Ketika Kita Terlalu Bergantung kepada Manusia Pelajaran Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketergantungan Hati - Bagian V —
SULUK DALAM II
Bagian V — Ketika Kita Terlalu Bergantung kepada Manusia
Pelajaran Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketergantungan Hati
Ada satu hal yang sering tidak kita sadari.
Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Allah, tetapi ketika menghadapi kesulitan, hati justru lebih sibuk memikirkan:
“Siapa yang bisa menolong saya?”
“Siapa yang bisa memberi saya pekerjaan?”
“Siapa yang bisa menyelesaikan masalah saya?”
“Bagaimana kalau orang itu tidak membantu saya?”
Meminta bantuan kepada manusia tentu bukan kesalahan. Kita hidup melalui sebab. Kita bekerja, berobat kepada dokter, belajar kepada guru, meminta pertolongan keluarga, dan bekerja sama dengan orang lain.
Yang menjadi persoalan adalah ketika tangan meminta kepada manusia, tetapi hati menggantungkan harapan mutlak kepada manusia.
Di sinilah salah satu hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh menjadi sangat dalam.
Hikmah Al-Hikam
لَا تَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى الْأَخْذِ مِنَ الْخَلَائِقِ إِلَّا أَنْ تَرَى أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلَاكَ، فَإِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ الْعِلْمُ
Artinya:
“Janganlah engkau mengulurkan tangan untuk menerima dari makhluk, kecuali jika engkau melihat bahwa Pemberi melalui mereka adalah Tuhanmu. Jika demikian keadaanmu, maka ambillah apa yang sesuai dengan ilmu.”
Perhatikan kalimat:
أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلَاكَ
“Bahwa Pemberi melalui mereka adalah Tuhanmu.”
Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sedang mengatakan bahwa manusia tidak boleh menjadi sebab.
Justru manusia tetap menjadi wasilah atau sebab dalam kehidupan.
Seseorang memberikan pekerjaan.
Dokter memberikan pengobatan.
Orang tua memberikan bantuan.
Teman memberikan pertolongan.
Guru memberikan ilmu.
Namun seorang yang belajar bertawakal berusaha melihat lebih dalam:
manusia adalah sebab, sedangkan Allah adalah Pemberi yang menjadi sandaran akhir.
Bab Suluk: Melepaskan Ketergantungan Hati
Ini dapat kita masukkan sebagai salah satu Bab Suluk tentang melepaskan ketergantungan batin kepada makhluk.
Sekali lagi, “Bab Suluk” di sini adalah pengelompokan tematik untuk seri kita, bukan judul bab resmi dalam susunan Al-Hikam.
Masalahnya bukan pada tangan.
Masalahnya ada pada hati.
Tangan boleh menerima pemberian manusia.
Tetapi hati jangan sampai berkata:
“Tanpa orang ini, hidup saya selesai.”
Tangan boleh menerima gaji dari perusahaan.
Tetapi hati jangan sampai meyakini:
“Perusahaan inilah yang menjamin rezeki saya.”
Kita boleh meminta bantuan kepada seseorang.
Tetapi jangan sampai seluruh ketenangan jiwa kita bergantung pada apakah orang itu mau membantu atau tidak.
Sebab ketika hati terlalu menggantung kepada makhluk, perubahan sikap manusia dapat langsung mengguncangkan batin kita.
Hari ini dia membantu, kita bahagia.
Besok dia menolak, kita hancur.
Hari ini seseorang memuji, kita merasa berharga.
Besok dia mengabaikan, kita merasa tidak berarti.
Di sinilah ketergantungan kepada makhluk mulai berubah menjadi perbudakan batin.
Meminta kepada Manusia Tidak Berarti Salah
Bagian ini penting agar hikmah tidak dipahami secara berlebihan.
Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sedang mengajarkan bahwa kita harus menolak semua bantuan manusia.
Seorang yang sakit tetap perlu berobat.
Orang yang mencari pekerjaan tetap perlu melamar.
Orang yang mengalami kesulitan tetap boleh meminta pertolongan.
Seorang murid perlu belajar kepada guru.
Seseorang yang menghadapi persoalan hukum perlu meminta nasihat kepada orang yang berkompeten.
Mengambil sebab adalah bagian dari kehidupan manusia.
Yang perlu dibersihkan adalah ketergantungan hati.
Bedakan dua keadaan berikut.
Pertama: mengambil sebab
“Saya meminta bantuan kepada orang ini karena Allah menjadikannya sebagai sebab.”
Ini sehat.
Kedua: menggantungkan hati
“Kalau orang ini tidak menolong saya, tidak ada lagi harapan.”
Ini yang perlu diperiksa.
Sebab pada keadaan kedua, manusia tidak lagi sekadar menjadi sebab.
Ia mulai ditempatkan sebagai pusat harapan hati.
Mengapa Penolakan Manusia Sering Begitu Menyakitkan?
Karena terkadang kita tidak hanya kehilangan bantuan.
Kita merasa kehilangan sumber keselamatan.
Ketika seseorang menolak permintaan kita, mungkin yang sebenarnya terluka bukan hanya kebutuhan kita, tetapi keyakinan tersembunyi:
“Saya membutuhkan dia agar hidup saya baik-baik saja.”
Maka ketika dia berkata “tidak”, hati langsung gelisah.
Padahal sebuah penolakan dari manusia tidak otomatis berarti pintu kehidupan telah tertutup.
Bisa jadi satu sebab tertutup dan sebab lain terbuka.
Bisa jadi kita memang perlu belajar mandiri.
Bisa jadi kita perlu mencari jalan lain.
Bisa jadi bantuan yang kita inginkan memang bukan yang terbaik.
Dan bisa jadi pengalaman itu sedang mengajarkan kita bahwa ketenangan tidak boleh sepenuhnya dititipkan kepada makhluk.
Hikmah Kedua: Jangan Malu Meminta kepada Allah
Ibn ‘Aṭā’illāh melanjutkan:
رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ إِلَى مَوْلَاهُ لِاكْتِفَائِهِ بِمَشِيئَتِهِ، فَكَيْفَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى خَلِيقَتِهِ؟
Maknanya secara ringkas:
“Kadang seorang ‘arif merasa malu mengangkat kebutuhannya kepada Tuhannya karena merasa cukup dengan kehendak-Nya. Maka bagaimana ia tidak malu mengangkatnya kepada makhluk-Nya?”
Ini bukan berarti kita tidak boleh meminta sesuatu kepada Allah.
Justru doa adalah bentuk pengakuan bahwa kita membutuhkan-Nya.
Pesan hikmah ini lebih halus:
jangan sampai kita begitu sibuk mengejar pertolongan makhluk hingga lupa membawa kebutuhan kita kepada Allah.
Sering kali urutannya terbalik.
Ketika menghadapi masalah, kita langsung:
mencari orang → menghubungi orang → menunggu jawaban orang → kecewa kepada orang.
Baru setelah semuanya buntu kita berkata:
“Ya Allah, tolonglah aku.”
Al-Hikam mengajak kita membalik kesadaran itu.
Mintalah kepada Allah, kemudian tempuh sebab-sebab yang tersedia.
Lahir dan Batin
Dalam kehidupan lahiriah:
kita bekerja, meminta bantuan, berobat, belajar, berdagang, berkomunikasi, dan bekerja sama.
Dalam kehidupan batin:
kita mengetahui bahwa semua sebab itu tidak berdiri sendiri.
Inilah keseimbangan yang penting.
Tidak meninggalkan sebab, tetapi tidak menyembah sebab.
Tidak menolak manusia.
Tidak pula menggantungkan hidup kepada manusia.
Tidak pasif atas nama tawakal.
Tidak pula merasa bahwa seluruh kehidupan berada di tangan manusia.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Seseorang sedang mencari pekerjaan.
Ia mengirim lamaran kepada sepuluh perusahaan.
Lalu satu perusahaan memanggilnya wawancara.
Ia berharap besar.
Namun akhirnya ditolak.
Ada dua kemungkinan sikap batin.
Sikap pertama
“Perusahaan itu menolak saya. Berarti saya tidak punya masa depan.”
Hatinya runtuh.
Sikap kedua
“Saya memang berharap pekerjaan ini. Saya sudah berusaha. Tetapi pemberian Allah tidak terbatas pada satu perusahaan.”
Ia kecewa, tetapi tidak kehilangan arah.
Ia memperbaiki CV.
Belajar lagi.
Mencari peluang lain.
Berdoa.
Dan melanjutkan usaha.
Inilah perbedaan antara berharap kepada sebab dan bergantung kepada Pemberi sebab.
Muhasabah
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
1. Siapa orang yang paling saya takuti kehilangan bantuannya?
2. Ketika seseorang menolak saya, apakah saya langsung merasa masa depan saya tertutup?
3. Apakah saya lebih sering mengeluh kepada manusia daripada mengadu kepada Allah?
4. Ketika mendapatkan pertolongan seseorang, apakah saya masih mengingat Allah sebagai Pemberi?
5. Apakah saya mengambil sebab dengan tenang, atau saya menjadikan sebab sebagai satu-satunya sandaran?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berhenti meminta bantuan kepada manusia.
Justru untuk mengetahui:
di mana sebenarnya hati kita bersandar?
Latihan Suluk Hari Ini
Cobalah melakukan satu latihan sederhana.
Ketika membutuhkan sesuatu, jangan langsung panik mencari siapa yang dapat menolong.
Berhenti sejenak.
Tarik napas.
Berdoalah:
“Ya Allah, Engkau mengetahui kebutuhanku. Jika Engkau kehendaki, bukakanlah sebab yang baik bagiku. Tunjukkan kepadaku jalan yang benar dan jangan jadikan hatiku bergantung kepada selain-Mu.”
Setelah itu, lakukan ikhtiar.
Hubungi orang yang perlu dihubungi.
Kirim lamaran.
Cari informasi.
Minta nasihat.
Berobat.
Bekerja.
Lakukan semua sebab yang diperlukan.
Tetapi setelah semuanya dilakukan, jangan biarkan hati terus-menerus berkata:
“Apakah manusia itu akan menyelamatkanku?”
Ubahlah menjadi:
“Aku sedang menempuh sebab. Allah-lah tempat aku bersandar.”
Penutup
Kita tidak hidup sendirian.
Allah memang menghadirkan manusia sebagai sebab dalam kehidupan kita.
Ada orang yang membantu.
Ada orang yang mengajarkan.
Ada orang yang membuka jalan.
Ada orang yang menjadi perantara rezeki.
Maka menghargai mereka adalah bagian dari akhlak.
Tetapi Al-Hikam mengingatkan kita agar tidak berhenti pada perantara.
Lihatlah Pemberi di balik pemberian.
Ketika seseorang memberi, bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasih kepada orang tersebut.
Ketika seseorang menolak, jangan menganggap seluruh pintu telah tertutup.
Ketika satu jalan gagal, jangan mengira Allah berhenti memberi.
Sebab tugas kita adalah menempuh sebab dengan benar, sementara hati belajar untuk tetap bersandar kepada Allah.
Inilah tawakal yang lebih matang:
tangan bekerja di dunia, tetapi hati tidak diperbudak oleh dunia.
SULUK DALAM II — Bagian V
Ketika Kita Terlalu Bergantung kepada Manusia
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #AlHikam #IbnAthaillah #Tawakal #Tasawuf #Suluk #Muhasabah #KetenanganHati #KetergantunganHati

Tidak ada komentar untuk "Ketika Kita Terlalu Bergantung kepada Manusia Pelajaran Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketergantungan Hati - Bagian V — "
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."