Fikrah, Kesadaran, dan Perjalanan Hati
SULUK DALAM II - Bagian XXXV —
Bab Suluk: Fikrah sebagai Sirāj bagi Hati
Ada perbedaan antara orang yang sekadar berpikir dan orang yang merenung dengan kesadaran.
Kita semua berpikir setiap hari.
Memikirkan pekerjaan.
Memikirkan keluarga.
Memikirkan uang.
Memikirkan masa depan.
Memikirkan masalah.
Memikirkan apa yang harus dilakukan besok.
Tetapi tidak semua aktivitas berpikir membawa hati kepada kejernihan.
Ada pikiran yang justru membuat kita semakin gelisah.
Ada pikiran yang memperbesar ketakutan.
Ada pikiran yang membuat kita terus berputar pada masa lalu.
Ada pula pikiran yang membuat kita semakin sibuk mengejar dunia tetapi semakin lupa kepada tujuan hidup.
Dalam tradisi suluk, ada bentuk berpikir yang lebih dalam.
Ibn ‘Aṭā’illāh menyebutnya fikrah.
Bukan sekadar berpikir.
Tetapi perjalanan hati untuk melihat, memahami, mengambil pelajaran, dan semakin menyadari kebesaran Allah.
Hikmah 262
الْفِكْرَةُ سَيْرُ الْقَلْبِ فِي مَيَادِينِ الْأَغْيَارِ
Artinya:
“Fikrah adalah perjalanan hati di dalam medan berbagai selain-Nya.”
Kalimat ini singkat.
Tetapi sangat luas.
Hati kita hidup di tengah berbagai aghyār—berbagai hal selain Allah: manusia, peristiwa, harta, pekerjaan, kenikmatan, kesulitan, keberhasilan, kegagalan, dan seluruh perubahan yang kita jumpai dalam kehidupan.
Fikrah mengajak hati berjalan melewati semua itu, bukan berhenti pada semuanya.
1. Melihat Dunia, tetapi Tidak Berhenti pada Dunia
Seorang salik tidak harus meninggalkan dunia secara lahiriah.
Ia tetap bekerja.
Tetap memiliki keluarga.
Tetap berdagang.
Tetap membangun kehidupan.
Tetap menghadapi persoalan.
Yang berubah adalah cara hati membaca semua itu.
Ketika melihat keberhasilan, ia tidak hanya bertanya:
“Bagaimana agar saya mendapatkan lebih banyak?”
Tetapi juga:
“Apa yang harus saya syukuri?”
Ketika mengalami kegagalan, ia tidak hanya bertanya:
“Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Tetapi:
“Apa yang dapat saya pelajari?”
Ketika memperoleh harta, ia tidak hanya bertanya:
“Apa lagi yang dapat saya beli?”
Tetapi:
“Untuk apa amanah ini digunakan?”
Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak hanya bertanya:
“Apa yang telah hilang?”
Tetapi:
“Apa yang sedang diajarkan kehidupan kepada saya?”
Inilah perjalanan hati.
Peristiwa yang sama dapat dilihat dengan mata yang berbeda.
2. Fikrah Bukan Overthinking
Ini penting.
Fikrah dalam hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh tidak sama dengan berpikir tanpa henti.
Overthinking membuat seseorang berputar.
Fikrah seharusnya membuat seseorang bergerak menuju kesadaran.
Overthinking bertanya:
“Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu yang buruk?”
Fikrah bertanya:
“Apa yang dapat saya lakukan dengan keadaan yang ada sekarang?”
Overthinking terus mengulang masalah.
Fikrah mengambil pelajaran dari masalah.
Overthinking membuat hati semakin sempit.
Fikrah membuka ruang kesadaran.
Karena itu, tidak semua banyak berpikir berarti seseorang sedang mendalam.
Kadang ia hanya sedang terjebak dalam pikirannya sendiri.
3. Hati Berjalan di “Medan Aghyar”
Ungkapan:
مَيَادِينِ الْأَغْيَارِ
dapat dipahami sebagai medan berbagai hal selain Allah.
Dunia ini penuh dengan perubahan.
Hari ini kita sehat.
Besok mungkin sakit.
Hari ini berhasil.
Besok mungkin gagal.
Hari ini dipuji.
Besok mungkin dicela.
Hari ini memiliki sesuatu.
Besok mungkin kehilangannya.
Tidak ada keadaan dunia yang benar-benar tetap.
Fikrah mengajarkan hati untuk melihat perubahan itu.
Bukan supaya kita membenci dunia.
Tetapi supaya kita tidak menjadikan sesuatu yang berubah sebagai satu-satunya tempat menggantungkan ketenangan.
Hikmah 263
Kemudian Ibn ‘Aṭā’illāh mengatakan:
الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ، فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلَا إِضَاءَةَ لَهُ
Artinya:
“Fikrah adalah pelita hati. Apabila ia pergi, tidak ada penerangan baginya.”
Perumpamaan ini sangat indah.
Hati digambarkan seperti ruang yang membutuhkan cahaya.
Dan fikrah menjadi salah satu pelita yang meneranginya.
4. Tanpa Fikrah, Hati Mudah Berjalan dalam Gelap
Gelap dalam konteks ini bukan berarti seseorang tidak memiliki pengetahuan sama sekali.
Seseorang dapat memiliki banyak informasi tetapi tetap tidak memahami dirinya.
Dapat membaca banyak buku tetapi tidak mengambil pelajaran.
Dapat mendengar banyak nasihat tetapi tidak pernah melakukan muhasabah.
Dapat mengetahui teori tentang kesabaran tetapi selalu dikuasai amarah.
Dapat mengetahui bahwa dunia sementara tetapi hidup seolah-olah akan tinggal selamanya.
Masalahnya bukan kurangnya informasi.
Masalahnya adalah tidak adanya pengolahan batin terhadap apa yang diketahui.
Fikrah mengubah informasi menjadi kesadaran.
5. Fikrah Membuat Pengalaman Menjadi Pelajaran
Setiap orang mengalami masalah.
Tetapi tidak setiap orang mendapatkan hikmah dari masalahnya.
Dua orang dapat mengalami kegagalan yang sama.
Orang pertama berkata:
“Saya memang tidak beruntung.”
Orang kedua berkata:
“Apa yang harus saya pelajari agar tidak mengulanginya?”
Peristiwa sama.
Tetapi perjalanan batinnya berbeda.
Yang kedua sedang melakukan fikrah.
Ia tidak sekadar mengalami.
Ia mengolah pengalaman menjadi kesadaran.
6. Fikrah Mengubah Cara Kita Melihat Diri
Fikrah tidak hanya mengamati dunia.
Ia juga mengajak kita mengamati diri.
Mengapa saya mudah tersinggung?
Mengapa saya begitu membutuhkan pujian?
Mengapa saya takut kehilangan?
Mengapa saya sulit memaafkan?
Mengapa saya mudah iri?
Mengapa saya begitu ingin mengendalikan semuanya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan untuk menyiksa diri.
Justru untuk mengenali diri dengan lebih jujur.
Sebab sesuatu yang tidak kita kenali sulit untuk kita perbaiki.
7. Fikrah Tidak Berarti Menghakimi Diri
Muhasabah yang sehat berbeda dengan menyalahkan diri tanpa henti.
Ada orang yang ketika melakukan kesalahan langsung mengatakan:
“Saya memang manusia buruk.”
Ini bukan fikrah yang sehat.
Fikrah berkata:
“Saya melakukan kesalahan. Mengapa saya melakukannya? Apa yang perlu saya perbaiki? Bagaimana agar saya tidak mengulanginya?”
Ada perbedaan besar antara menghakimi identitas diri dan memeriksa perilaku diri.
Yang pertama dapat membuat seseorang tenggelam dalam rasa bersalah.
Yang kedua membuka jalan perbaikan.
8. Fikrah Membuat Kita Tidak Mudah Tertipu oleh Keadaan
Ketika mendapatkan kesenangan, fikrah mengingatkan:
“Ini akan berubah.”
Maka kita bersyukur tanpa berlebihan.
Ketika mendapatkan kesulitan, fikrah mengingatkan:
“Ini pun akan berubah.”
Maka kita bersabar tanpa kehilangan harapan.
Ketika mendapatkan pujian, fikrah bertanya:
“Apakah pujian ini membuat saya lebih baik?”
Ketika mendapatkan celaan, fikrah bertanya:
“Apakah ada sesuatu yang perlu saya perbaiki?”
Dengan demikian, hati tidak terlalu mudah diombang-ambingkan oleh keadaan.
9. Fikrah Menghasilkan Tindakan
Fikrah bukan tujuan akhir.
Jika setelah merenung kita tetap melakukan kesalahan yang sama tanpa usaha memperbaikinya, berarti perenungan belum menghasilkan perubahan.
Fikrah yang sehat melahirkan tindakan.
Menyadari bahwa waktu terbatas → mulai menghargai waktu.
Menyadari bahwa hidup sementara → mengurangi kesia-siaan.
Menyadari bahwa ego sering menguasai diri → mulai belajar menerima kritik.
Menyadari bahwa kemarahan merusak hubungan → mulai belajar menahan reaksi.
Menyadari bahwa hati terlalu bergantung kepada manusia → mulai meluruskan orientasi batin.
Menyadari bahwa kematian pasti datang → mulai memperbaiki apa yang dapat diperbaiki sekarang.
Fikrah menerangi jalan agar kaki tahu ke mana harus melangkah.
Makna Lahiriah
Secara lahiriah, fikrah dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana.
Luangkan waktu untuk:
membaca dengan memahami,
mengamati pengalaman,
mengevaluasi keputusan,
belajar dari kesalahan,
memperhatikan keadaan hati,
mengurangi kebisingan yang tidak perlu,
dan mengambil waktu untuk diam serta merenung.
Tidak harus berjam-jam.
Beberapa menit perenungan yang jujur dapat lebih berarti daripada berjam-jam pikiran yang berputar tanpa arah.
Setelah mengalami sesuatu, biasakan bertanya:
Apa yang terjadi?
Kemudian:
Apa bagian saya di dalamnya?
Lalu:
Apa yang dapat saya pelajari?
Dan terakhir:
Apa yang akan saya lakukan setelah ini?
Itulah fikrah yang mulai bergerak dari pikiran menuju amal.
Makna Batiniah
Secara batiniah, fikrah adalah latihan agar hati tidak berhenti pada bentuk lahiriah.
Melihat dunia → menemukan pelajaran.
Melihat perubahan → mengingat bahwa segala sesuatu tidak tetap.
Melihat kelemahan diri → belajar merendahkan ego.
Melihat nikmat → bersyukur.
Melihat ujian → bersabar dan mengambil hikmah.
Melihat keterbatasan manusia → menyadari bahwa kita bukan penguasa mutlak atas kehidupan.
Dengan demikian, aghyār tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang memenuhi pandangan, tetapi menjadi medan pembelajaran bagi hati.
Hubungan dengan Bagian XXXIV
Pada Bagian XXXIV kita belajar bahwa umur yang panjang belum tentu memiliki keberkahan.
Sekarang kita menemukan salah satu cara agar waktu menjadi bernilai:
mengolah pengalaman melalui fikrah.
Sebab waktu yang berlalu tidak otomatis menjadi kebijaksanaan.
Pengalaman yang banyak tidak otomatis menjadi kedewasaan.
Semua itu membutuhkan kesadaran.
Dan fikrah adalah salah satu jalan menuju kesadaran tersebut.
Maka:
waktu memberikan pengalaman,
fikrah mengolah pengalaman,
dan amal membuktikan hasil pengolahan itu.
Menjadikan Kehidupan sebagai Madrasah
Jika hati memiliki fikrah, kehidupan berubah menjadi tempat belajar.
Kegagalan menjadi guru.
Keberhasilan menjadi ujian syukur.
Kehilangan menjadi kesempatan memahami keterikatan.
Pujian menjadi latihan kewaspadaan.
Celaan menjadi kesempatan melakukan evaluasi.
Kesendirian menjadi ruang untuk mengenal diri.
Pertemuan menjadi kesempatan belajar dari manusia.
Waktu menjadi amanah.
Dan setiap hari menjadi halaman baru dalam perjalanan.
Inilah salah satu keindahan suluk:
kehidupan sehari-hari tidak lagi dipisahkan dari perjalanan spiritual.
Perspektif Mualif — Kun Alfa
Dalam pandangan Mualif | Kun Alfa | Alfa Media – Sulukk, manusia sering kali terlalu cepat berpindah dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya.
Belum selesai memahami kegagalan, sudah mengejar sesuatu yang baru.
Belum selesai belajar dari sebuah hubungan, sudah mencari hubungan berikutnya.
Belum selesai memahami kesalahan, sudah sibuk mencari alasan.
Belum selesai merasakan sebuah nikmat, sudah mengejar nikmat berikutnya.
Akibatnya, hidup penuh pengalaman tetapi miskin kesadaran.
Di sinilah fikrah menjadi penting.
Berhenti sejenak bukan berarti mundur.
Kadang kita perlu berhenti agar dapat melihat ke mana sebenarnya kita sedang berjalan.
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang terjadi dalam hidup saya?”
Tanyakan pula:
“Apa yang sedang kehidupan ajarkan kepada saya?”
Dan lebih dalam lagi:
“Apa yang harus berubah dalam diri saya setelah memahami pelajaran itu?”
Jika pertanyaan terakhir mulai hidup, maka fikrah telah menjadi perjalanan.
Latihan Fikrah Harian
Tidak perlu membuat praktik yang rumit.
Setiap malam, luangkan beberapa menit.
Tanyakan empat hal:
1. Apa yang terjadi hari ini?
2. Bagaimana saya meresponsnya?
3. Apa yang respons saya ungkapkan tentang keadaan hati saya?
4. Apa satu hal yang akan saya perbaiki besok?
Tidak perlu menulis panjang.
Yang penting jujur.
Karena tujuan fikrah bukan menghasilkan tulisan yang indah.
Tujuannya adalah menghasilkan hati yang lebih sadar.
Muhasabah Diri
Renungkan:
Apakah saya benar-benar merenung, atau hanya terus memikirkan masalah?
Apakah pengalaman hidup membuat saya lebih bijaksana?
Ketika mengalami kegagalan, apa yang pertama kali saya cari: kambing hitam atau pelajaran?
Apakah saya mampu melihat kesalahan diri tanpa membenci diri sendiri?
Apa satu pengalaman terakhir yang belum benar-benar saya pelajari?
Jika kehidupan adalah madrasah, pelajaran apa yang sedang saya abaikan?
Jangan buru-buru menjawab.
Biarkan pertanyaan itu bekerja di dalam hati.
Penutup: Pelita yang Menjaga Langkah
Ibn ‘Aṭā’illāh berkata:
الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ
“Fikrah adalah pelita hati.”
Pelita tidak berjalan menggantikan manusia.
Pelita hanya memberikan cahaya.
Kaki tetap harus melangkah.
Demikian pula fikrah.
Ia tidak menggantikan amal.
Ia menerangi amal.
Ia tidak menggantikan doa.
Ia membantu hati memahami bagaimana menjalani keadaan setelah berdoa.
Ia tidak menggantikan ilmu.
Ia membuat ilmu direnungkan dan dihidupkan.
Ia tidak menggantikan tawakal.
Ia membantu kita melihat dengan lebih jernih apa yang berada dalam wilayah ikhtiar dan apa yang harus diserahkan kepada Allah.
Maka jangan biarkan hidup hanya menjadi rangkaian kejadian.
Jadikan setiap kejadian sebagai bahan untuk mengenal diri, mengambil pelajaran, dan memperbaiki arah.
Sebab hidup yang penuh pengalaman belum tentu penuh hikmah.
Tetapi hati yang mau berpikir dengan jernih dapat mengubah pengalaman menjadi perjalanan.
Dan ketika fikrah menjadi pelita, bahkan peristiwa sehari-hari dapat menjadi jalan untuk semakin sadar kepada Allah.
Kita tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi dalam kehidupan.
Tetapi kita dapat belajar memilih bagaimana hati membaca apa yang terjadi.
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #hikmah #suluk #fikrah #tafakkur #muhasabah #tasawuf #tazkiyatunnafs #perjalananhati #spiritualitas #kajianislam
Tidak ada komentar untuk " Fikrah, Kesadaran, dan Perjalanan Hati"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."