Mengapa Allah Memerintahkan Kita Beribadah?

 

sujud



SULUK DALAM II — BAGIAN XVII

Mengapa Allah Memerintahkan Kita Beribadah? Pelajaran Al-Hikam tentang Makna Ketaatan

Bab Suluk: Menempatkan Ibadah sebagai Kebutuhan Hamba, Bukan Jasa kepada Allah

Ada kalanya seseorang menjalankan ibadah, tetapi diam-diam merasa bahwa dirinya sedang memberikan sesuatu kepada Allah.

Ia salat, lalu merasa sudah berjasa.
Ia bersedekah, lalu merasa layak mendapatkan balasan.
Ia berpuasa, lalu merasa lebih baik daripada orang lain.
Ia berzikir, lalu merasa sudah memiliki kedudukan khusus.

Padahal, semakin dalam seseorang memahami ibadah, semakin ia menyadari bahwa Allah tidak membutuhkan ketaatan manusia. Justru manusialah yang membutuhkan ketaatan kepada Allah.

Ibnu ‘Aṭā’illāh mengingatkan:

لَا تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ وَلَا تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِهَذِهِ وَنَهَاكَ عَنْ هَذِهِ لِمَا يَعُودُ إِلَيْكَ

Artinya:

“Ketaatanmu tidak memberikan manfaat kepada-Nya, dan kemaksiatanmu tidak memberikan mudarat kepada-Nya. Sesungguhnya Dia memerintahkanmu melakukan ini dan melarangmu melakukan itu karena akibatnya kembali kepadamu.”

Ibadah Bukan Jasa Kita kepada Allah

Hikmah ini mengubah cara pandang kita terhadap ibadah.

Ketika seseorang berkata, “Saya sudah melakukan banyak amal,” pertanyaan yang perlu muncul bukan hanya berapa banyak amal yang telah dilakukan, tetapi juga:

Dari mana kemampuan untuk beramal itu berasal?

Bukankah kesehatan yang memungkinkan kita salat adalah pemberian-Nya?

Bukankah waktu yang memungkinkan kita beribadah juga pemberian-Nya?

Bukankah kemampuan memahami kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, bahkan kesempatan bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, semuanya berada dalam rangkaian nikmat yang tidak sepenuhnya kita ciptakan sendiri?

Karena itu, ibadah bukanlah transaksi:

“Aku berbuat baik kepada Allah, maka Allah harus membalas jasaku.”

Ibadah adalah bentuk penghambaan seorang makhluk kepada Penciptanya sekaligus jalan yang manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri.


Ketaatan Membentuk Diri Kita

Allah tidak menjadi lebih mulia karena manusia menyembah-Nya.

Dan Allah tidak menjadi kurang mulia ketika manusia berpaling.

Kemuliaan Allah tidak bergantung kepada pengakuan manusia.

Yang berubah adalah diri manusia itu sendiri.

Salat membentuk kedisiplinan dan mengingatkan hati kepada Allah.

Puasa melatih kemampuan menahan keinginan.

Sedekah melatih seseorang melepaskan sebagian dari apa yang dicintainya.

Zikir menjaga hati agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam kelalaian.

Menjauhi maksiat menjaga diri dari akibat buruk yang ditimbulkan oleh perbuatan itu.

Dengan demikian, perintah dan larangan Allah bukan karena Allah membutuhkan sesuatu dari kita.

Kitalah yang membutuhkan petunjuk-Nya agar kehidupan kita tidak dikendalikan oleh hawa nafsu.


Ketika Ibadah Menjadi Alat untuk Merasa Lebih Tinggi

Di sinilah hikmah ini bertemu dengan persoalan yang sudah kita bahas pada bagian-bagian sebelumnya.

Bahaya ibadah bukan hanya meninggalkannya.

Ada bahaya lain yang lebih halus:

melakukan ibadah, tetapi kemudian merasa lebih tinggi karena ibadah tersebut.

Seseorang rajin salat, lalu merendahkan orang yang belum mampu seperti dirinya.

Seseorang banyak bersedekah, lalu merasa orang lain berutang penghormatan kepadanya.

Seseorang banyak berzikir, lalu mulai merasa dirinya memiliki kedudukan spiritual yang lebih tinggi.

Padahal, jika kemampuan beribadah adalah karunia Allah, maka tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk menyombongkan karunia tersebut.

Justru semakin banyak seseorang diberi kesempatan untuk berbuat baik, seharusnya semakin besar rasa syukurnya.


Lahirnya Tetap Taat, Batinya Tetap Rendah Hati

Memahami hikmah ini bukan berarti kita boleh berkata:

“Kalau ibadah tidak memberi manfaat kepada Allah, berarti tidak perlu beribadah.”

Itu justru salah memahami hikmah.

Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sedang mengurangi nilai ketaatan. Ia sedang membersihkan cara pandang kita terhadap ketaatan.

Kita tetap wajib menjalankan kewajiban.

Kita tetap perlu menjauhi larangan.

Kita tetap perlu memperbanyak amal saleh.

Tetapi jangan sampai amal tersebut melahirkan perasaan:

“Allah membutuhkan saya.”

Yang benar justru:

“Saya yang membutuhkan Allah.”

Inilah perbedaan antara ketaatan yang melahirkan kehambaan dan ketaatan yang melahirkan kesombongan.


Jangan Menjadikan Ibadah sebagai Alat Menagih Allah

Ada bentuk lain yang sangat halus.

Seseorang mungkin tidak menyombongkan ibadah di hadapan manusia, tetapi ia merasa kecewa kepada Allah karena merasa sudah banyak beribadah.

Ia berkata dalam hati:

“Saya sudah salat, sudah berdoa, sudah bersedekah. Mengapa hidup saya masih seperti ini?”

Di sini ibadah mulai diperlakukan seperti alat pembayaran.

Seolah-olah kita telah memberikan sesuatu kepada Allah dan sekarang Allah wajib memenuhi keinginan kita.

Padahal Allah tidak memiliki utang kepada kita.

Bahkan kesempatan kita untuk beribadah pun merupakan karunia.

Karena itu, ibadah seharusnya membawa kita kepada syukur, bukan kepada tuntutan.

Doa tetap dilakukan.

Ikhtiar tetap dilakukan.

Kebutuhan tetap boleh disampaikan kepada Allah.

Tetapi hati tidak menjadikan amal sebagai alasan untuk menuntut hasil tertentu dari-Nya.


Hubungannya dengan Suluk

Dalam perjalanan suluk, seseorang perlahan-lahan belajar memindahkan pusat perhatian:

Dari:

“Apa yang saya dapatkan dari ibadah?”

menjadi:

“Bagaimana ibadah ini membentuk hubungan saya sebagai hamba kepada Allah?”

Dari:

“Berapa banyak amal yang sudah saya lakukan?”

menjadi:

“Apakah amal itu membuat hati saya lebih tunduk?”

Dari:

“Mengapa Allah belum membalas?”

menjadi:

“Mengapa saya masih merasa bahwa Allah berutang kepada saya?”

Perubahan ini sangat penting.

Suluk bukan sekadar memperbanyak aktivitas keagamaan.

Suluk juga merupakan proses membersihkan cara hati memandang amalnya sendiri.


Muhasabah untuk Kita

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

  1. Apakah saya pernah merasa lebih baik daripada orang lain karena ibadah saya?
  2. Apakah saya pernah menganggap amal sebagai alasan untuk menuntut sesuatu dari Allah?
  3. Ketika mendapat kesempatan berbuat baik, apakah saya merasa sedang memberi jasa kepada Allah atau sedang menerima karunia?
  4. Apakah ibadah saya membuat saya semakin rendah hati atau justru semakin mudah menghakimi?
  5. Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui amal saya, apakah saya masih ingin melakukannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berhenti beramal.

Justru sebaliknya.

Ia mengajak kita memperbaiki ruh dari amal tersebut.


Penutup: Kita Tidak Sedang Membesarkan Allah dengan Ibadah Kita

Allah tidak menjadi lebih besar karena kita salat.

Allah tidak menjadi lebih mulia karena kita berpuasa.

Allah tidak bertambah kaya karena kita bersedekah.

Allah tidak berkurang kemuliaan-Nya ketika manusia bermaksiat.

Tetapi kita yang berubah.

Kita yang menjadi lebih teratur karena salat.

Kita yang dilatih menahan diri melalui puasa.

Kita yang belajar melepaskan keterikatan melalui sedekah.

Kita yang diselamatkan dari banyak kerusakan ketika menjauhi maksiat.

Maka jangan melihat ibadah sebagai jasa kita kepada Allah.

Lihatlah ia sebagai jalan yang Allah bukakan agar kita kembali menjadi hamba.

Semakin seseorang memahami hal ini, semakin kecil ruang untuk ujub.

Dan semakin ia sadar bahwa bahkan ketaatannya pun merupakan karunia, semakin mudah hatinya berkata:

“Ya Allah, bukan aku yang berjasa karena telah taat kepada-Mu. Engkaulah yang telah memberiku kesempatan untuk taat.”

Di situlah ibadah perlahan berubah dari sekadar kewajiban yang dilakukan menjadi karunia yang disyukuri.

Hashtag

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #ibadah #ketaatan #ikhlas #muhasabah #tawadhu #ujub #hikmahalhikam

Tidak ada komentar untuk "Mengapa Allah Memerintahkan Kita Beribadah?"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: