Eyang Pangudar dan Lek Kesod: Orang yang Sibuk Mencari Tuhan

 eyang-pangudar-lek-kesod-hikmah-sufi-jawa-sulukk.jpg

Sore itu, halaman rumah Eyang Pangudar ramai oleh beberapa murid.

Kang Kun sedang menyapu halaman. Lek Pawet sibuk memperbaiki sandal jepitnya yang putus. Sementara Lek Kesod mondar-mandir sejak tadi seperti orang kehilangan sesuatu.

Eyang Pangudar yang sedang ngopi akhirnya bertanya.

“Kesod, kowe nggoleki apa?”

Lek Kesod berhenti.

“Aku sedang mencari Tuhan, Yang.”

Kang Kun berhenti menyapu.

Lek Pawet berhenti memperbaiki sandal.

Eyang Pangudar masih tenang menyeruput kopi.

“Terus ketemu?”

“Belum.”

“Sudah cari di mana?”

“Di masjid sudah. Di pengajian sudah. Di buku-buku sudah. Di makam para wali sudah.”

Eyang Pangudar mengangguk.

“Bagus.”

Lek Kesod kembali mondar-mandir.

“Makanya saya bingung, Yang. Tuhan itu sebenarnya tinggal di mana?”

Eyang Pangudar menunjuk ke dapur.

“Coba lihat.”

Lek Kesod berlari ke dapur.

Tidak lama kemudian ia kembali.

“Tidak ada, Yang.”

“Coba lihat di kamar.”

Lek Kesod masuk kamar.

Kembali lagi.

“Tidak ada juga.”

“Coba lihat di kebun.”

Lek Kesod pergi ke kebun.

Beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah berkeringat.

“Tidak ada, Yang.”

Lek Pawet nyeletuk,

“Coba cari di dompetmu.”

Lek Kesod membuka dompet.

Kosong.

“Jangankan Tuhan, uang saja tidak ada.”

Semua tertawa.

Eyang Pangudar ikut tersenyum.

Kemudian beliau berkata pelan,

“Kesod.”

“Iya, Yang?”

“Kenapa kamu sibuk mencari Tuhan di tempat yang jauh, sementara kamu tidak pernah mencari dirimu sendiri?”

Lek Kesod diam.

Kang Kun menaruh sapunya.

Lek Pawet juga berhenti tertawa.

Eyang Pangudar melanjutkan,

“Orang sering pergi jauh mencari ketenangan, padahal yang dibawanya ke mana-mana adalah pikirannya sendiri.”

Lek Kesod menggaruk kepala.

“Jadi Tuhan ada di dalam diri saya, Yang?”

Eyang Pangudar tersenyum.

“Jangan cepat-cepat menyimpulkan.”

“Lho?”

“Kalau baru mendengar satu kalimat lalu langsung menyimpulkan, nanti kamu malah menemukan dirimu sendiri sebagai Tuhan.”

Lek Pawet langsung tertawa terbahak-bahak.

“Wah, kalau Kesod jadi Tuhan, tamat kita semua!”

Lek Kesod sewot.

“Kenapa?”

Lek Pawet menjawab,

“Karena kalau Tuhan seperti kamu, tiap sore pasti kehilangan sandal.”

Eyang Pangudar tertawa kecil.

Lalu berkata,

“Sudahlah. Jangan sibuk mencari Tuhan sampai lupa belajar menjadi manusia.”

Suasana kembali hening.

Angin sore bergerak perlahan melewati halaman.

Lek Kesod duduk.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak bertanya.

Eyang Pangudar kemudian berkata,

“Kadang-kadang yang paling jauh dari manusia bukan Tuhan.”

Beliau menatap Lek Kesod.

“Yang paling jauh adalah dirinya sendiri.”

Hikmah

Manusia sering mencari sesuatu yang besar dengan cara yang jauh-jauh.

Mencari kebahagiaan ke tempat lain.

Mencari ketenangan dari orang lain.

Mencari pengakuan dari dunia.

Bahkan mencari Tuhan dengan sibuk memperdebatkan nama, tempat, kelompok, dan pendapat.

Padahal sebelum mencari yang jauh, ada satu perjalanan yang sering kita lupakan:

perjalanan masuk ke dalam diri sendiri.

Bukan berarti Tuhan harus dipahami secara sederhana sebagai “berada di dalam diri”. Bukan pula berarti manusia adalah Tuhan.

Hikmahnya adalah: pengenalan kepada Yang Maha Tinggi seharusnya membuat manusia semakin mengenal kelemahan, kesombongan, nafsu, dan keterbatasan dirinya.

Sebab semakin seseorang merasa dirinya sudah paling tahu tentang Tuhan, semakin perlu ia bertanya:

“Jangan-jangan yang sedang aku bela mati-matian bukan Tuhan, tetapi egoku sendiri?”

Catatan Mualif – Kun Alfa

Ada orang yang berkeliling mencari guru, tetapi tidak pernah mau berguru kepada kesalahannya sendiri.

Ada yang rajin mencari ilmu, tetapi ilmu itu hanya dipakai untuk memenangkan perdebatan.

Ada yang sibuk berbicara tentang ikhlas, tetapi marah ketika tidak dipuji.

Maka suluk yang paling dekat kadang bukan perjalanan menuju tempat yang jauh.

Melainkan perjalanan dari kepala menuju hati, dari merasa tahu menuju mau belajar, dan dari merasa paling benar menuju mampu bercermin.

Barangkali itulah sebabnya Eyang Pangudar tidak menyuruh Lek Kesod pergi lebih jauh.

Beliau justru menyuruhnya berhenti.

Karena terkadang,

orang yang terlalu sibuk mencari jalan lupa bahwa dirinya sendiri sedang berdiri di atas jalan itu.


Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #eyangpangudar #kipangudar #kangkun #lekkesod #lekpawet #hikmahkehidupan #ceritajenaka #guyonansufi #suluk #hikmahsufi

Tidak ada komentar untuk "Eyang Pangudar dan Lek Kesod: Orang yang Sibuk Mencari Tuhan"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: