana dan kapan sesuatu diberikan.
Lahir dan Batin
Secara lahir
Hikmah ini bukan alasan untuk pasif.
Jika membutuhkan pekerjaan, tetap mencari.
Jika sakit, tetap berikhtiar mendapatkan pertolongan yang tepat.
Jika memiliki masalah keluarga, tetap melakukan komunikasi dan penyelesaian.
Jika memiliki tujuan hidup, tetap bekerja untuk mencapainya.
Tawakal tidak membatalkan ikhtiar.
Secara batin
Hati belajar melepaskan tuntutan terhadap hasil.
Bukan berarti kehilangan harapan.
Tetapi membedakan:
“Aku bertanggung jawab atas usaha.”
dengan:
“Aku tidak menguasai seluruh hasil.”
Pemisahan ini sangat penting bagi ketenangan jiwa.
Jangan Menunggu Hidup Sempurna untuk Mendekat
Sering kali seseorang berkata:
“Kalau masalahku selesai, aku akan lebih rajin ibadah.”
Padahal justru masa sulit dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Bukan karena kesulitan pasti lebih baik daripada kemudahan.
Tetapi karena setiap keadaan dapat menjadi ruang untuk menghadap.
Saat lapang, menghadap.
Saat sempit, menghadap.
Saat berhasil, menghadap.
Saat gagal, menghadap.
Saat mendapatkan, menghadap.
Saat menunggu, juga menghadap.
Inilah kesinambungan suluk.
Ketika Penantian Mengubah Kita
Ada kalanya kita meminta satu hal.
Tetapi dalam proses menunggu, kita berubah.
Dahulu kita sangat takut kehilangan.
Kemudian belajar menerima.
Dahulu kita ingin semua berjalan sesuai rencana.
Kemudian belajar berikhtiar tanpa memaksa.
Dahulu kita sangat membutuhkan pengakuan.
Kemudian mulai merasa cukup dengan melakukan yang benar.
Perubahan seperti ini mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Tetapi justru di situlah perjalanan batin berlangsung.
Perspektif Mualif | Kun Alfa
Menurut perspektif penulis, Mualif | Kun Alfa, manusia sering kali tidak benar-benar takut menunggu.
Yang kita takutkan adalah tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Karena itu, penantian menjadi berat ketika hati sudah menetapkan satu bentuk hasil sebagai satu-satunya bentuk kebahagiaan.
Kita kemudian lupa bahwa hidup tidak hanya terdiri dari hasil.
Ada proses.
Ada pembelajaran.
Ada kedewasaan.
Ada tanggung jawab.
Ada kesempatan untuk memperbaiki cara kita memandang kehidupan.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Kapan yang kuinginkan akan datang?”
Tetapi:
“Selama menunggu, menjadi manusia seperti apa aku?”
Muhasabah Bagian XXVIII
Ketika sesuatu yang kita harapkan belum datang, cobalah bertanya:
1. Apakah aku masih berusaha dengan cara yang benar?
2. Apakah aku menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran bahwa Allah sedang bersamaku?
3. Apakah masa penantian ini membuatku lebih sabar atau justru lebih pahit?
4. Apakah aku masih menjalankan kewajibanku sambil menunggu?
5. Apa yang dapat kuperbaiki hari ini tanpa harus menunggu hasil akhir?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengembalikan perhatian dari sesuatu yang belum berada di tangan kita kepada sesuatu yang masih bisa kita lakukan sekarang.
Hubungan dengan Bagian XXVII
Pada Bagian XXVII kita berbicara tentang menunda ketaatan.
Sekarang kita melihat bentuk penundaan dari sisi yang berbeda.
Kadang kita berkata:
“Nanti aku akan mulai.”
Itu adalah penundaan dari pihak kita.
Tetapi ketika kita sudah berusaha lalu hasil belum datang, kita berkata:
“Mengapa Allah belum memberikan?”
Di sini Ibn ‘Aṭā’illāh mengajarkan kita untuk tidak membiarkan penantian hasil berubah menjadi penundaan dalam menghadap kepada Allah.
Jadi ada dua penundaan yang perlu diwaspadai:
Jangan menunda kebaikan karena menunggu waktu yang sempurna.
Dan:
Jangan menunda kedekatan kepada Allah hanya karena menunggu hasil yang kita inginkan.
Penutup
Tidak semua doa harus kita ukur dengan cepatnya hasil.
Tidak semua penantian adalah kegagalan.
Dan tidak semua keterlambatan harus segera kita beri penjelasan.
Ada hal-hal yang memang belum kita ketahui.
Yang dapat kita jaga adalah sikap kita.
Tetap berdoa.
Tetap berusaha.
Tetap menjalankan kewajiban.
Tetap menjaga hati.
Dan ketika hasil belum datang, jangan berhenti menghadap.
Sebab boleh jadi persoalan terbesar bukan:
“Mengapa pemberian belum datang?”
Melainkan:
“Mengapa selama menunggu, hati justru berhenti berjalan?”
Suluk mengajarkan bahwa perjalanan tidak berhenti hanya karena hasil belum terlihat.
Kita tetap berjalan.
Kita tetap berusaha.
Kita tetap berdoa.
Dan kita tetap kembali.
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #doa #tawakal #sabar #muhasabah #penantian #ikhtiar #spiritualitas #hikmah #kehidupan
Tidak ada komentar untuk " Ketika Hati Terlalu Sibuk Mengejar Hasil : Pelajaran Al-Hikam tentang Kesabaran dalam Menunggu"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."