Sunan Ampel: Raden Rahmat dan Pusat Pendidikan Islam di Ngampeldenta
Menelusuri nama, asal-usul, silsilah, manuskrip, makam, pesantren, murid, dan jaringan dakwah Raden Rahmat dalam sejarah Jawa
Deskripsi Penelusuran:
Mengenal Sunan Ampel atau Raden Rahmat melalui Babad Tanah Jawi, Babad Ngampeldenta, tradisi silsilah, makam, Masjid Ampel, jaringan murid, serta perannya dalam perkembangan Islam di Jawa.
Sunan Ampel dan Lanjutan Jejak Sunan Gresik
Setelah membahas Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, perjalanan sejarah Walisongo membawa kita kepada seorang tokoh yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam pembentukan jaringan ulama Islam di Jawa:
Sunan Ampel.
Nama yang paling dikenal dalam tradisi Jawa adalah Raden Rahmat atau Raden Rahmatullah.
Ia dikenal sebagai tokoh yang mendirikan pusat pendidikan dan dakwah di Ngampeldenta, wilayah yang sekarang berada di Surabaya.
Dari tempat inilah berkembang jaringan guru dan murid yang kemudian melahirkan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Islam Jawa.
Karena itu, Sunan Ampel bukan hanya penting sebagai salah satu anggota Walisongo.
Ia juga penting sebagai penghubung antara generasi awal Islam di Jawa dengan generasi ulama yang datang sesudahnya.
Nama Sunan Ampel
Dalam berbagai sumber tradisi Jawa, nama Sunan Ampel disebut sebagai:
Raden Rahmat.
Nama Ampel kemudian melekat kepadanya karena pusat aktivitas dakwahnya berada di Ngampeldenta.
Tradisi Babad Tanah Jawi mencatat Sunan Ampel sebagai tokoh yang datang ke Jawa dan kemudian menetap di wilayah Ngampel. Sumber tersebut juga menempatkannya dalam hubungan dengan lingkungan keluarga kerajaan Majapahit.
Dengan demikian, nama "Sunan Ampel" tidak semata-mata menunjukkan nama pribadi.
Ia juga menunjukkan tempat dan pusat dakwah yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Islam Jawa.
Siapa Ayah Sunan Ampel?
Ini merupakan bagian yang menarik karena berhubungan langsung dengan artikel sebelumnya tentang Sunan Gresik.
Dalam tradisi Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, Sunan Ampel atau Raden Rahmat ditempatkan sebagai putra Maulana Malik Ibrahim, yang juga dikenal sebagai Sunan Gresik.
Dengan demikian, dalam tradisi tersebut terdapat hubungan:
Maulana Malik Ibrahim → Raden Rahmat → Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Namun kita perlu memberikan catatan yang sama seperti pada artikel Sunan Gresik.
Tidak semua sumber mengenai Sunan Ampel memberikan silsilah yang sama.
Ada pula tradisi yang menyebut nama ayahnya sebagai Ibrahim Asmarakandi atau menghubungkannya dengan jalur silsilah yang lebih panjang.
Karena itu, untuk seri ini kita tidak perlu memaksakan satu jalur sebagai satu-satunya kebenaran.
Kita catat sumbernya.
Kita lihat tradisinya.
Kemudian kita bedakan antara data yang kuat, riwayat manuskrip, dan tradisi silsilah yang berkembang kemudian.
Babad Ngampeldenta
Salah satu sumber yang menarik untuk pembahasan Sunan Ampel adalah Babad Ngampeldenta.
Salah satu riwayat mengenai manuskrip tersebut menyebut naskah yang disimpan di Panti Budaya Yogyakarta dengan nomor PB A.200, yang kemudian berada di Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo. Alih aksaranya dilakukan oleh Dr. Th. Pigeaud pada 1939.
Babad Ngampeldenta memberikan cerita yang berbeda nuansanya dibandingkan sumber-sumber populer.
Di dalam tradisi tersebut, Maulana Ibrahim Asmara disebut mempunyai hubungan keluarga dengan Cempa, dan Raden Rahmat ditempatkan dalam jaringan keluarga tersebut.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya manuskrip ketika kita ingin memahami sejarah Walisongo.
Satu sumber dapat memberikan informasi yang tidak selalu muncul dalam sumber lain.
Karena itu, manuskrip tidak cukup hanya disebut namanya.
Ia perlu dibandingkan:
siapa yang menulis, kapan disalin, dari tradisi mana, dan apa yang sebenarnya dikisahkan.
Sunan Ampel dalam Tradisi Mataram
Untuk sejarah Walisongo, Babad Tanah Jawi mempunyai posisi penting.
Sumber tersebut merupakan bagian dari tradisi historiografi Jawa yang berkembang pada masa Mataram dan sesudahnya.
Dalam Babad Tanah Jawi, Sunan Ampel digambarkan sebagai Raden Rahmat yang berasal dari luar Jawa dan kemudian datang ke lingkungan Majapahit. Ia kemudian menetap di Ngampeldenta dan menjadi tokoh penting dalam perkembangan Islam.
Hal ini menarik.
Sebab manuskrip Mataram tidak hanya mencatat kerajaan dan raja.
Ia juga menyimpan ingatan tentang ulama, wali, guru, keluarga, dan jaringan keagamaan yang dianggap penting dalam sejarah Jawa.
Dengan demikian, ketika kita membaca Babad Tanah Jawi, kita sebenarnya sedang membaca cara masyarakat Jawa pada masa kemudian menyusun ingatan tentang masa sebelumnya.
Kedatangan Raden Rahmat ke Jawa
Tradisi mengenai kedatangan Raden Rahmat ke Jawa memiliki beberapa bentuk.
Ada sumber yang menempatkan kedatangannya bersama saudaranya, Ali Murtadho, dan kerabat lainnya.
Ada pula cerita mengenai hubungannya dengan Putri Champa dan keluarga kerajaan Majapahit.
Karena kronologi kedatangan tersebut tidak selalu sama dalam setiap sumber, kita perlu berhati-hati dalam menetapkan satu tahun sebagai tanggal yang benar-benar pasti.
Yang lebih penting untuk sejarah kita adalah adanya gambaran yang relatif konsisten mengenai satu hal:
Raden Rahmat datang ke Jawa, kemudian memperoleh tempat untuk mengembangkan dakwah di Ngampeldenta.
Dalam tradisi Babad Tanah Jawi, ia bahkan digambarkan sebagai orang yang menyadari dirinya sebagai pendatang di Jawa.
Ngampeldenta: Dari Tempat Menjadi Pusat Dakwah
Ngampeldenta kemudian menjadi pusat kehidupan keagamaan.
Di tempat tersebut, Sunan Ampel mendirikan lingkungan pendidikan Islam yang kemudian dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam di Jawa.
Sumber biografis akademik tentang Sunan Ampel mencatat bahwa setelah memperoleh tempat di Ngampel, ia mendirikan masjid dan kegiatan keagamaan di sana.
Dari sinilah muncul satu aspek penting dalam sejarah Sunan Ampel:
pendidikan.
Ia tidak hanya berdakwah kepada masyarakat secara langsung.
Ia juga membentuk manusia yang kelak menjadi penyebar ajaran Islam di berbagai tempat.
Sunan Ampel sebagai Guru
Inilah salah satu alasan mengapa posisi Sunan Ampel begitu penting.
Ia dikenal bukan hanya sebagai seorang wali, tetapi sebagai guru dari jaringan ulama.
Tradisi mengenai murid-muridnya menghubungkan Sunan Ampel dengan beberapa tokoh besar.
Di antaranya:
Sunan Bonang
Sunan Drajat
Sunan Giri
Raden Patah
dan sejumlah tokoh lain dalam jaringan dakwah Jawa.
Sumber-sumber mengenai Babad Walisanga dan Babad Tanah Jawi juga memuat nama-nama murid yang dikaitkan dengan lingkungan Sunan Ampel.
Dengan demikian, pengaruh Sunan Ampel tidak hanya diukur dari wilayah tempat ia tinggal.
Pengaruhnya dapat dilihat dari jaringan manusia yang keluar dari pusat pendidikannya.
Sunan Bonang dan Sunan Drajat
Dua nama besar yang secara tradisi sangat dekat dengan Sunan Ampel adalah:
Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Dalam tradisi Jawa, keduanya dikenal sebagai putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.
Keduanya kemudian mempunyai pusat dakwah masing-masing.
Dengan demikian, hubungan keluarga sekaligus menjadi bagian dari jaringan penyebaran ilmu.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam sejarah Islam Jawa, hubungan:
ayah → anak → guru → murid
sering kali berjalan bersamaan.
Jaringan dakwah tidak hanya terbentuk melalui lembaga.
Ia juga terbentuk melalui keluarga dan hubungan keilmuan.
Hubungan dengan Sunan Giri
Sunan Giri juga sering ditempatkan dalam jaringan pendidikan Sunan Ampel.
Hubungan ini penting karena Sunan Giri kemudian berkembang menjadi salah satu tokoh besar dalam jaringan Islam Jawa.
Dari Giri, pengaruh Islam berkembang luas melalui jaringan murid dan hubungan politik serta perdagangan.
Dengan demikian, Ngampeldenta dan Giri dapat dilihat sebagai dua pusat yang kemudian mempunyai pengaruh luas.
Satu jaringan melahirkan jaringan lainnya.
Hubungan dengan Raden Patah
Nama Raden Patah juga sangat penting dalam pembahasan Sunan Ampel.
Dalam tradisi Jawa, Raden Patah dikaitkan dengan lingkungan pendidikan Sunan Ampel sebelum kemudian tampil sebagai tokoh penting di Demak.
Sumber Babad Tanah Jawi menceritakan perjumpaan Raden Patah dengan Sunan Ampel di Ngampeldenta.
Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa Ngampeldenta bukan hanya tempat pengajaran agama.
Ia juga menjadi tempat bertemunya:
ulama, santri, bangsawan, pedagang, dan masyarakat.
Di sinilah pendidikan agama bertemu dengan perubahan sosial yang sedang berlangsung di Jawa.
Sunan Ampel dan Majapahit
Salah satu bagian menarik dalam tradisi tentang Sunan Ampel adalah hubungannya dengan lingkungan Majapahit.
Dalam sumber tradisional, Raden Rahmat mendapatkan izin atau kesempatan untuk mengembangkan dakwahnya.
Ia tidak digambarkan datang dengan cara menghancurkan tatanan yang ada.
Sebaliknya, terdapat gambaran mengenai hubungan sosial dan politik dengan lingkungan kerajaan.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian mengenai dakwah Sunan Ampel yang menggambarkan pendekatan yang relatif akomodatif terhadap kondisi masyarakat Jawa pada masa itu.
Artinya, dakwah tidak selalu berarti konfrontasi.
Kadang dakwah justru dimulai dengan:
mengenal masyarakat, menghormati lingkungan, kemudian membangun pendidikan.
Ajaran "Moh Limo"
Dalam tradisi populer Jawa, Sunan Ampel sangat sering dikaitkan dengan ajaran Moh Limo.
Istilah tersebut biasanya dijelaskan melalui lima larangan:
Moh Main — tidak berjudi.
Moh Ngombe — tidak mabuk.
Moh Maling — tidak mencuri.
Moh Madat — tidak menggunakan candu atau narkotika.
Moh Madon — tidak melakukan zina.
Ajaran tersebut sangat dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa.
Namun, sebagaimana prinsip kita dalam seri ini, kita perlu membedakan antara ajaran yang populer dinisbatkan kepada Sunan Ampel dengan teks primer yang dapat dipastikan berasal langsung dari beliau.
Karena bukti manuskrip sezaman dengan Sunan Ampel sangat terbatas, ungkapan "Moh Limo" lebih aman ditulis sebagai ajaran yang berkembang dalam tradisi yang dinisbatkan kepada Sunan Ampel, bukan sebagai kutipan literal dari sebuah kitab yang pasti ditulis olehnya.
Makam Sunan Ampel
Makam Sunan Ampel berada di kawasan Masjid Ampel, Surabaya.
Kompleks tersebut sampai sekarang menjadi salah satu pusat ziarah Islam yang sangat penting.
Penelitian mengenai kompleks makam Sunan Ampel juga telah mengkaji bentuk dan ornamen nisannya. Kompleks tersebut dipandang sebagai bagian penting dari warisan sejarah Islam di Surabaya.
Namun terdapat perbedaan penting dengan Sunan Gresik.
Untuk Maulana Malik Ibrahim, kita mempunyai inskripsi makam yang memberikan tanggal wafat yang jelas.
Sedangkan untuk Sunan Ampel, sumber lokal yang membahas sejarahnya menyatakan bahwa prasasti sezaman yang dapat memastikan biografi secara langsung belum ditemukan. Naskah-naskah yang menceritakan dirinya berasal dari tradisi penulisan yang lebih kemudian, termasuk masa Mataram dan sesudahnya.
Ini bukan berarti Sunan Ampel tidak mempunyai jejak sejarah.
Justru jejaknya terdapat pada makam, kompleks masjid, tradisi manuskrip, silsilah, jaringan keturunan, dan tradisi pendidikan.
Mengapa Ngampeldenta Sangat Penting?
Jika Sunan Gresik memberi kita salah satu jejak awal yang kuat melalui makam dan inskripsi, maka Sunan Ampel memperlihatkan sesuatu yang berbeda:
kekuatan jaringan pendidikan.
Satu tempat menjadi pusat.
Dari pusat itu muncul guru.
Dari guru muncul murid.
Murid menyebar ke berbagai wilayah.
Kemudian murid membangun pusat baru.
Dari pusat baru lahir murid berikutnya.
Begitulah sebuah jaringan keilmuan berkembang.
Maka sejarah Islam Jawa tidak seharusnya hanya dibaca melalui pergantian kerajaan.
Ia juga harus dibaca melalui:
pesantren, masjid, guru, murid, keluarga, perdagangan, dan perjalanan para ulama.
Sunan Ampel dan Jaringan Walisongo
Jika kita susun secara sederhana berdasarkan tradisi yang berkembang, maka jaringan Sunan Ampel dapat digambarkan seperti berikut:
Maulana Malik Ibrahim
↓
Raden Rahmat / Sunan Ampel
↓
Sunan Bonang
Sunan Drajat
Sunan Giri
Raden Patah dan jaringan murid lainnya
Ini bukan berarti seluruh hubungan tersebut harus dipahami sebagai satu silsilah keluarga.
Ada yang merupakan:
hubungan darah.
Ada yang merupakan:
hubungan guru dan murid.
Ada pula yang merupakan:
hubungan jaringan dakwah.
Justru pembedaan inilah yang membuat sejarah Walisongo menjadi lebih menarik.
Sunan Ampel dalam Perspektif Mualif | Kun Alfa
Kalau kita melihat perjalanan Sunan Ampel, ada satu pelajaran yang sangat kuat.
Membangun peradaban tidak cukup dengan menyampaikan ajaran.
Harus ada pendidikan.
Harus ada kaderisasi.
Harus ada guru.
Harus ada murid.
Harus ada tempat belajar.
Dan harus ada nilai yang diwariskan.
Sunan Ampel tidak hanya meninggalkan sebuah nama.
Ia meninggalkan jaringan.
Dan jaringan itulah yang kemudian bergerak jauh melampaui tempat asalnya.
Ngampeldenta bukan sekadar sebuah tempat.
Ia menjadi simbol bahwa sebuah perubahan besar kadang dimulai dari sebuah ruang sederhana tempat seorang guru mendidik beberapa orang.
Kemudian murid-murid itu berjalan.
Mereka membawa ilmu.
Mereka membawa adab.
Mereka membangun masyarakat.
Dan sejarah pun bergerak.
Penutup
Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan salah satu tokoh sentral dalam tradisi sejarah Islam Jawa.
Riwayat tentang dirinya dapat ditelusuri melalui Babad Tanah Jawi, Babad Ngampeldenta, silsilah, tradisi keluarga, makam, Masjid Ampel, serta kajian sejarah modern.
Dalam tradisi Babad Tanah Jawi dan sejumlah silsilah Jawa, ia ditempatkan sebagai putra Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.
Namun, sebagaimana pada pembahasan Sunan Gresik, informasi mengenai silsilah perlu ditempatkan sesuai sumbernya.
Yang sangat jelas dalam tradisi sejarah adalah posisi Sunan Ampel sebagai pusat pendidikan dan jaringan dakwah.
Dari Ngampeldenta berkembang jaringan murid dan keluarga yang kemudian memainkan peranan besar dalam perkembangan Islam di Jawa.
Maka jika Sunan Gresik dapat kita lihat sebagai salah satu jejak awal, Sunan Ampel dapat kita lihat sebagai tokoh penguat jaringan pendidikan dan kaderisasi ulama.
Dan dari sini perjalanan kita dapat dilanjutkan kepada tokoh yang sangat dekat dengannya:
Sunan Bonang — Maulana Makhdum Ibrahim.
Di sana kita akan masuk kepada dunia suluk, ilmu batin, seni, pesantren, dan hubungan antara ajaran Islam dengan kebudayaan Jawa.
Perspektif Mualif | Kun Alfa
Sejarah bukan hanya tentang siapa yang datang lebih dahulu.
Sejarah juga tentang siapa yang meneruskan ilmu, siapa yang mendidik generasi berikutnya, dan bagaimana ajaran itu hidup dalam masyarakat.
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk
Catatan untuk seri berikutnya: saya sengaja tidak menjadikan "Moh Limo", tahun kedatangan, maupun silsilah panjang sebagai fakta mutlak. Untuk Sunan Ampel, sumber tradisionalnya kuat sebagai warisan historiografi Jawa, tetapi bukti sezaman langsung memang lebih terbatas
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #sunanampel #radenrahmat #walisongo #sejarahislamjawa #manuskripjawa #babadtanahjawi #babadngampeldenta #ngampeldenta #masjidampel #pesantren #ulamajawa #sejarahjawa #dakwahislam #suluk
Tidak ada komentar untuk "Sunan Ampel: Raden Rahmat dan Pusat Pendidikan Islam di Ngampeldenta"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."