Ketika Keinginan Menguasai Hati: Pelajaran Al-Hikam tentang Membebaskan Diri dari Hawa Nafsu
SULUK DALAM II — BAGIAN XIX
Bab Suluk: Menundukkan Keinginan Sebelum Keinginan Menundukkan Kita
Manusia tidak hanya diuji oleh sesuatu yang tidak disukainya.
Sering kali justru ia diuji oleh sesuatu yang sangat disukainya.
Keinginan akan harta.
Keinginan untuk dipuji.
Keinginan memiliki seseorang.
Keinginan mendapatkan kedudukan.
Keinginan agar segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya.
Keinginan itu sendiri adalah bagian dari kehidupan manusia. Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan tidak lagi berada di tangan kita, melainkan kita yang berada di bawah kendalinya.
Ibn ‘Aṭā’illāh menyampaikan sebuah hikmah yang sangat tajam:
مَا أَحْبَبْتَ شَيْئًا إِلَّا كُنْتَ لَهُ عَبْدًا، وَهُوَ لَا يُحِبُّ أَنْ تَكُونَ لِغَيْرِهِ عَبْدًا
Artinya:
“Tidaklah engkau mencintai sesuatu kecuali engkau menjadi hamba bagi sesuatu itu, sedangkan Dia tidak menyukai engkau menjadi hamba bagi selain-Nya.”
Cinta Tidak Selalu Menjadi Masalah
Hikmah ini tidak berarti bahwa mencintai keluarga, pasangan, pekerjaan, rumah, ilmu, atau kehidupan dunia adalah sesuatu yang otomatis salah.
Manusia memang diciptakan dengan kemampuan mencintai.
Orang tua mencintai anaknya.
Suami dan istri saling mencintai.
Seseorang mencintai pekerjaannya.
Seseorang mencintai ilmu.
Seseorang menyukai keindahan.
Semua itu tidak dengan sendirinya menjadi penyakit hati.
Yang perlu diperiksa adalah:
Apakah sesuatu yang kita cintai masih berada dalam posisi sebagai amanah, atau sudah mengambil posisi sebagai penguasa hati?
Karena sesuatu yang dicintai secara berlebihan dapat berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan kita.
Kapan Cinta Berubah Menjadi Perbudakan?
Perhatikan diri kita ketika sesuatu yang kita cintai terancam hilang.
Apakah kita masih mampu berpikir jernih?
Apakah kita rela melanggar prinsip demi mempertahankannya?
Apakah kita rela meninggalkan kewajiban?
Apakah harga diri kita sepenuhnya bergantung pada penerimaan seseorang?
Apakah kebahagiaan kita menjadi sepenuhnya tergantung pada benda, jabatan, uang, atau pujian?
Jika jawabannya mulai mengarah ke sana, mungkin masalahnya bukan lagi sekadar mencintai.
Tetapi terikat.
Inilah makna penting dari kata عَبْدًا — ‘abdan, “hamba”.
Bukan berarti setiap orang yang mencintai sesuatu telah menyembah sesuatu tersebut.
Maksudnya, sesuatu yang terlalu menguasai hati dapat membuat manusia tunduk kepadanya, mengorbankan prinsip karenanya, dan sulit melepaskannya.
Kita Bisa Menjadi “Hamba” dari Banyak Hal
Ada orang yang menjadi hamba uang.
Bukan karena ia memiliki uang, tetapi karena seluruh keputusan hidupnya ditentukan oleh uang.
Ada yang menjadi hamba pujian.
Ia melakukan sesuatu bukan karena benar, tetapi karena ingin dipuji.
Ada yang menjadi hamba penilaian manusia.
Ia takut menjadi dirinya sendiri karena selalu memikirkan apa kata orang.
Ada pula yang menjadi hamba hubungan.
Ia rela kehilangan prinsip, harga diri, bahkan ketenangan batin hanya karena takut ditinggalkan.
Dan ada yang menjadi hamba keinginan untuk selalu benar.
Ia tidak mampu menerima kritik karena egonya harus selalu menang.
Bentuknya berbeda-beda.
Tetapi akarnya sama:
hati terlalu mudah dikuasai oleh sesuatu selain Allah.
Masalahnya Bukan pada Apa yang Kita Miliki, tetapi pada Siapa yang Menguasai Siapa
Seseorang boleh memiliki harta.
Tetapi jangan sampai harta memiliki dirinya.
Seseorang boleh memiliki jabatan.
Tetapi jangan sampai jabatan menentukan nilai dirinya.
Seseorang boleh mencintai pasangan.
Tetapi jangan sampai cinta membuatnya kehilangan batas antara kasih sayang dan ketergantungan.
Seseorang boleh menikmati dunia.
Tetapi jangan sampai dunia menjadi tujuan tertinggi hidupnya.
Inilah keseimbangan yang diajarkan suluk:
Memiliki tanpa dimiliki.
Mencintai tanpa diperbudak cinta.
Menggunakan dunia tanpa menjadikan dunia sebagai pusat hati.
Ketika Kehilangan Membuat Kita Hancur
Kita bisa melihat kadar keterikatan seseorang bukan hanya ketika ia mendapatkan sesuatu.
Tetapi ketika ia kehilangannya.
Ketika uang berkurang, apakah seluruh hidup terasa runtuh?
Ketika seseorang pergi, apakah kita merasa hidup tidak lagi memiliki makna?
Ketika jabatan hilang, apakah harga diri ikut hilang?
Ketika pujian berhenti, apakah kita merasa tidak berharga?
Kehilangan memang menyakitkan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk tidak bersedih.
Tetapi suluk mengajarkan sesuatu yang lebih dalam:
jangan sampai sesuatu yang fana memiliki kekuasaan mutlak atas hati kita.
Karena segala sesuatu yang berada di dunia memiliki kemungkinan datang dan pergi.
Membebaskan Hati Bukan Berarti Membuang Dunia
Ini juga harus dipahami dengan benar.
Membebaskan hati bukan berarti meninggalkan keluarga.
Bukan berarti tidak boleh bekerja.
Bukan berarti harus hidup miskin.
Bukan berarti harus menjauhi masyarakat.
Bukan pula berarti tidak boleh menikmati rezeki Allah.
Yang dibersihkan adalah ketergantungan batin yang berlebihan.
Kita tetap bekerja.
Tetap mencintai keluarga.
Tetap merawat apa yang menjadi amanah.
Tetap mengejar cita-cita.
Tetapi hati belajar mengatakan:
“Aku mencintainya, tetapi aku tidak menjadikannya tuhan bagi hidupku.”
Hubungannya dengan Bagian-Bagian Sebelumnya
Hikmah ini menyambung perjalanan kita sebelumnya.
Pada bagian tentang doa, kita belajar agar tidak memaksa Allah mengikuti keinginan kita.
Pada bagian tentang tawakal, kita belajar melakukan ikhtiar tanpa menjadikan hasil sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada kehendak kita.
Pada bagian tentang ibadah, kita belajar bahwa amal bukan jasa kita kepada Allah.
Sekarang kita masuk lebih dalam:
Bukan hanya hasil yang ingin kita kuasai. Bahkan keinginan itu sendiri perlu diperiksa.
Sebab seseorang bisa saja berkata:
“Saya bertawakal kepada Allah.”
Tetapi batinnya tetap berkata:
“Allah harus memberikan hasil sesuai keinginan saya.”
Di sinilah suluk menjadi pekerjaan hati.
Latihan Membebaskan Hati
Ketika kita menyadari bahwa sesuatu mulai terlalu menguasai hati, tidak perlu langsung membencinya.
Cobalah melakukan beberapa hal:
Pertama, akui keterikatan itu.
Jangan berpura-pura bahwa kita tidak membutuhkan apa pun.
Kedua, kembalikan posisi sesuatu itu sebagai amanah.
Harta adalah amanah.
Keluarga adalah amanah.
Pekerjaan adalah amanah.
Kedudukan adalah amanah.
Ketiga, jangan mengorbankan prinsip demi mempertahankannya.
Jika sesuatu memaksa kita meninggalkan kewajiban atau melakukan keburukan, di situlah kita perlu berhenti.
Keempat, latih hati menerima kemungkinan kehilangan.
Bukan dengan berharap kehilangan, tetapi dengan menyadari bahwa tidak ada sesuatu di dunia yang sepenuhnya kekal.
Kelima, perbanyak syukur daripada rasa memiliki.
Ketika kita memandang sesuatu sebagai titipan, hati lebih mudah menerima ketika suatu saat titipan itu berubah.
Muhasabah
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang paling saya takut kehilangan?
Lalu tanyakan lagi:
Mengapa saya begitu takut kehilangannya?
Kemudian:
Jika Allah mengambilnya, apakah saya masih mampu menjadi hamba-Nya?
Dan yang paling penting:
Apakah sesuatu yang saya cintai membuat saya semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat saya melupakan-Nya?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak nyaman.
Tetapi suluk memang bukan selalu tentang mencari jawaban yang menyenangkan.
Kadang suluk adalah keberanian untuk melihat isi hati sendiri tanpa berdalih.
Penutup: Cintai Apa yang Ada, Tetapi Jangan Serahkan Hati Kepadanya
Dunia tidak harus dibenci agar hati menjadi bebas.
Yang perlu dilakukan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Cintai keluarga, tetapi jangan menjadikan mereka pusat penghambaan.
Gunakan harta, tetapi jangan menjadi budaknya.
Kejar cita-cita, tetapi jangan kehilangan Allah ketika cita-cita gagal.
Terima pujian, tetapi jangan hidup untuk pujian.
Hadapi kehilangan, tetapi jangan kehilangan arah.
Sebab manusia mungkin memiliki banyak hal dalam hidupnya.
Tetapi hanya satu yang seharusnya menjadi pusat penghambaan:
Allah.
Maka pertanyaan suluk bukan:
“Apa yang boleh saya cintai?”
Melainkan:
“Apakah yang saya cintai membuat saya tetap menjadi hamba Allah, atau perlahan-lahan menjadikan saya hamba dari sesuatu yang saya cintai?”
Di situlah kebebasan hati mulai tumbuh.
Hashtag
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #hawaNafsu #cinta #keterikatan #ikhlas #tawakal #muhasabah #kebebasanhati #penyucianjiwa
%20(1).png)
Tidak ada komentar untuk "Ketika Keinginan Menguasai Hati: Pelajaran Al-Hikam tentang Membebaskan Diri dari Hawa Nafsu"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."