Mengapa Allah Memberi Ujian? Pelajaran Tasawuf Al-Hikam (Suluk Dalam II)
SULUK DALAM II
Bagian II — Mengapa Allah Memberi Ujian?
Ada satu kenyataan dalam hidup yang sulit diterima:
kita tidak selalu mendapatkan kehidupan yang kita inginkan, bahkan ketika kita merasa sudah berusaha menjadi orang baik.
Kita berdoa, tetapi masalah datang.
Kita berusaha menjaga diri, tetapi tetap diuji.
Kita berbuat baik, tetapi justru mendapatkan perlakuan yang menyakitkan.
Lalu muncul pertanyaan:
“Kalau Allah menyayangiku, mengapa aku harus mengalami semua ini?”
Pertanyaan itu manusiawi.
Tetapi dalam perjalanan suluk, pertanyaan tersebut perlahan diarahkan menjadi:
“Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui keadaan ini?”
Di sinilah kita mulai melihat ujian bukan hanya sebagai sesuatu yang menimpa kehidupan, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat mendidik hati.
Hikmah Al-Hikam
Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:
رُبَّمَا وَرَدَتِ الظُّلَمُ عَلَيْكَ، لِيُعَرِّفَكَ قَدْرَ مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْكَ
Artinya:
“Boleh jadi kegelapan-kegelapan datang kepadamu agar Dia memperkenalkan kepadamu nilai karunia yang telah Dia limpahkan kepadamu.”
Hikmah ini sangat dalam.
Ibn ‘Aṭā’illāh tidak mengatakan bahwa setiap kesulitan harus kita sukai.
Ia menunjukkan bahwa keadaan sulit dapat membuka kesadaran yang sebelumnya tidak kita miliki.
🌑 Ketika Terang Membuat Kita Lupa
Manusia sering tidak menyadari nilai sebuah nikmat ketika nikmat itu terus-menerus hadir.
Kesehatan terasa biasa ketika tubuh sehat.
Ketenangan terasa biasa ketika hidup tidak memiliki masalah.
Keluarga terasa biasa ketika mereka selalu ada.
Rezeki terasa biasa ketika kebutuhan selalu terpenuhi.
Bahkan kesempatan beribadah pun terkadang terasa biasa ketika kita masih memiliki waktu dan kemampuan.
Kemudian datang suatu keadaan yang mengubah semuanya.
Barulah kita berkata:
“Ternyata selama ini aku memiliki begitu banyak nikmat.”
Inilah yang dimaksud dengan:
لِيُعَرِّفَكَ قَدْرَ مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْكَ
“Agar Dia memperkenalkan kepadamu nilai karunia yang telah diberikan kepadamu.”
Kadang seseorang baru mengenali terangnya cahaya setelah melewati gelap.
Ujian Tidak Selalu Berarti Hukuman
Ini bagian yang penting.
Tidak setiap ujian berarti Allah sedang menghukum seseorang.
Kesulitan dapat mempunyai banyak makna dalam kehidupan seorang manusia.
Ia bisa menjadi:
- pengingat,
- pendidikan,
- pembersihan,
- pembentukan kesabaran,
- pembongkar kesombongan,
- pengembalian hati kepada Allah,
- atau jalan untuk menyadari nikmat yang selama ini diabaikan.
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika melihat musibah orang lain lalu berkata:
“Itu pasti karena dosa-dosanya.”
Kita tidak mengetahui rahasia hubungan seseorang dengan Allah.
Yang dapat kita lakukan adalah mengambil pelajaran dari keadaan kita sendiri.
BAB SULUK: UJIAN SEBAGAI PENDIDIKAN HATI
Dalam suluk, yang penting bukan hanya:
apa yang terjadi kepada kita,
tetapi:
apa yang terjadi kepada hati kita setelah sesuatu terjadi.
Dua orang bisa mengalami kehilangan yang sama.
Yang satu menjadi semakin keras.
Yang lain menjadi semakin lembut.
Dua orang bisa mengalami kegagalan yang sama.
Yang satu menjadi penuh kebencian.
Yang lain menjadi lebih rendah hati.
Dua orang bisa mengalami kesempitan.
Yang satu semakin jauh dari Allah.
Yang lain justru semakin sering berdoa.
Maka keadaan lahiriah tidak otomatis menentukan keadaan batiniah.
Cara hati merespons keadaanlah yang menjadi bagian penting dari perjalanan suluk.
Ketika Ujian Membongkar Ketergantungan
Sering kali kita merasa:
“Aku kuat.”
Sampai kehidupan menunjukkan bahwa kita sebenarnya tidak sekuat itu.
Kita merasa:
“Aku bisa mengendalikan semuanya.”
Sampai sebuah kejadian datang tanpa meminta izin.
Kita merasa:
“Aku tahu apa yang terbaik untuk hidupku.”
Sampai rencana yang kita susun dengan sangat baik ternyata gagal.
Pada saat seperti itu, sesuatu yang tersembunyi dalam diri mulai terlihat:
ketergantungan kita kepada sebab.
Kita bukan hanya membutuhkan Allah.
Kita ternyata juga menggantungkan ketenangan kepada:
uang,
pekerjaan,
jabatan,
pengakuan manusia,
hubungan,
rencana,
dan berbagai hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar berada dalam kendali kita.
Ujian terkadang datang seperti cermin.
Ia memperlihatkan:
“Di mana sebenarnya hatimu bergantung?”
Gelap yang Mengajarkan Nilai Cahaya
Hikmah ini juga berkaitan erat dengan hikmah sebelumnya:
مَنْ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَ النِّعَمِ بِوُجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فَقْدَانِهَا
“Barang siapa tidak mengetahui nilai nikmat ketika memilikinya, ia akan mengetahuinya ketika nikmat itu hilang.”
Betapa sering manusia baru menghargai:
waktu setelah waktu berlalu,
kesehatan setelah sakit,
kebersamaan setelah perpisahan,
ketenangan setelah kegelisahan,
dan kesempatan setelah kesempatan itu tertutup.
Karena itu, seorang salik berusaha belajar mengenali nikmat sebelum kehilangan datang mengajarinya dengan cara yang lebih keras.
Dari “Mengapa Aku?” Menjadi “Apa yang Harus Kupelajari?”
Ini salah satu perubahan besar dalam perjalanan batin.
Ketika ujian datang, nafsu bertanya:
“Mengapa aku?”
Hati yang sedang belajar bertanya:
“Apa yang harus aku pelajari?”
Nafsu bertanya:
“Kapan ini selesai?”
Hati bertanya:
“Bagaimana aku harus bersikap selama ini berlangsung?”
Nafsu bertanya:
“Mengapa Allah tidak mengikuti keinginanku?”
Hati bertanya:
“Apa yang sedang keadaan ini tunjukkan tentang diriku?”
Perubahan pertanyaan tersebut tampak sederhana.
Tetapi di situlah terjadi pergeseran kesadaran.
🔎 Muhasabah
Ketika sedang mengalami kesulitan, cobalah tanyakan:
1. Apa yang sedang diperlihatkan oleh ujian ini tentang diriku?
2. Nikmat apa yang selama ini kuanggap biasa?
3. Kepada siapa atau kepada apa hatiku sebenarnya bergantung?
4. Apakah kesulitan ini membuatku semakin keras atau semakin lembut?
5. Apakah aku masih mampu melihat kebaikan Allah meskipun keadaan tidak sesuai keinginanku?
Dan yang paling penting:
Apakah aku hanya ingin ujian ini segera selesai, atau aku juga ingin keluar darinya sebagai manusia yang lebih baik?
Latihan Batin
Ketika menghadapi sebuah kesulitan, jangan langsung memaksa diri untuk mengatakan:
“Aku harus bersyukur atas musibah ini.”
Tidak semua orang mampu langsung sampai pada tahap itu.
Mulailah dari sesuatu yang lebih jujur:
Pertama — Akui rasa sakitnya.
Tidak perlu berpura-pura kuat.
Kedua — Jangan biarkan rasa sakit menentukan seluruh pandanganmu.
Kesulitan adalah bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan kehidupan.
Ketiga — Cari satu pelajaran.
Tidak perlu mencari sepuluh.
Satu saja.
Keempat — Cari satu nikmat yang masih ada.
Karena ketika satu pintu tertutup, belum tentu semua pintu tertutup.
Kelima — Kembalikan hati kepada Allah.
Bukan dengan menyangkal rasa sakit, tetapi dengan membawa rasa sakit itu ke hadapan-Nya.
Penutup
Ujian memang tidak selalu terasa seperti rahmat ketika kita sedang berada di dalamnya.
Kadang ia terasa seperti gelap.
Kadang seperti kehilangan arah.
Kadang seperti pintu yang tertutup dari segala sisi.
Namun Ibn ‘Aṭā’illāh mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada penampakan lahiriah keadaan.
Boleh jadi di balik kegelapan itu ada sesuatu yang sedang diperkenalkan kepada kita:
nilai sebuah nikmat,
kelemahan diri,
ketergantungan kepada makhluk,
kebutuhan kepada Allah,
atau sesuatu dalam hati yang selama ini tidak kita sadari.
Maka ketika ujian datang, jangan buru-buru mengatakan:
“Allah meninggalkanku.”
Tetapi juga jangan memaksakan diri untuk segera memahami seluruh rahasianya.
Cukup berjalan dengan adab:
sabar ketika sakit,
ikhtiar ketika ada jalan,
berdoa ketika membutuhkan,
dan belajar membaca apa yang sedang terjadi di dalam hati.
Karena terkadang,
ujian bukan hanya tentang apa yang hilang dari tangan kita, tetapi tentang apa yang ditemukan oleh hati kita setelah kehilangan itu.
Dan mungkin itulah salah satu rahasia perjalanan suluk:
Allah tidak selalu mengubah keadaan terlebih dahulu.
Kadang Dia mengubah cara hati kita memandang keadaan.
Hashtag
#SulukDalamII #AlHikam #IbnAthaillah #Suluk #Tasawuf #TasawufJawa #KejawenIslam #Ujian #Musibah #Sabar #Tawakal #Muhasabah #TazkiyatunNafs #Hati #Nikmat #MaRifatullah #PerjalananBatin #RenunganIslam #HikmahTasawuf #Islam #sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam
Tidak ada komentar untuk "Mengapa Allah Memberi Ujian? Pelajaran Tasawuf Al-Hikam (Suluk Dalam II)"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."