Ketika Kita Terlalu Banyak Menunda: Pelajaran Al-Hikam tentang Menghargai Waktu dan Kesempatan

Angan -Angan    

Bagian XXVII — Ketika Kita Terlalu Banyak Menunda:

Bab Suluk: Menjaga Waktu agar Tidak Hilang dalam Penundaan

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kita lakukan.

Ingin memperbaiki ibadah.

Ingin membaca Al-Qur’an lebih teratur.

Ingin belajar.

Ingin meminta maaf.

Ingin memperbaiki hubungan.

Ingin memulai pekerjaan yang sudah lama direncanakan.

Tetapi sering kali kita berkata:

“Nanti kalau sudah ada waktu.”

Masalahnya, waktu yang kita tunggu sering tidak pernah datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

Kesibukan bertambah.

Tanggung jawab bertambah.

Usia berjalan.

Dan sesuatu yang dahulu terasa bisa dilakukan “besok” akhirnya menjadi sesuatu yang tidak pernah dilakukan.

Ibn ‘Aṭā’illāh mengingatkan dengan sangat tajam:

Hikmah

قَيِّدِ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ لِئَلَّا يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُودُ التَّسْوِيفِ، وَوَسِّعْ عَلَيْكَ الْوَقْتَ لِتَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الِاخْتِيَارِ

Terjemah makna:

“Ikatlah ketaatan dengan waktu-waktu yang telah ditentukan agar keberadaan sikap menunda tidak menghalangimu darinya. Dan Allah melapangkan waktu bagimu agar tetap ada bagian bagimu untuk memilih.”

Hikmah ini berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana tetapi sering menjadi penghalang besar dalam perjalanan spiritual:

taswif — menunda.


Penundaan yang Terlihat Sepele

Menunda tidak selalu berbentuk:

“Saya tidak mau.”

Sering kali bentuknya justru:

“Nanti.”

Nanti setelah pekerjaan selesai.

Nanti setelah ekonomi membaik.

Nanti setelah anak besar.

Nanti setelah masalah selesai.

Nanti setelah hati tenang.

Nanti setelah usia tua.

Nanti ketika sudah benar-benar siap.

Padahal hidup hampir selalu menghadirkan urusan baru.

Satu masalah selesai, masalah lain muncul.

Satu pekerjaan selesai, pekerjaan berikutnya datang.

Jika ketaatan selalu menunggu keadaan sempurna, seseorang bisa menghabiskan hidupnya dalam persiapan tanpa pernah benar-benar memulai.


Mengapa Waktu Perlu “Diikat”?

Ibn ‘Aṭā’illāh menggunakan ungkapan yang kuat:

قَيِّدِ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ

“Ikatlah ketaatan dengan waktu-waktu tertentu.”

Maknanya dapat dipahami secara praktis:

Jangan hanya berniat. Tentukan waktunya.

Jangan sekadar berkata:

“Saya ingin membaca.”

Tentukan kapan membaca.

Jangan hanya berkata:

“Saya ingin berdzikir.”

Tentukan kapan berdzikir.

Jangan hanya berkata:

“Saya ingin belajar agama.”

Tentukan waktu untuk belajar.

Sebab niat yang tidak diberi ruang dalam waktu sering kalah oleh kesibukan.


Niat Baik Tidak Selalu Cukup

Kita sering merasa bahwa karena sudah memiliki niat, berarti kita sudah berada di jalan.

Padahal niat adalah awal.

Ia membutuhkan bentuk.

Misalnya:

“Saya ingin memperbaiki salat.”

Maka tentukan bagaimana.

“Saya ingin membaca Al-Qur’an.”

Tentukan berapa lama dan kapan.

“Saya ingin belajar.”

Tentukan waktunya.

“Saya ingin memperbaiki hubungan dengan orang tua.”

Mulailah dengan satu tindakan nyata.

Karena suluk bukan hanya tentang apa yang ingin kita lakukan, tetapi juga tentang bagaimana keinginan baik itu diwujudkan dalam waktu nyata.


Waktu yang Hilang Tidak Bisa Diulang Persis

Ada hikmah lain yang sangat berdekatan dengan persoalan ini:

مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لَا عِوَضَ لَهُ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لَا قِيمَةَ لَهُ

Makna ringkasnya:

“Apa yang telah berlalu dari umurmu tidak memiliki pengganti, dan apa yang telah engkau peroleh darinya tidak ternilai.”

Pesannya bukan agar kita takut kepada waktu secara berlebihan.

Pesannya adalah agar kita menyadari bahwa waktu tidak dapat dikembalikan dalam bentuk yang sama.

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali.

Barang yang rusak mungkin dapat diganti.

Kesempatan tertentu mungkin dapat datang kembali.

Tetapi satu hari yang telah berlalu tidak dapat diulang persis sebagai hari yang sama.

Karena itu, setiap waktu membawa amanahnya sendiri.


Jangan Menunggu Menjadi Sempurna

Salah satu bentuk taswif yang paling halus adalah menunggu diri menjadi sempurna.

“Nanti saya mulai ibadah kalau hati sudah tenang.”

“Nanti saya belajar kalau sudah punya banyak waktu.”

“Nanti saya memperbaiki diri kalau sudah tidak punya masalah.”

Padahal justru dalam proses itulah manusia belajar.

Kita tidak perlu menunggu menjadi orang sempurna untuk memulai kebaikan.

Mulailah dari yang mampu dilakukan.

Sedikit tetapi nyata.

Sederhana tetapi konsisten.


Lahir dan Batin

Secara lahir

Hikmah ini mengajarkan disiplin waktu.

Ketaatan membutuhkan ruang yang sengaja disediakan.

Jika semuanya hanya mengandalkan waktu luang, sering kali waktu luang tidak pernah benar-benar tersedia.

Secara batin

Hikmah ini mengajarkan agar hati tidak terus-menerus membuat alasan untuk menunda perubahan.

Kadang masalah kita bukan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kita sudah tahu.

Tetapi kita terus mengatakan:

“Belum sekarang.”

Suluk kemudian menjadi latihan untuk menjawab:

“Kalau bukan sekarang, kapan?”


Waktu Tidak Harus Banyak

Ada orang yang merasa tidak punya waktu untuk beribadah atau belajar.

Tetapi mungkin yang dibutuhkan bukan tambahan waktu yang besar.

Mungkin yang dibutuhkan adalah mengubah cara menempatkan waktu.

Lima belas menit yang benar-benar digunakan dapat lebih bermakna daripada dua jam yang terus direncanakan tetapi tidak pernah dimulai.

Sepuluh menit membaca dengan perhatian dapat menjadi awal kebiasaan.

Beberapa menit berdzikir dengan kesadaran dapat menjadi latihan.

Satu tindakan baik dapat membuka tindakan berikutnya.

Yang penting bukan selalu besar kecilnya aktivitas.

Tetapi:

apakah waktu itu benar-benar digunakan?


Jangan Mengubah Suluk Menjadi Perlombaan

Ada satu hal yang perlu dijaga.

Menghargai waktu bukan berarti membuat diri terus-menerus sibuk dengan amal sampai kehilangan keseimbangan.

Seseorang tetap membutuhkan tidur, pekerjaan, keluarga, istirahat, dan tanggung jawab sosial.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menghapus kebutuhan manusiawinya.

Maka mengikat ketaatan dengan waktu bukan berarti setiap menit harus diisi dengan aktivitas ibadah.

Yang dimaksud adalah jangan biarkan kebaikan selalu kalah oleh alasan “nanti”.


Perspektif Mualif | Kun Alfa

Menurut perspektif penulis, Mualif | Kun Alfa, salah satu bentuk kemiskinan manusia bukan selalu kekurangan waktu, tetapi ketidakmampuan menghargai waktu yang sudah berada di tangannya.

Kita sering membayangkan bahwa masa depan akan memberikan ruang yang lebih baik.

Padahal masa depan belum tentu lebih longgar.

Karena itu, jangan selalu bertanya:

“Kapan hidupku akan lebih mudah?”

Sesekali bertanyalah:

“Apa yang masih bisa kulakukan dengan waktu yang sudah Allah berikan hari ini?”

Pertanyaan itu mengubah cara pandang.

Kita tidak lagi menunggu kehidupan menjadi ideal.

Kita mulai bekerja dengan apa yang ada.


Muhasabah Bagian XXVII

Hari ini, cobalah periksa tiga hal:

1. Kebaikan apa yang sudah lama ingin kulakukan tetapi selalu kutunda?

2. Alasan apa yang paling sering kugunakan untuk menundanya?

3. Bisakah aku memberi kebaikan itu waktu yang nyata mulai hari ini?

Tidak perlu memulai dengan sesuatu yang besar.

Jika ingin membaca, baca beberapa halaman.

Jika ingin belajar, mulailah beberapa menit.

Jika ingin memperbaiki hubungan, kirim satu pesan yang baik.

Jika ingin memperbaiki ibadah, mulai dari satu waktu yang benar-benar dijaga.

Jangan meremehkan permulaan yang kecil.


Penutup

Taswif membuat manusia merasa bahwa ia masih memiliki banyak kesempatan.

Besok masih ada.

Minggu depan masih ada.

Bulan depan masih ada.

Tahun depan masih ada.

Tetapi kita tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak kesempatan yang masih tersisa.

Karena itu, Ibn ‘Aṭā’illāh mengajarkan agar ketaatan diberi tempat dalam waktu.

Bukan sekadar:

“Aku ingin berubah.”

Tetapi:

“Aku akan mulai.”

Bukan sekadar:

“Aku ingin mendekat.”

Tetapi:

“Hari ini aku menyediakan waktu untuk kembali.”

Sebab suluk tidak hanya berlangsung melalui perjalanan panjang.

Ia juga berlangsung melalui satu waktu yang dijaga, satu niat yang diwujudkan, dan satu penundaan yang akhirnya dihentikan.

Waktu yang kita miliki hari ini mungkin terlihat biasa.
Tetapi bagi perjalanan jiwa, ia tidak pernah benar-benar biasa.


Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk

#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #tasawuf #suluk #muhasabah #waktu #menunda #taswif #ibadah #disiplin #spiritualitas #hikmah #kehidupan

Tidak ada komentar untuk "Ketika Kita Terlalu Banyak Menunda: Pelajaran Al-Hikam tentang Menghargai Waktu dan Kesempatan"

Dukung pengembangan konten Sulukk.

Traktir Kopi/ Dukung Penulis
Bagikan Artikel Ini: