Ketika Hawa Nafsu Menjadi Penyakit yang Tidak Terasa - Bagian XXIX — Pelajaran Al-Hikam tentang Bahaya Kesenangan yang Menguasai Hati

 orang penjilat

 Bahaya Kesenangan yang Menguasai Hati

Bab Suluk: Mengenali Hawa Nafsu sebelum Ia Menjadi Kebiasaan

Ada penyakit yang membuat tubuh sakit sehingga kita segera mencarinya.

Ada pula penyakit yang tidak terasa sebagai penyakit.

Ia justru terasa menyenangkan.

Kita menikmatinya.

Kita membenarkannya.

Kita bahkan merasa tidak ada masalah dengannya.

Padahal perlahan-lahan ia menguasai hati.

Dalam perjalanan suluk, inilah salah satu persoalan paling sulit: ketika sesuatu yang sebenarnya perlu dikendalikan justru terasa sangat nikmat untuk dipelihara.

Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan:

Hikmah

تَمَكُّنُ حَلَاوَةِ الْهَوَى مِنَ الْقَلْبِ هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ

Terjemah makna:

“Menetapnya rasa manis hawa nafsu di dalam hati itulah penyakit yang sulit disembuhkan.”

Hikmah ini sangat singkat.

Tetapi justru karena singkat, ia membuka ruang perenungan yang sangat luas.


Bukan Sekadar Memiliki Keinginan

Manusia memiliki keinginan.

Ingin makan.

Ingin beristirahat.

Ingin memiliki rumah.

Ingin mendapatkan penghasilan.

Ingin dicintai.

Ingin dihargai.

Ingin memiliki kehidupan yang nyaman.

Semua itu tidak otomatis merupakan hawa nafsu yang tercela.

Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak adanya keinginan.

Persoalannya adalah:

Apakah keinginan itu berada di tangan kita, atau justru kita yang berada di bawah kendalinya?

Seseorang masih bebas ketika ia mampu mengatakan:

“Aku menginginkan ini, tetapi aku tidak harus memilikinya.”

Namun ketika hati berkata:

“Aku harus mendapatkannya, apa pun caranya,”

di situlah keinginan mulai berubah menjadi keterikatan.


Mengapa Disebut “Rasa Manis”?

Ibn ‘Aṭā’illāh tidak mengatakan sekadar hawa nafsu.

Beliau mengatakan:

حَلَاوَةُ الْهَوَى

“Manisnya hawa nafsu.”

Inilah yang membuatnya berbahaya.

Sesuatu yang pahit mudah ditinggalkan.

Tetapi sesuatu yang terasa manis justru ingin diulang.

Kesenangan yang terus diulang menjadi kebiasaan.

Kebiasaan yang terus dipelihara dapat menjadi pola hidup.

Dan pola hidup yang tidak diperiksa dapat membentuk karakter.

Karena itu, persoalannya bukan hanya:

“Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”

Tetapi juga:

“Apa yang sedang membuat hatiku semakin sulit mengatakan cukup?”


Hawa Nafsu Zaman Sekarang

Pada zaman dahulu, bentuk godaan manusia mungkin berbeda dengan kehidupan hari ini.

Sekarang manusia hidup di tengah sistem yang terus mendorong keinginan.

Lihat.

Bandingkan.

Beli.

Miliki.

Tampilkan.

Dapatkan lebih banyak.

Jadilah lebih terkenal.

Jadilah lebih sukses.

Jangan kalah dari orang lain.

Tidak mengherankan jika seseorang merasa hidupnya selalu kurang meskipun secara lahiriah sudah memiliki banyak hal.

Karena hawa nafsu tidak selalu berkata:

“Aku ingin sesuatu.”

Kadang ia berkata:

“Aku ingin lebih.”

Dan setelah mendapatkan lebih, ia berkata lagi:

“Masih kurang.”


Penyakit yang Tidak Terasa

Yang paling berbahaya dari hawa nafsu bukan selalu ketika ia membuat seseorang melakukan sesuatu yang jelas buruk.

Kadang ia justru menyamar sebagai sesuatu yang wajar.

Misalnya:

“Aku hanya ingin dihargai.”

“Aku hanya ingin hidup nyaman.”

“Aku hanya ingin orang lain mengakui kemampuanku.”

“Aku hanya ingin membalas sedikit.”

“Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku juga bisa.”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar biasa.

Tetapi suluk mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam:

“Apa yang sebenarnya sedang dicari oleh hati?”

Karena satu tindakan yang sama dapat memiliki latar batin yang berbeda.


Ketika Pujian Menjadi Kebutuhan

Seseorang boleh menerima pujian.

Tetapi jika tanpa pujian ia merasa tidak berharga, ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Seseorang boleh memiliki prestasi.

Tetapi jika kegagalan membuat seluruh harga dirinya runtuh, ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Seseorang boleh menggunakan media sosial.

Tetapi jika suasana hatinya sepenuhnya ditentukan oleh jumlah perhatian yang diterimanya, ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Hawa nafsu dapat berkembang bukan hanya melalui benda yang kita miliki.

Ia dapat berkembang melalui ketergantungan terhadap perasaan tertentu.

Kita menjadi kecanduan untuk merasa:

  • dipuji,
  • disukai,
  • menang,
  • unggul,
  • diperhatikan,
  • atau dianggap penting.

Lahir dan Batin

Secara lahir

Kita belajar membatasi sesuatu yang berlebihan.

Bukan berarti mengharamkan semua kesenangan.

Tetapi belajar membedakan:

kebutuhan, keinginan, dan keterikatan.

Secara batin

Kita belajar melihat apa yang terjadi di dalam hati ketika sesuatu tidak kita dapatkan.

Di situlah sering kali ukuran keterikatan menjadi lebih jelas.

Ketika tidak dipuji, bagaimana hati?

Ketika ditolak, bagaimana hati?

Ketika kalah, bagaimana hati?

Ketika keinginan tidak terpenuhi, bagaimana hati?

Ketika orang lain mendapatkan apa yang kita inginkan, bagaimana hati?

Jawaban atas pertanyaan itu dapat menjadi cermin.


Jangan Memusuhi Diri Sendiri

Mengenali hawa nafsu bukan berarti membenci diri sendiri.

Seseorang tidak perlu merasa jijik terhadap dirinya hanya karena masih memiliki keinginan.

Manusia memang memiliki nafsu.

Yang menjadi tugas suluk adalah mendidik dan mengarahkannya, bukan berpura-pura bahwa kita sudah terbebas sepenuhnya darinya.

Karena itu, ketika menemukan kelemahan diri, jangan berkata:

“Aku memang buruk.”

Lebih baik berkata:

“Di sinilah aku perlu belajar.”

Kesadaran seperti itu lebih sehat daripada kebencian terhadap diri sendiri.


Bagaimana Menghadapi “Rasa Manis” Hawa Nafsu?

Pertama, kenali polanya.

Apa yang paling sulit kita lepaskan?

Kedua, beri jeda sebelum mengikuti dorongan.

Tidak semua keinginan harus segera diwujudkan.

Ketiga, bedakan kebutuhan dengan keinginan.

Keempat, latih kesederhanaan.

Bukan karena memiliki banyak sesuatu pasti salah, tetapi agar hati tidak selalu merasa membutuhkan lebih.

Kelima, kembalikan pusat nilai diri kepada Allah.

Sebab semakin harga diri bergantung kepada dunia, semakin mudah dunia mengendalikan hati.


Perspektif Mualif | Kun Alfa

Menurut perspektif penulis, Mualif | Kun Alfa, salah satu bentuk latihan spiritual yang paling penting pada zaman sekarang adalah belajar mengatakan:

“Cukup.”

Cukup bukan berarti berhenti berkembang.

Cukup bukan berarti tidak memiliki cita-cita.

Cukup bukan berarti menolak kemajuan.

Cukup berarti kita tidak menjadikan “lebih banyak” sebagai syarat untuk merasa bernilai.

Sebab ketika rasa cukup hilang, manusia dapat memiliki banyak hal tetapi tetap merasa miskin.

Sebaliknya, ketika hati belajar cukup, seseorang dapat terus berusaha tanpa menjadi budak dari hasil usahanya.


Hubungan dengan Bagian XXVIII

Pada Bagian XXVIII kita membahas tentang menunggu pemberian tanpa kehilangan arah kepada Allah.

Sekarang kita melihat sisi yang lain.

Kadang yang membuat kita gelisah ketika menunggu bukan hanya karena kebutuhan.

Tetapi karena hawa nafsu sudah menentukan satu hasil sebagai sesuatu yang mutlak harus dimiliki.

Akibatnya, penantian terasa menyakitkan.

Maka dua hikmah ini saling menguatkan:

Belajar menunggu.

Dan:

Belajar tidak diperbudak oleh apa yang sedang ditunggu.

Di sinilah hati mulai mendapatkan kebebasannya.


Muhasabah Bagian XXIX

Cobalah tanyakan kepada diri sendiri:

1. Apa sesuatu yang paling sulit kukatakan “cukup” terhadapnya?

2. Apa yang paling membuatku gelisah ketika tidak mendapatkannya?

3. Apakah aku benar-benar membutuhkannya, atau hanya terbiasa menginginkannya?

4. Jika sesuatu itu hilang, apakah aku masih merasa diriku berharga?

5. Apakah kesenangan tertentu sedang menjadi tuan bagi hatiku?

Tidak perlu menjawab dengan tergesa-gesa.

Kadang satu pertanyaan yang direnungkan dengan jujur lebih berharga daripada banyak nasihat yang hanya dibaca.


Penutup

Hawa nafsu menjadi berbahaya bukan hanya ketika ia membawa kita kepada sesuatu yang buruk.

Ia menjadi berbahaya ketika kita mulai mencintai keterikatan itu sendiri.

Kita tahu bahwa kita terlalu bergantung, tetapi kita menikmatinya.

Kita tahu bahwa kita terlalu mengejar pujian, tetapi kita menyukainya.

Kita tahu bahwa kita terlalu banyak memiliki, tetapi kita takut mengurangi.

Kita tahu bahwa kita terlalu mengejar dunia, tetapi kita merasa tidak bisa berhenti.

Itulah “rasa manis” yang dimaksud dalam hikmah ini.

Maka suluk bukan sekadar bertanya:

“Apa yang boleh dan tidak boleh?”

Tetapi juga:

“Apa yang sedang menguasai hatiku?”

Karena sesuatu yang menguasai hati secara perlahan dapat menjadi tuan, meskipun pada awalnya hanya terlihat sebagai kesenangan kecil.

Dan kebebasan batin dimulai ketika kita mampu berkata:

“Aku boleh menikmati sesuatu, tetapi aku tidak harus menjadi hambanya.”


Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #muhasabah #hawan nafsu #nafsu #ikhlas #hati #penyucianhati #spiritualitas #hikmah #kehidupan #kesederhanaan

Tidak ada komentar untuk "Ketika Hawa Nafsu Menjadi Penyakit yang Tidak Terasa - Bagian XXIX — Pelajaran Al-Hikam tentang Bahaya Kesenangan yang Menguasai Hati"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: