Ketika Kita Merasa Sulit Berubah Pelajaran Al-Hikam tentang Harapan dan Pertolongan Allah
SULUK DALAM II
Bab Suluk: Jangan Menjadikan Kelemahan Diri sebagai Alasan untuk Berhenti
Ada saat ketika seseorang telah mengetahui apa yang salah dalam dirinya, tetapi tetap merasa tidak mampu berubah.
Ia tahu kebiasaan itu tidak baik, tetapi selalu kembali kepadanya.
Ia tahu kemalasan itu menghambat perjalanan, tetapi berkali-kali jatuh ke dalamnya.
Ia ingin meninggalkan keterikatan, tetapi hatinya masih terus mengejar.
Ia ingin memperbaiki ibadah, tetapi kebiasaan lama terasa begitu kuat.
Pada titik tertentu muncul sebuah kalimat dalam hati:
“Sepertinya saya memang tidak akan pernah bisa berubah.”
Kalimat seperti ini tampak sederhana, tetapi dalam perjalanan suluk ia dapat menjadi penghalang yang sangat besar.
Sebab seseorang bukan hanya sedang menghadapi kelemahan dirinya, tetapi mulai meyakini bahwa kelemahan itu tidak mungkin diubah.
Di sinilah Ibn ‘Aṭā’illāh memberikan sebuah peringatan yang sangat dalam.
Hikmah 197
مَنْ اسْتَغْرَبَ أَنْ يُنْقِذَهُ اللَّهُ مِنْ شَهْوَتِهِ، وَأَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُودِ غَفْلَتِهِ فَقَدِ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةَ الْإِلَهِيَّةَ
Artinya:
“Barang siapa merasa aneh bahwa Allah dapat menyelamatkannya dari syahwatnya dan mengeluarkannya dari keadaan lalainya, maka sungguh ia telah menganggap tidak berdaya kekuasaan Allah.”
Hikmah ini bukan sekadar berbicara tentang dosa.
Ia berbicara tentang harapan.
Tentang bagaimana seorang manusia memandang dirinya sendiri ketika berhadapan dengan kelemahan yang sudah lama melekat.
1. “Aku Tidak Bisa Berubah” Bisa Menjadi Hijab
Perhatikan kata:
اسْتَغْرَبَ — istaghraba
Dalam konteks hikmah ini, yang menjadi perhatian adalah sikap merasa aneh atau menganggap sulit dipercaya bahwa seseorang dapat diselamatkan dari keterikatan syahwat dan dikeluarkan dari kelalaian.
Masalahnya bukan bahwa manusia mempunyai kelemahan.
Setiap manusia memiliki kelemahan.
Masalahnya adalah ketika kelemahan itu mulai dianggap sebagai identitas permanen.
“Aku memang pemarah.”
“Aku memang malas.”
“Aku memang tidak bisa istiqamah.”
“Aku memang seperti ini.”
“Aku sudah terlalu jauh.”
“Aku sudah terlalu banyak dosa.”
“Aku tidak mungkin menjadi lebih baik.”
Ketika kalimat-kalimat tersebut berubah dari pengakuan atas kelemahan menjadi keyakinan bahwa perubahan mustahil terjadi, seseorang dapat berhenti berusaha.
Padahal perjalanan suluk justru dimulai dari kesadaran bahwa manusia belum selesai.
2. Syahwat Bukan Sekadar Keinginan Jasmani
Ibn ‘Aṭā’illāh menggunakan kata:
شَهْوَتِهِ — syahwatnya
Syahwat dalam pembahasan tasawuf tidak harus dipahami secara sempit hanya sebagai dorongan seksual.
Ia dapat menunjuk kepada berbagai keinginan yang ketika tidak dikendalikan mulai menguasai hati.
Keinginan untuk dipuji.
Keinginan untuk menang.
Keinginan untuk memiliki.
Keinginan untuk selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.
Keinginan untuk diakui.
Keinginan untuk membalas.
Keinginan untuk mempertahankan ego.
Keinginan untuk mendapatkan kenikmatan tanpa batas.
Keinginan-keinginan itu pada dirinya tidak otomatis menjadi dosa.
Manusia memang diberi berbagai kebutuhan dan keinginan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan tidak lagi berada di tangan manusia, tetapi manusia berada di bawah kendali keinginannya.
Di situlah suluk membutuhkan pembebasan.
3. “Dikeluarkan dari Kelalaian”
Bagian kedua hikmah ini berbicara tentang:
وَأَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُودِ غَفْلَتِهِ
“Dan mengeluarkannya dari keadaan kelalaiannya.”
Ghaflah bukan sekadar lupa dalam pengertian biasa.
Seseorang dapat bekerja, berbicara, beraktivitas, bahkan melakukan banyak ibadah, tetapi tetap mengalami kelalaian hati.
Kelalaian terjadi ketika kehidupan lahiriah menjadi begitu ramai sampai manusia kehilangan kesadaran terhadap arah hidupnya.
Ia sibuk, tetapi tidak tahu untuk apa kesibukannya.
Ia mengejar banyak hal, tetapi tidak pernah bertanya apakah yang dikejar itu benar-benar membawa kebaikan.
Ia mendapatkan banyak hal, tetapi hatinya tidak menjadi lebih tenang.
Ia bahkan dapat memperbanyak amal, tetapi tidak pernah memeriksa keadaan hatinya.
Karena itu, keluar dari ghaflah bukan berarti meninggalkan dunia.
Yang berubah adalah cara hati berada di dalam dunia.
4. Pertolongan Allah Tidak Selalu Berbentuk Keajaiban Seketika
Hikmah ini berbicara tentang kemampuan Allah menyelamatkan manusia dari syahwat dan kelalaian.
Namun jangan memahami hal itu sebagai janji bahwa setiap kebiasaan buruk akan hilang secara tiba-tiba tanpa proses.
Pertolongan Allah dapat hadir melalui banyak jalan.
Melalui kesadaran.
Melalui ilmu.
Melalui teguran.
Melalui kegagalan yang membuat seseorang mau mengevaluasi diri.
Melalui lingkungan yang baik.
Melalui guru atau sahabat yang mengingatkan.
Melalui disiplin.
Melalui doa.
Melalui kesempatan untuk bertobat.
Bahkan melalui proses panjang yang memaksa seseorang belajar mengenali dirinya sendiri.
Karena itu, tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Mengatakan “Allah pasti menolong” bukan berarti kita boleh terus memelihara kebiasaan yang sama.
Justru harapan kepada pertolongan Allah seharusnya membuat kita kembali mencoba.
5. Jangan Menganggap Diri Sudah Ditentukan oleh Masa Lalu
Salah satu perangkap terbesar dalam perjalanan batin adalah menjadikan masa lalu sebagai vonis atas masa depan.
“Aku pernah gagal, maka aku akan selalu gagal.”
“Aku pernah jatuh, maka aku tidak mungkin bangkit.”
“Aku sudah lama meninggalkan ibadah, maka rasanya percuma memulai lagi.”
“Aku sudah terlalu jauh dari Allah.”
Hikmah ini mengajarkan arah yang berbeda.
Jangan mengukur kemampuan perubahan hanya berdasarkan kekuatanmu saat ini.
Manusia memang memiliki keterbatasan.
Tetapi keterbatasan manusia bukan ukuran bagi keluasan kekuasaan Allah.
Di sinilah ungkapan:
فَقَدِ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةَ الْإِلَهِيَّةَ
menjadi sangat kuat.
Seseorang yang menganggap dirinya tidak mungkin berubah dapat secara tidak sadar telah menjadikan kelemahan dirinya sebagai ukuran kemungkinan pertolongan Allah.
Padahal manusia tidak mengetahui sejauh mana perubahan yang dapat dibukakan kepadanya.
6. Tetapi Jangan Menunggu Perubahan Tanpa Melangkah
Ada kesalahan lain yang juga perlu dihindari.
Setelah membaca hikmah ini, jangan sampai seseorang berkata:
“Kalau Allah berkuasa mengubah saya, saya tinggal menunggu.”
Ini bukan semangat suluk.
Harapan bukan pasivitas.
Jika ingin meninggalkan kebiasaan buruk, maka mulai dengan mengurangi pintu yang mengantarkan kepadanya.
Jika ingin mengurangi kemalasan, bangunlah rutinitas kecil.
Jika ingin memperbaiki ibadah, jangan menunggu menjadi sempurna terlebih dahulu.
Jika ingin mengendalikan amarah, belajar mengenali apa yang biasanya memicunya.
Jika ingin mengurangi keterikatan terhadap dunia, mulailah belajar membatasi apa yang memang tidak diperlukan.
Jika ingin kembali kepada Allah, maka kembalilah hari ini, bukan menunggu menjadi manusia yang sempurna.
Pertolongan Allah dapat datang melalui langkah-langkah kecil yang kita jalani dengan jujur.
Makna Lahiriah
Secara lahiriah, hikmah ini mengajarkan agar kita tidak menyerah terhadap kebiasaan buruk.
Ketika seseorang menyadari ada sesuatu dalam dirinya yang perlu diperbaiki, ia perlu:
mengakui masalahnya,
mencari ilmu yang benar,
memperbaiki lingkungan,
membuat kebiasaan baru,
mengurangi pemicu yang membuatnya kembali,
meminta nasihat kepada orang yang terpercaya,
berdoa,
dan terus melakukan evaluasi.
Perubahan yang sehat sering kali bukan perubahan besar dalam satu malam.
Ia dapat berupa perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Hari ini sedikit lebih baik.
Besok jatuh lagi.
Lalu bangkit.
Kemudian mencoba kembali.
Dalam proses seperti itu, istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh.
Istiqamah berarti tidak menjadikan kejatuhan sebagai alasan untuk berhenti pulang.
Makna Batiniah
Secara batin, hikmah ini mengajak kita membongkar satu keyakinan tersembunyi:
“Aku adalah apa yang selama ini menjadi kebiasaanku.”
Padahal manusia bukan hanya kumpulan masa lalunya.
Seseorang dapat mempunyai sejarah yang panjang, tetapi sejarah itu tidak harus menjadi akhir perjalanan.
Karena itu, suluk bukan hanya membersihkan perbuatan.
Suluk juga membersihkan cara kita memandang diri sendiri di hadapan Allah.
Jangan merasa terlalu suci.
Tetapi jangan pula merasa terlalu kotor untuk kembali.
Jangan merasa sudah sampai.
Tetapi jangan merasa tidak mungkin berjalan.
Jangan merasa diri tidak punya kelemahan.
Tetapi jangan menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk menyerah.
Di antara kesombongan dan keputusasaan itulah seorang salik belajar berjalan dengan rendah hati.
Hubungan dengan Bagian XXXI
Pada Bagian XXXI kita berbicara tentang hikmah bahwa Allah mewajibkan ketaatan sebagai jalan yang mengantarkan manusia menuju keselamatan.
Di sana kita belajar tentang disiplin.
Sekarang, Hikmah 197 mengajarkan tentang harapan.
Sebab disiplin tanpa harapan dapat membuat seseorang merasa terbebani.
Sebaliknya, harapan tanpa disiplin dapat berubah menjadi angan-angan.
Maka keduanya perlu berjalan bersama:
Ketaatan memberi arah.
Harapan memberi tenaga untuk terus berjalan.
Kita berusaha karena kita diperintahkan untuk berusaha.
Kita berharap karena kita tidak hanya bergantung kepada kemampuan diri sendiri.
Inilah keseimbangan penting dalam suluk.
Jangan Katakan “Aku Tidak Bisa”
Ada perbedaan antara:
“Aku sedang kesulitan berubah.”
dan:
“Aku tidak mungkin berubah.”
Kalimat pertama membuka ruang bagi ikhtiar.
Kalimat kedua menutup pintu sebelum perjalanan dimulai.
Mungkin hari ini kita belum mampu meninggalkan semuanya.
Tidak mengapa.
Mulailah dengan satu hal.
Mungkin kita belum mampu khusyuk dalam waktu yang panjang.
Mulailah dengan menghadirkan hati beberapa saat.
Mungkin kita belum mampu meninggalkan seluruh kebiasaan buruk.
Mulailah dengan satu kebiasaan yang paling jelas merusak diri.
Mungkin kita belum mampu menjadi manusia yang sabar.
Mulailah dengan belajar menahan satu reaksi.
Suluk tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar.
Kadang suluk meminta kita berhenti membenarkan satu kesalahan yang sudah terlalu lama kita pelihara.
Perspektif Mualif — Kun Alfa
Dalam pandangan Mualif | Kun Alfa | Alfa Media – Sulukk, salah satu penjara paling sulit dibuka bukanlah penjara yang memiliki pintu besi.
Penjara itu adalah keyakinan:
“Aku memang begini dan tidak mungkin berubah.”
Ketika seseorang mempercayai kalimat itu, ia berhenti mengetuk pintu.
Padahal manusia sering kali belum mengetahui seluruh kemungkinan yang Allah bukakan di dalam perjalanan hidupnya.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan akhir perjalanan hanya karena kita sedang melihat kelemahan pada hari ini.
Hari ini mungkin kita masih jatuh.
Tetapi hari ini juga masih tersedia kesempatan untuk bangkit.
Hari ini mungkin hati masih penuh keinginan.
Tetapi hari ini juga masih tersedia kesempatan untuk belajar melepaskan.
Hari ini mungkin kita masih lalai.
Tetapi kesadaran bahwa kita sedang lalai sebenarnya sudah menjadi awal untuk kembali sadar.
Maka jangan menunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah, lalu biarkan perjalanan yang mendidik kita.
Muhasabah Diri
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Kebiasaan apa yang selama ini saya anggap tidak mungkin berubah?
Apakah saya benar-benar sudah berusaha, atau baru berkali-kali mengatakan ingin berubah?
Apakah saya menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti?
Apa satu langkah kecil yang bisa saya mulai hari ini?
Apakah saya lebih banyak memandang kelemahan diri daripada berharap kepada pertolongan Allah?
Apakah harapan saya kepada Allah sudah berjalan bersama ikhtiar yang nyata?
Tidak perlu menjawab semuanya dengan kata-kata.
Kadang jawaban terbaik adalah sebuah tindakan kecil.
Penutup: Masih Ada Jalan untuk Pulang
Hikmah 197 mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana tetapi dalam:
Jangan menganggap perubahan sebagai sesuatu yang mustahil hanya karena dirimu sedang lemah.
Syahwat dapat dilatih untuk dikendalikan.
Kelalaian dapat disadari.
Kebiasaan dapat diperbaiki.
Hati dapat dididik.
Dan manusia dapat terus kembali.
Namun semua itu tidak berarti kita boleh pasif.
Kita tetap harus berjalan.
Tetap berusaha.
Tetap belajar.
Tetap bertobat.
Tetap memperbaiki diri.
Sebab seorang salik bukan orang yang tidak pernah jatuh.
Seorang salik adalah orang yang setiap kali menyadari dirinya jauh, ia kembali mengambil arah.
Jangan jadikan kelemahan hari ini sebagai vonis atas seluruh hidupmu.
Karena perjalanan kepada Allah bukan hanya tentang seberapa jauh kita telah berjalan.
Tetapi juga tentang seberapa sering kita mau kembali ketika tersesat.
Dan selama hati masih mau kembali, perjalanan belum berakhir.
Penulis : Mualif | Kun Alfa | Alfa Media - Sulukk
#sulukk #sulukk.my.id #alfamedia #kangpangudar #kipangudarjati #tasawufjawa #kejawenislam #mualif #kunalfa #alhikam #ibnataillah #hikmah #suluk #tasawuf #tazkiyatunnafs #muhasabah #spiritualitas #islam #kajianislam
Tidak ada komentar untuk "Ketika Kita Merasa Sulit Berubah Pelajaran Al-Hikam tentang Harapan dan Pertolongan Allah"
Posting Komentar
"Silakan tulis komentar dengan sopan, santun, dan relevan dengan isi artikel. Komentar yang mengandung unsur SARA atau spam akan dihapus."