Suluk Bukan Tentang Menjadi Sempurna, tetapi Tentang Terus Kembali - Tamat
SULUK DALAM II - Bagian XXXVI — (Tamat )
Pelajaran Terakhir Al-Hikam tentang Fikrah, Iman, Penyaksian, dan Jalan Pulang kepada Allah
Bab Suluk: Pada Akhirnya, Perjalanan Kembali kepada Allah
Kita telah berjalan cukup jauh.
Dari doa yang belum dikabulkan.
Dari ujian dan kehilangan.
Dari hawa nafsu.
Dari keterikatan kepada manusia dan dunia.
Dari amal yang membuat kita ujub.
Dari hati yang terbagi.
Dari kebiasaan menunda.
Dari sulitnya mengubah diri.
Dari pentingnya ketaatan.
Dari berkah umur.
Hingga akhirnya kita sampai pada satu pertanyaan:
Setelah semua perjalanan itu, sebenarnya ke mana suluk membawa kita?
Apakah menjadi manusia yang tidak pernah salah?
Apakah menjadi manusia yang selalu tenang?
Apakah menjadi manusia yang tidak pernah jatuh?
Apakah menjadi manusia yang merasa telah mencapai maqam spiritual tertentu?
Tidak.
Suluk bukan perlombaan untuk menjadi manusia tanpa cela.
Suluk adalah perjalanan untuk semakin sadar kepada Allah, semakin mengenal kelemahan diri, semakin jujur dalam penghambaan, dan semakin cepat kembali ketika hati mulai menjauh.
Dan pada akhir Al-Hikam, Ibn ‘Aṭā’illāh menutup rangkaian hikmahnya dengan pembicaraan tentang fikrah.
Hikmah 264
الْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ: فِكْرَةُ تَصْدِيقٍ وَإِيمَانٍ، وَفِكْرَةُ شُهُودٍ وَعِيَانٍ، فَالْأُولَى لِأَرْبَابِ الِاعْتِبَارِ، وَالثَّانِيَةُ لِأَرْبَابِ الشُّهُودِ وَالِاسْتِبْصَارِ
Artinya:
“Fikrah itu ada dua: fikrah pembenaran dan iman, serta fikrah penyaksian dan penghayatan langsung. Yang pertama bagi orang-orang yang mengambil pelajaran, dan yang kedua bagi orang-orang yang memiliki penyaksian dan kejernihan pandangan.”
Hikmah ini bukan sekadar penutup sebuah kitab.
Ia seperti mengembalikan kita kepada titik awal:
hati yang belajar melihat.
1. Dua Bentuk Fikrah
Ibn ‘Aṭā’illāh menyebut dua bentuk fikrah.
Pertama:
فِكْرَةُ تَصْدِيقٍ وَإِيمَانٍ
Fikrah yang berhubungan dengan pembenaran dan iman.
Kedua:
فِكْرَةُ شُهُودٍ وَعِيَانٍ
Fikrah yang berhubungan dengan penyaksian dan penghayatan langsung.
Keduanya menunjukkan adanya kedalaman dalam perjalanan batin.
Seseorang dapat mengambil pelajaran melalui iman dan penalaran.
Seseorang yang telah memperoleh kejernihan batin dapat mengalami bentuk kesadaran yang lebih mendalam.
Namun kita perlu berhati-hati dalam memahaminya.
Istilah syuhud dan ‘iyan di sini berada dalam bahasa tasawuf. Ia tidak berarti Allah menjadi objek fisik yang dapat dilihat sebagaimana benda.
Dalam konteks suluk, ia berkaitan dengan kedalaman kesadaran dan penyaksian batin, bukan melihat Allah secara inderawi.
2. Dari Mengetahui Menuju Menyadari
Ada perbedaan antara mengetahui dan benar-benar menyadari.
Kita tahu bahwa hidup sementara.
Tetapi apakah kita hidup dengan kesadaran bahwa hidup memang sementara?
Kita tahu bahwa kematian pasti datang.
Tetapi apakah pengetahuan itu membuat kita memperbaiki kehidupan?
Kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui.
Tetapi apakah kesadaran itu membuat kita lebih berhati-hati ketika tidak ada manusia yang melihat?
Kita tahu bahwa rezeki berada dalam ketetapan Allah.
Tetapi apakah kita tetap berusaha tanpa menjadikan hasil sebagai sesembahan hati?
Di sinilah fikrah bekerja.
Pengetahuan yang direnungkan berubah menjadi kesadaran.
Dan kesadaran yang terus dipelihara dapat mengubah cara seseorang menjalani kehidupan.
3. Suluk Bukan Sekadar Menambah Pengetahuan
Seseorang dapat membaca banyak kitab tentang tasawuf.
Menghafal banyak istilah.
Mengenal banyak nama ulama.
Membicarakan maqam dan ahwal.
Mampu menjelaskan ikhlas, tawakal, sabar, ridha, zuhud, dan ma‘rifat.
Tetapi pertanyaannya tetap:
Apakah semua itu membuat hati menjadi lebih baik?
Jika pengetahuan semakin banyak tetapi kesombongan juga semakin besar, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Jika ilmu semakin luas tetapi lisan semakin mudah merendahkan orang lain, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Jika berbicara tentang spiritualitas semakin mudah tetapi memaafkan semakin sulit, ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Karena tujuan suluk bukan membuat kita terlihat lebih spiritual.
Tujuannya adalah membuat kita semakin jujur sebagai hamba.
4. Dari Fikrah Menuju Amal
Fikrah yang sehat tidak berhenti pada pemikiran.
Ia bergerak menjadi amal.
Ketika kita merenungkan keterbatasan umur, kita belajar menghargai waktu.
Ketika merenungkan kelemahan diri, kita belajar rendah hati.
Ketika merenungkan nikmat, kita belajar bersyukur.
Ketika merenungkan kesalahan, kita belajar bertobat.
Ketika merenungkan kematian, kita belajar mempersiapkan diri.
Ketika merenungkan ketergantungan kita kepada Allah, kita belajar melepaskan kesombongan atas kemampuan diri.
Dengan demikian, suluk bukan perjalanan menjauh dari kehidupan.
Suluk adalah menghidupkan kehidupan dengan kesadaran yang lebih dalam.
5. Kita Tidak Dituntut Menjadi Tanpa Kesalahan
Salah satu kesalahpahaman tentang perjalanan spiritual adalah mengira bahwa orang yang dekat kepada Allah pasti tidak pernah jatuh.
Padahal manusia tetap manusia.
Kita dapat salah.
Kita dapat lupa.
Kita dapat lalai.
Kita dapat dikuasai emosi.
Kita dapat kembali kepada kebiasaan lama.
Kita dapat kehilangan fokus.
Yang membedakan bukan selalu apakah seseorang pernah jatuh.
Tetapi:
Apa yang ia lakukan setelah menyadari bahwa ia jatuh?
Apakah ia membela kesalahannya?
Apakah ia menyalahkan orang lain?
Apakah ia menyerah?
Atau ia kembali?
Di sinilah makna suluk menjadi sangat manusiawi.
6. Kembali Adalah Bagian dari Perjalanan
Ada kalanya kita merasa sangat dekat kepada Allah.
Kemudian hati kembali lalai.
Ada saat kita sangat bersemangat beribadah.
Kemudian semangat itu menurun.
Ada masa kita begitu mudah bersyukur.
Kemudian datang masalah dan kita kembali mengeluh.
Ada waktu kita mampu mengendalikan hawa nafsu.
Kemudian kita kembali tergelincir.
Jangan menjadikan keadaan seperti itu sebagai alasan untuk berhenti.
Ketika sadar telah menjauh:
kembali.
Ketika sadar telah lalai:
ingat kembali.
Ketika sadar telah salah:
perbaiki.
Ketika jatuh:
bangkit.
Itulah perjalanan.
7. Jangan Terlalu Cepat Mengklaim “Sampai”
Dalam perjalanan spiritual, salah satu bahaya terbesar adalah merasa sudah sampai.
Ketika seseorang merasa dirinya sudah memiliki maqam tertentu, ia dapat mulai memandang orang lain dari tempat yang lebih tinggi.
Padahal semakin seseorang mengenal kelemahan dirinya, seharusnya semakin rendah hati ia.
Karena itu, suluk bukan tentang mengumpulkan klaim:
“Saya sudah ikhlas.”
“Saya sudah tawakal.”
“Saya sudah ma‘rifat.”
“Saya sudah tidak mencintai dunia.”
Justru pertanyaan yang lebih sehat adalah:
“Di bagian mana hati saya masih perlu dididik?”
Pertanyaan ini menjaga perjalanan tetap hidup.
8. Fikrah sebagai Cahaya yang Terus Menyala
Pada Bagian XXXV kita telah membahas:
الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ
“Fikrah adalah pelita hati.”
Dan sekarang, Hikmah 264 membawa fikrah menuju kedalaman yang lebih jauh.
Seolah-olah rangkaian perjalanan ini berkata:
Jangan berhenti berpikir.
Jangan berhenti merenung.
Jangan berhenti mengambil pelajaran.
Jangan berhenti memperbaiki cara melihat.
Sebab ketika hati berhenti belajar melihat, kehidupan mudah berubah menjadi rutinitas.
Kita melakukan sesuatu hanya karena kebiasaan.
Kita beribadah hanya karena gerakan.
Kita bekerja hanya karena mengejar hasil.
Kita hidup hanya karena mengikuti arus.
Fikrah mengembalikan kesadaran.
9. Dari Dunia Menuju Makna
Sejak awal SULUK DALAM II, kita banyak berbicara tentang kehidupan sehari-hari.
Doa.
Ujian.
Kehilangan.
Harta.
Manusia.
Pekerjaan.
Keinginan.
Ketaatan.
Waktu.
Kebiasaan.
Semua itu tampaknya merupakan urusan dunia.
Tetapi melalui fikrah, semuanya dapat menjadi jalan belajar.
Kita tidak harus melarikan diri dari kehidupan untuk belajar tentang Allah.
Kita dapat belajar melalui kehidupan.
Yang penting bukan sekadar apa yang terjadi.
Tetapi bagaimana hati membaca apa yang terjadi.
10. Suluk Bukan Tentang Menjadi Orang Lain
Suluk tidak meminta kita menjadi salinan orang lain.
Tidak perlu memaksakan pengalaman spiritual seseorang menjadi pengalaman kita.
Tidak perlu mengejar keadaan batin tertentu hanya karena orang lain mengalaminya.
Tidak perlu mencari sensasi agar merasa perjalanan kita berhasil.
Jalan setiap manusia memiliki ujian dan pembelajarannya masing-masing.
Yang penting adalah prinsip dasarnya:
iman, ilmu, amal, kejujuran, muhasabah, dan kembali kepada Allah.
Jangan sibuk mengejar pengalaman spiritual sampai lupa menjalankan kewajiban dan memperbaiki akhlak.
Sebab kedalaman batin yang benar seharusnya memiliki jejak dalam kehidupan lahir.
Makna Lahiriah
Secara lahiriah, penutup ini mengajarkan agar perjalanan spiritual tidak berhenti pada bacaan.
Apa yang telah dipahami harus dibawa ke kehidupan.
Jika belajar tentang sabar → praktikkan ketika menghadapi orang yang sulit.
Jika belajar tentang tawakal → tetap berikhtiar tanpa terobsesi dengan hasil.
Jika belajar tentang ikhlas → kurangi kebutuhan untuk dipuji.
Jika belajar tentang syukur → gunakan nikmat dengan benar.
Jika belajar tentang taubat → perbaiki kesalahan yang dapat diperbaiki.
Jika belajar tentang waktu → jangan terus menunda kebaikan.
Jika belajar tentang fikrah → biasakan mengevaluasi diri.
Kitab selesai dibaca, tetapi pelajarannya baru benar-benar dimulai ketika dibawa ke kehidupan.
Makna Batiniah
Secara batiniah, suluk mengajarkan satu hal penting:
Jangan berhenti kembali kepada Allah.
Kita mungkin belum menjadi seperti yang kita inginkan.
Hati mungkin masih memiliki banyak penyakit.
Keinginan masih datang.
Ego masih muncul.
Kemarahan masih terjadi.
Kelalaian masih menyelinap.
Tetapi jangan berhenti berjalan.
Sebab kesempurnaan bukan syarat untuk mulai kembali.
Kita kembali justru karena kita belum sempurna.
11. Dari Hikmah ke Kehidupan
Jika seluruh perjalanan SULUK DALAM II diringkas, mungkin kita dapat melihat satu pola:
Ketika doa tertunda → belajar percaya.
Ketika diuji → belajar membaca kehidupan.
Ketika kehilangan → belajar melepaskan.
Ketika dipuji → belajar menjaga hati.
Ketika dicela → belajar mengevaluasi.
Ketika hati terbagi → belajar meluruskan orientasi.
Ketika amal terasa berat → belajar disiplin.
Ketika sulit berubah → belajar berharap.
Ketika hasil belum terlihat → belajar sabar.
Ketika umur berjalan → belajar menghargai waktu.
Ketika mengalami kehidupan → belajar melakukan fikrah.
Dan akhirnya:
ketika sadar telah jauh → kembali.
12. Sebuah Perjalanan yang Tidak Pernah Selesai
Hari ini kita mungkin merasa telah memahami sesuatu.
Besok kehidupan menguji pemahaman itu.
Hari ini kita merasa sabar.
Besok datang sesuatu yang membuat kita kembali belajar.
Hari ini kita merasa ikhlas.
Besok datang pujian yang menggoda ego.
Hari ini kita merasa tawakal.
Besok datang ketidakpastian.
Hari ini kita merasa dekat.
Besok hati kembali lalai.
Itu bukan berarti seluruh perjalanan gagal.
Itu berarti kita masih belajar.
Selama manusia hidup, pendidikan hati belum selesai.
Karena itu, suluk bukan proyek yang memiliki tanggal selesai.
Yang selesai mungkin sebuah tulisan.
Yang selesai mungkin sebuah kitab.
Yang selesai mungkin sebuah seri.
Tetapi perjalanan hati tetap berjalan.
Perspektif Mualif — Kun Alfa
Dalam pandangan Mualif | Kun Alfa | Alfa Media – Sulukk, barangkali inilah pelajaran paling penting dari seluruh perjalanan ini:
Jangan terlalu sibuk mencari apakah kita sudah sampai.
Lebih baik bertanya:
“Apakah hari ini saya masih berjalan?”
Jika hari ini kita jatuh, bangkit.
Jika hari ini kita lalai, sadar.
Jika hari ini kita salah, perbaiki.
Jika hari ini kita jauh, kembali.
Tidak perlu membangun citra sebagai manusia yang sempurna.
Sebab spiritualitas yang hanya hidup dalam citra akan mudah berubah menjadi ego baru.
Yang kita perlukan bukan terlihat tinggi.
Tetapi menjadi lebih jujur.
Lebih sadar.
Lebih rendah hati.
Lebih bertanggung jawab.
Lebih mampu mencintai kebaikan.
Dan lebih cepat kembali ketika tersesat.
Mungkin itulah sebabnya perjalanan suluk tidak pernah benar-benar berakhir.
Karena setiap kali kita merasa telah selesai belajar, kehidupan menghadirkan pelajaran berikutnya.
Muhasabah Penutup
Sebelum menutup seri ini, berhentilah sejenak.
Jangan langsung berpindah kepada bacaan berikutnya.
Tanyakan kepada diri sendiri:
1. Apa yang paling berubah dalam diri saya selama perjalanan ini?
Bukan pengetahuan.
Tetapi sikap.
2. Hikmah mana yang paling menegur saya?
Bukan yang paling indah.
Tetapi yang paling membuat saya melihat diri sendiri.
3. Apa yang masih menjadi pekerjaan rumah dalam hati saya?
Jangan mencari jawaban yang sempurna.
Carilah yang paling jujur.
4. Setelah memahami semua ini, apa yang akan saya lakukan?
Sebab ilmu yang tidak mengubah langkah masih menunggu untuk dihidupkan.
5. Ketika nanti saya kembali lalai, apakah saya masih mau kembali?
Inilah pertanyaan terakhir.
Dan mungkin yang paling penting.
Penutup Besar SULUK DALAM II
SULUK DALAM II telah membawa kita melihat Al-Hikam bukan hanya sebagai kumpulan kata-kata hikmah, tetapi sebagai cermin untuk membaca kehidupan.
Kita belajar bahwa doa tidak selalu berjalan menurut waktu kita.
Ujian tidak selalu berarti hukuman.
Nikmat tidak selalu berarti kemuliaan.
Kehilangan tidak selalu berarti kehancuran.
Amal tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.
Ketaatan membutuhkan disiplin.
Perubahan membutuhkan harapan.
Waktu membutuhkan keberkahan.
Dan kehidupan membutuhkan fikrah.
Namun seluruhnya kembali kepada satu hal:
kesadaran hati.
Hati yang sadar akan terus belajar.
Hati yang sadar akan terus melakukan muhasabah.
Hati yang sadar tidak mudah merasa sudah sampai.
Dan ketika ia tersesat, ia tahu ke mana harus kembali.
Maka judul penutup ini bukan sekadar kalimat puitis:
Suluk Bukan Tentang Menjadi Sempurna, tetapi Tentang Terus Kembali.
Kita mungkin tidak akan pernah menjadi manusia tanpa kesalahan.
Kita mungkin masih akan jatuh.
Masih akan lalai.
Masih akan diuji.
Masih akan berjuang melawan hawa nafsu.
Masih akan mengalami hari-hari ketika hati terasa jauh.
Tetapi selama kita tidak berhenti kembali, perjalanan masih berlangsung.
Kembali setelah lalai.
Kembali setelah jatuh.
Kembali setelah salah.
Kembali setelah hati terlalu sibuk dengan dunia.
Kembali setelah lupa.
Dan bahkan kembali setelah merasa tidak layak untuk kembali.
Karena kita tidak kembali kepada Allah karena merasa sudah sempurna.
Kita kembali karena menyadari bahwa tanpa pertolongan-Nya kita memang tidak akan pernah mampu menyempurnakan perjalanan ini.
Dari Penulis untuk Para Pembaca
SULUK DALAM II bukan dimaksudkan sebagai pengganti kitab Al-Hikam, apalagi sebagai klaim bahwa seluruh kedalaman hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh telah selesai dijelaskan.
Justru sebaliknya.
Tulisan-tulisan ini hanyalah sebuah usaha untuk membawa sebagian pesan hikmah ke ruang kehidupan sehari-hari.
Agar hikmah tidak berhenti sebagai kutipan.
Agar ia menjadi pertanyaan.
Agar pertanyaan menjadi kesadaran.
Agar kesadaran menjadi perubahan.
Dan agar perubahan menjadi amal.
Jika ada satu kalimat yang ingin dibawa setelah seri ini selesai, mungkin cukup kalimat ini:
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah dengan keadaanmu sekarang.
Dengan kelemahanmu.
Dengan penyesalanmu.
Dengan pertanyaanmu.
Dengan perjuanganmu.
Dengan doa yang belum selesai.
Dengan hati yang masih harus dibersihkan.
Karena suluk bukan tentang menunjukkan bahwa kita telah sampai.
Suluk adalah kesediaan untuk terus berjalan.
Dan setiap kali langkah kita menyimpang,
kita kembali.
Epilog
Mungkin suatu hari nanti kita akan membaca kembali hikmah-hikmah ini.
Dan kita menemukan bahwa kalimat yang dahulu terasa biasa ternyata memiliki makna yang berbeda.
Sebab kita telah berubah.
Pengalaman telah berubah.
Cara kita melihat kehidupan telah berubah.
Itulah salah satu keindahan hikmah.
Kalimatnya tetap, tetapi hati pembacanya dapat berubah.
Maka jangan merasa bahwa setelah Bagian XXXVI ini perjalanan telah benar-benar selesai.
Yang selesai adalah seri tulisannya.
Sedangkan suluk yang sebenarnya...
baru dilanjutkan di dalam kehidupan masing-masing.
والله أعلم بالصواب
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #hikmah #suluk #fikrah #tafakkur #muhasabah #tasawuf #tazkiyatunnafs #perjalananhati #ma‘rifat #iman #amal #istiqamah #spiritualitas #kajianislam
Tidak ada komentar untuk "Suluk Bukan Tentang Menjadi Sempurna, tetapi Tentang Terus Kembali - Tamat"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."